Ketika Mysha dalam ruang pemeriksaan, Bima sama sekali tidak meninggalkan istri kecilnya itu. Bahkan pria itu, tak mereka setiap gerak tangan sang dokter yang sedang memeriksa kesehatan istri kecilnya itu.
"Sudah diperiksa ke dokter kandungan, pak? Anaknya? " tanya Dokter yang sedang memeriksa kondisi Mysha itu, pada Bima.
Bima yang mendengar pertanyaan Dokter itu mengerutkan dahinya, begitu tak suka.
Apakah dia terlihat begitu tua, saat berdampingan dengan Mysha? Bahkan tubuhnya juga bagus, tidak memiliki perut buncit. Kenapa dokter itu mengatakan Bima seorang ayah.
Atau, wajahnya istrinya yang terlalu imut, dan saat Bima melihat sang istri yang masih terlelap itu. Dia memang begitu muda untuk Bima yang tua ini.
Apalagi, tadi wanita itu berkata kalau keponakan nya mengatakan dia imut. Uh, itu sungguh menyebalkan.
"Apa wajah saya setua itu? " tanya Bima, dengan tangan yang terlipat di perut, menatap tajam pada dokter itu, yang sekarang menatap dirinya gugup.
"Oh, maaf Pak. Saya tidak tahu, kalau nona ini istri bapak. Saya pikir anak bapak, " ujar nya, meminta maaf.
Mendengar ucapan itu, membuat Bima berdecak, setelah itu, ia kembalikan pembicaraan, tentang dokter kandungan yang diucapkan oleh dokter umum itu. "Apa maksud dokter kandungan yang anda bicarakan? "
"Ini hanya perkiraan saya saja. Seperti nya ibuk hamil, dan untuk memastikan bapak bisa membawa ibu ke dokter kandungan, " ujar nya, dengan hati-hati.
Sambil mengganti panggilan Mysha yang tadinya nona menjadi ibuk. Menyesuaikan dengan Bima.
Mendegar perkiraan itu, ada senyum tipis yang Bima tampilkan, orang lain mungkin tak akan sadar. Jika dia tidak fokus menatap Bima.
"Oke. Jadi, sekarang apa yang harus dilakukan. Agar dia bangun? " tanya Bima, sambil menunjuk ke arah Mysha.
"Ibuk cuma butuh istirahat. Mungkin karena hamil muda dia mudah kelelahan. Jadi, bapak cuma butuh menunggu ibuk bangun, untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi, " ujar sang dokter.
Bima hanya menganggukkan kepala nya, memahami. "Oke. Sekarang, silahkan keluar. " Usir Bima, dengan nada tidak sopannya.
Setelah mendengar perintah Bima itu, dokter itu keluar dari ruang pemeriksaan Mysha. Meninggalkan pasangan suami istri itu.
Setelah melihat dokter itu pergi, Bima berjalan menuju Mysha, duduk di samping wanita itu.
Tangan Bima segera meraih tangan Mysha. Untuk digenggam nya. Dia hanya mengenggam dengan satu tangan, karena tangan yang lain ia gunakan untuk menyentuh perut Mysha yang terlihat masih begitu datar itu.
Ada perasaan hangat yang muncul dari dalam diri Bima saat menyentuh perut datar itu. Perasaan yang tak pernah ia rasakan, tapi entah kenapa begitu membangga-banggakan di matanya sekarang.
Namun, saat Bima saat masih memandangi perut itu, ruang pemeriksaan Mysha terbuka, menampilkan asisten nya yang sekarang sedang memegang ponsel.
"Biasa kan ketuk pintu. Apakah kamu tidak di ajarkan sopan santun? " tanya Bima dengan nada tajam nya.
"Maaf tuan. Nyonya Aulia menghubungkan, " ujar nya dengan menunduk, tampaknya asisten itu sadar telah melakukan kesalahan.
"Tuan tidak membawa ponsel, karena itu beliau menghubungi saya, " lanjut nya, memberitahu.
Mendengar penjelasan asisten nya itu, Bima menganggukkan kepala nya, mengerti. Dengan tatapan nya, dia menyuruh asisten nya itu, untuk mengantarkan ponsel nya ke tangan Bima.
Tampaknya asisten nya pun mengerti, jadi dengan langkah tak cepat namun ligat itu, dia menyerahkan ponselnya pada Bima.
Saat ponsel sang asisten sudah berada di tangannya, Bima menyuruh sang asisten untuk pergi, hanya menggunakan matanya saja.
Paham maksud sang Tuan, asisten nya itu pun pergi. Meninggalkan ponselnya bersama sang tuan.
"Gimana? Apa dia sudah hamil? Aku tahu kamu lagi di rumah sakit, " ujar Aulia langsung, saat panggilan di antara mereka terhubung. "Misi kita sebentar lagi, Mas. "
Mendengar ucapan Aulia itu membuat Bima tertegun. Teringat dengan misi yang dia lakukan bersama istri nya, Aulia. Sewaktu acara keluarga. Misi yang mereka lakukan secara mendadak, untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan.
"Mas. Kamu nggak lupa dengan janji mu kan? Kamu hanya akan mendekat dengan dia, kalau dia sudah hamil. " lanjutnya, mengingatkan Bima atas janji nya.
"Dia belum tentu hamil. " Bima mengatakan itu, sambil melihat ke arah Mysha yang masih terbaring itu.
"Dia pasti hamil. Kan, kamu sendiri yang bilang kalau dia sehat, bisa hamil. Jadi, setelah berhubungan dengan begitu lama, apa yang tidak memungkinkan bagi dia untuk hamil? " Aulia menolak apa yang dikatakan Bima kepada nya itu.
"Kita juga sehat, tapi kita belum juga memperoleh anak, Aulia, " ujar Mysha, dengan nafas yang memberat.
"Mas, kamu tahu kan, aku tidak sesehat itu. Makanya kita belum dapat anak, ka--"
"Oke, aku hanya ingin anaknya. " Bima segera memotong ucapan Aulia, tak ingin timbul lagi perdebatan antara dirinya dan sang istri.
"Aku tutup dulu. Setelah dia bangun, akan ku pastikan, " lanjut nya, memutuskan untuk mengakhiri panggilan dengan sang istri.
Lalu, tanpa aba-aba dia langsung memutuskan panggilan, dan melemparkan ponsel asisten nya itu ke dinding, tak peduli ponsel asisten nya itu hancur, karena ia lempar.
Tangannya terkepal dengan nafas yang memburu. Sebelum gumaman seseorang, membuat dirinya menoleh.
Disana Mysha tampaknya sudah terbangun, dengan tangan yang berada di kepala, mungkin istri kecilnya itu masih mengalami pusing, karena pingsan itu.
Karena sadar, sang istri membutuhkan dirinya, Bima segera mendekat untuk membantu wanita itu duduk.
"Dimana? " tanya Mysha, dalam kondisi yang masih menyesuaikan diri itu.
"Rumah sakit, " ujar Bima, membantu wanita itu untuk duduk.
"Kenapa? Kelelahan ya? Lagian udah tahu aku mageran, malah di suruh olahraga, gini kan jadinya. " Baru bangun, tapi Mysha malah mencerocos tak karuan, membuat Bima yang mendengar nya berdecak.
"Kamu bahkan baru berlari di atas treadmill tidak sampai 5 menit, " gumam Bima, lalu meraih gelas minum yang ada di samping nakas Mysha, dan memberikannya ke wanita itu.
"Minum dulu, " potong Bima, saat Mysha akan kembali membuka suaranya.
Dengan tampang cemberut nya, Mysha meraih gelas yang Bima sodorkan itu. Meminum setengah gelas air yang ada di sana.
Setelah itu, kembali menyerahkan nya kepada Bima, dan pria itu juga meletakkan kembali gelas itu di atas nakas.
"Masih pusing? " tanya Bima, sambil menyentuh dahi Mysha, membantu wanita itu untuk memijat kepala nya yang pusing itu.
"Istirahat saja dulu, nanti ada pemeriksaan lanjutan yang harus di lakukan, setelah kondisi kamu baik-baik saja, Sabrina, " ujar Bima kepada istri kecilnya itu.
"Pemeriksaan lanjutan? Orang cuma pusing juga. Jadi, ngga perlu pemeriksaan lanjutan. " Kesal Mysha mendengar ucapan Bima itu.
"Jangan banyak bicara, lebih baik istirahat sekarang, "Ujar Bima dengan tegas, tak ingin di bantah sama sekali.
Mendengar nada bicara seperti itu, membuat Mysha mendengus sebal. Lalu kembali mengistirahatkan tubuhnya, yang memang masih begitu lemas itu.
Sedangkan Bima, kembali duduk di samping Mysha.
T. B. C
KAMU SEDANG MEMBACA
Mysha(21+)
ChickLitSemua orang tahu, seberapa tak suka nya Sabrina Mysha dengan dosennya yang bernama Bima Wiratama Surya. Karena pria itu selalu menatap tajam kearah nya ditengah jam perkuliahan berlangsung. Dan, karena satu kondisi, dia harus menjebak dosennya itu...
