Bab-34

59.5K 1.8K 49
                                        

Hari ini, Mysha sudah di perbolehkan pulang oleh dokter, hanya saja wanita itu harus banyak istirahat, mengingat janin di dalam rahim nya, masih begitu rentan, akan terjadi keguguran nanti nya.

Walaupun sudah diizinkan pulang, Mysha harus tetap mengonsumsi vitamin yang dianjurkan oleh para dokter.

Oleh karena itu, disini lah Bima sekarang, di apotek rumah sakit, untuk menebus vitamin istri kecilnya.

Resep sudah ia serahkan, ia hanya sedang menunggu para apoteker itu memanggilnya, karena itu, Bima sibuk dengan ponsel nya.

Namun, ditengah kesibukan dengan ponsel nya, seseorang memanggilnya membuat Bima menoleh.

"Hallo Bima, " sapa orang itu, membuat Bima yang tidak tahu siapa dirinya, mengerutkan dahinya bingung.

"Pasti tidak ingat dengan saya, " ujar pria itu, yang tentu Bima angguki. Karena faktanya, dia memang lupa dengan pria yang menyapa nya ini. "Saya Vikra Djaya, " ucapnya memperkenalkan diri, sambil menyodorkan tangan nya pada Bima, mengajak bersalaman. "Kita, pernah satu proyek sekitar 6 atau 5 tahun lalu, " lanjut nya.

"Astaga, Djaya. Maaf, saya lupa dengan anda. Banyak berubah dari anda saya lihat, " ujar Bima membalas jabat tangan pria itu.

"Ya, pengobatan memang merubah penampilan saya 75%," ujar nya, sambil menganggukkan kepala nya, membenarkan apa yang diucapkan Bima tentang penampilan nya.

"Oh, anda lagi menjalankan pengobatan? " tanya  Bima lagi.

"Ya, pengobatan kanker tulang belakang, yang entah kapan muncul nya tapi membunuh saya secara perlahan, " ujar suara itu, dengan pelan.

Bima menganggukkan kepala nya mengerti, lalu memberikan semangat, entahlah sejak tahu akan memiliki seorang anak, dia mudah sekali tersentuh. "Saya yakin, suatu penyakit ada obatnya. Dan saya harap, bapak bisa sehat, karena keluarga bapak, pasti menantikan kesembuhan bapak itu. Dan mereka, tidak ingin kehilangan"

"Ya, hanya anak saya yang menantikan kesembuhan saya. " Bima menganggukkan kepala nya, anak adalah salah satu alasan orang tua untuk bertahan.

Saat ingin memberikan kalimat semangat lagi, namanya sudah di panggil untuk menebus obat. Membuat dirinya mau tak mau berdiri, untuk mengambil obat itu.

Setelah mengambil obat, dia berencana berpamitan pada Vikra.

"Sa--"

"Istri anda hamil pak? " Ketika Bima belum menyelesaikan kalimat nya, Vikra sudah terlebih dahulu memotong nya.

"Ah, iya. "

"Selamat, pak. Saya sering melihat berita bapak dan istri tentang anak. Saya salut dengan kesabaran dan kesetiaan kalian satu sama lain, hingga Tuhan memberikannya anak yang selama ini kalian nantikan itu. Semoga lancar sampai persalinan."

Ucapan Vikra itu, sungguh menjadi tamparan keras bagi Bima. Kesetiaan? Ah, dia menodai kesetiaan itu. Sungguh kesetiaan yang diucapkan oleh Vikra itu sudah terkikis.

"Ha iya. Terimakasih pak, doa nya. Dan, bapak juga semoga cepat sembuh, " ujar Bima, mendoakan. "Kalau begitu, saya izin pamit dulu ya, istri saya menunggu. "

Ucapan Bima itu, dibalas anggukan oleh Vikra. Setelah itu, dua pria dewasa itu berpisah.

***

Tiwi tiada henti nya menebar senyumannya, sejak semalam, ah bukan. Sejak dia mendapatkan kabar dari orang suruhan nya tentang Mysha.

Menurut orang suruhan nya itu, Mysha sedang hamil, hal itu dibuktikan dengan wanita itu yang jatuh pingsan, lalu dilarikan ke rumah sakit.

Kabar itu, memang membuat Tiwi panik, hingga berencana memarahi Bima, karena tak becus merawat istrinya.

Mysha(21+) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang