Bab-38

52.5K 1.9K 185
                                        

Mysha mengernyitkan dahi nya, heran. Menatap jam di dinding apartemen sudah menunjukkan jam 8 malam.

Seharusnya, di jam segini, Bima sudah pulang dari kantor kan? Bahkan biasanya pria itu tidak ke kantor, hanya kekampus saja.

Ya, Mysha sudah tahu kalau suaminya itu, memiliki dua jenis pekerjaan, yang di mana di pagi hari dia akan berada di kampus menjadi dosen, dan siang menjadi seorang CEO yang berada di kantor.

Tapi, bisa saja dia menjalankan satu pekerjaan sehari itu, dan itu sudah terjadi dua minggu terakhir. Dimana senin dia ke kampus, dan selasa ke kantor, begitu seterusnya.

Tapi, kenapa berbeda?

Maksudnya, dua hari ini kenapa Mysha merasakan perbedaan.

Apa ini menyangkut ayahnya? Pagi hari, bahkan Mysha tidak menemukan pria itu di sekitarnya. Padahal biasanya pria itu hadir memeluknya. Menunggu dirinya bangun, lalu kenapa ini berbeda? Sungguh, Mysha bertanya-tanya.

Bagaimana tidak bertanya-tanya, dia merasa hubungan baik-baik saja, bahkan Mysha sudah berencana untuk merelakan hidup nya bersama Bima, walaupun tujuan membuat pria itu kesal masih ada.

Maksudnya merelakan hidup disini, tidak masalah dia disembunyikan, asal bisa hidup bersama Bima, memang ini terjadi begitu cepat. Tapi, hati manusia mana ada yang tahu.

"Bahkan, telfon gue nggak diangkat, " ujar Mysha dengan nada kesal, namun suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.

Ini, sudah panggilan ke 8 malam ini, kalau untuk hari ini, Mysha tidak mengingatnya. Dan, Mysha berharap, panggilan ini diangkat oleh suaminya itu. Sungguh Mysha dan anak mereka rindu.

Tampaknya, Tuhan sedang menyayangi mereka berdua, karena panggilan itu diangkat oleh pemilik nomor.

"Ma--"

"Ada apa Mysha? Kenapa kamu mencari suami saya, di saat suami saya tidak ingin lagi berhubungan dengan kamu, kecuali tentang anak itu yang akan kami ambil, " ujar suara itu, memotong ucapan Mysha.

Suara yang bukan milik Bima, dan Mysha cukup sadar kalau ini suara istri pertama suaminya, Aulia, dan perkataan Aulia di telfon itu, membuat Mysha reflek menyentuh perutnya, seolah melindungi sang anak yang di ambil oleh orang lain.

"Tan-te, " ujar Mysha gugup.

"Hai, kaget ya, denger ucapan saya? Tapi, kamu akan lebih kaget mendengar apa rencana saya dengan suami saya. Tak sabar melihat wajah kaget mu itu, Mysha. Akan saya ungkapkan semua nya, tapi tidak sekarang. Jadi, kapan bisa bertemu? " ujar Aulia, dari seberang sana.

Namun, saat Mysha akan menjawab, dia mendengar gumaman dari seberang sana. "Sayang."

Suara yang membuat hati Mysha memberontak marah. Ah dia marah, dia tidak terima dengan semua ini.

"Sudah dulu ya, Mysha. Nanti, saya hubungi lagi, untuk minum kopi bersama, " ujar nya, lalu memutuskan panggilan sepihak.

Setelah panggilan itu terputus, Mysha hanya bisa tertegun, dia merasa ini kesalahan.

Mereka saling menghancurkan dengan senjata sendiri, bukan Mysha yang membuat mereka menjadi korban, tapi dirinya yang dijadikan korban.

Menyadari itu, membuat tangan Mysha mengepal, sungguh menahan amarah.

"Sial! " umpat Mysha, sebelum melangkahkan kaki nya ke kamar untuk beristirahat, meredakan rasa sakit yang ia terima.

***

"Bagaimana keadaan mas saya, dok, " ujar Lena, pada dokter yang baru saja memeriksa kesehatan Edwin.

"Beliau sudah melewati masa kritis nya, setelah operasi, Bu, " ujar sang dokter, membuat Lena menganggukkan kepala nya, mengerti.

"Tenang sana, Lena. Saya yakin mas mu akan sembuh, dia sudah berjanji untuk mengajak saya dan mengenalkan saya pada putri saya, " ujar suara yang sejak tadi berdiri di belakang Lena, memperhatikan.

Lena yang mendengar ucapan pria itu, segera menoleh. "Pak, saya juga mau ngucapin terimakasih, karena tanpa bapak, saya tidak tahu harus berbuat apa untuk mas saya. Hanya dia yang saya miliki di dunia ini, " ujar nya.

Lena mengatakan itu, setelah menyadari bahwa di dunia ini, dia hanya memiliki Edwin. Kesalahan nya yang tidak menikah lagi, setelah suami nya meninggal, karena kecelakaan di tempat kerja.

Padahal, saat itu, Lena belum memiliki keturunan, dan dia lebih memilih membesarkan Mysha, bukannya dia menyesal membesarkan Mysha, tapi dia hanya baru menyadari, bahwa dia hanya tinggal berdua.

"Ck, kamu sudah mengatakan itu berulang kali, Lena. Sejak kemaren, saya sudah bosan mendengar nya. "

Ujar orang itu, geleng-geleng kepala.

"Saya harus ke kantor, semoga Edwin segera sadar. "

Mendengar doa itu, Lena mengaminkan dari dalam hatinya.

Ya, dia pria yang mengetuk pintu rumah nya hari itu, hari dimana mas nya, jatuh pingsan, hingga membuat pria itu harus mengalami tindakan operasi.

Kesehatan nya, juga masih belum normal. Jadi, belum bisa keluar dari rumah sakit. Tapi, pria itu, selalu ada, untuk menemani dan membiayai perobatan yang mereka lakukan.

***

Tiwi mengerutkan dahinya, saat melihat Rendy yang biasanya jarang sekali menginjakkan tubuh nya di rumah utama, berada di sini.

"Ada hal apa yang bikin kamu bisa ada disini? " tanya Tiwi langsung, kepada cucu nya itu.

Orang yang tadi nya sibuk dengan dunia nya, setelah mendengar ucapan oma nya itu, langsung menolehkan kepala nya.

"Oma, " Panggilannya dengan pelan.

"Kenapa? Bikin masalah baru lagi, kamu? " tanya Tiwi, sambil duduk di samping cucu laki-laki nya itu.

"Ih, kok ngomong nya gitu, sih oma? Kek aku sering bikin masalah aja, " omel Rendy, tak suka mendengar ucapan yang penuh kejujuran oma nya itu.

"Bukan sering lagi. Tapi, masalah sama kamu itu, udah satu paket, yang tidak bisa di pisahkan, " ujar Tiwi.

Mendengar ucapan Tiwi itu, ingin sekali Rendy mengumpat, tali tak bisa ia lakukan. Jadi, dia menarik nafasnya kasar, sambil menyandarkan tubuh nya di sofa.

"Jadi, kamu kesini kenapa? "

"Hmm, seperti nya, yang oma omongin bener, deh. Aku cuma bisa bikin masalah, " ujarnya, tampaknya mulai serius.

Tiwi pun hanya bisa mendengarkan curahan isi hati cucu nya itu.

"Aku lagi patah hati, pusing banget. Pacarku, maksud ku cewek yang sekarang udah jadi mantanku. Oma ingat kan cewek yang ku bawa kesini itu? Dia menghilang, aku pusing banget nyarinya, " ujar  Rendy, yang membuat Tiwi menganggukkan kepala nya, tahu.

Bagaimana tidak tahu, itu menantunya.

"Terus, masalah nya dimana? "

"Aku cari dia dimana-mana, sampe stres oma. Itu masalah nya, bisa nggak oma tolong cariin? Minta orang oma untuk cariin, " ujarnya, sambil meraih tangan Tiwi.

Tiwi yang melihat kelakuan cucu nya itu, hanya mengangkat alisnya. "Yang mutusin siapa? "

"Dia, " ujar Rendy dengan lesu.

"Kalau gitu, dia udah nggak mau sama kami itu. Biarin aja, masih banyak cewek diluar sana, dan mungkin ini karma juga buat kamu, dulu sering mainin cewek, " ujar Tiwi.

"Oma, ah. Bukan gitu juga, aku juga kasihan sama dia, dia itu anak beasiswa. Terus, gimana kuliahnya, tiba tiba berhenti gini? "

"Mungkin dia cuti. Udah jangan mikirin itu, pikirin aja kuliah kamu, kamu harus bisa meneruskan perusahaan ayah mu, Rendy. "

Setelah mengatakan itu, Tiwi langsung pergi, meninggalkan Rendy yang masih di landa rasa galau itu. Hingga memilih tiduran di sofa.

T. B. C

Hari ini, update nya cepat, tapi komennya juga harus banyak. Ketemu minggu yaa

Mysha(21+) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang