Bab-18

118K 1.6K 24
                                        

Mysha dengan sabar menunggu pesan yang akan dikirim Bima itu, tapi 5 menit, 10 menit bahkan 20 menit telah berlalu.

Tapi pria itu, masih belum mengirim kannya pesan. Jangan kalian kira Mysha tak menelfon nya lagi.

Mysha sudah melakukan nya itu, tapi apa? Nomor nya sama sekali tidak bisa dihubungi. Mysha berjanji pada diri nya sendiri. Jika bertemu nanti dengan pria itu, akan Mysha buat dia kehabisan nafas, karena telah membuat Mysha menunggu lama.

Disaat Mysha masih fokus dengan ponsel di tangan nya, bunyi klakson ponsel cukup membuat dirinya kaget.

Bahkan, ponsel ditangan nya, hampir lepas dari tangan nya.

Saat Mysha mendongakkan kepalanya, untuk melihat siapa yang telah membuat Mysha senam jantung, ternyata seorang pria dengan pakaian seperti supir, yang keluar dari pintu kemudi.

"Bisa gunain klakson dengan baik nggak sih? Polusi suara tahu!! " sembur Mysha langsung, saat melihat pria itu, berjalan ke arah nya.

Sedangkan sang pria, yang sadar dirinya salah, segera menundukkan kepalanya. "Maaf, Nyonya. Saya, tadi ingin mengambil sesuatu, tapi tak sengaja tangan saya menyentuh klakson. "

Pernyataan pria itu, tentu tak Mysha pecaya, dikira Mysha bodoh apa. Tapi, lebih dari itu, Mysha kaget mendengar panggilan pria itu kepada nya.

Nyonya? Apa Nyonya? Ha? Apa dia menikah dengan majikan pria itu, ada dia terlihat tua makanya dipanggil, nyonya?

Seharusnya, nona bukan? Lalu, kenapa bisa Nyonya?

"He! Kapan gue nikah sama majikan lo? Atau, apa tampang gue, kelihatan tua?! " Semprot Mysha, lagi-lagi. "Dan, ngapain lo disini? Pergi sana! Gue lagi kesal, yaaa! "

"Maaf, Nyonya. Saya disuruh oleh Tuan, untuk menjemput, anda, " ujar supir itu, dengan kepala menunduk.

Seperti nya, takut sekali, dengan kalimat yang ia keluarkan. Atau, takut dengan semprotan yang Mysha berikan.

Ya, pemikiran terakhir, sepertinya memang benar adanya.

"Hua, bukan jemput. Tapi, mau jual gue kan? Sama mucikari? " ujar Mysha, sembarangan.

Sedangkan si supir itu. Hanya meringis pelan, mungkin hatinya berbisik, wanita seperti apa yang tengah berurusan dengan tuan nya ini.

"Sa---"

Ucapan supir itu terhenti, ketika ponsel yang berada di tangan Mysha berdering. Dan, wanita itu, juga memberikan lima tangan nya, untuk mengatakan pria itu, harus berhenti berbicara.

"HEH! GUE UDAH JAMURAN NUNGGU ALAMAT YANG LO KIRIM! MANA ALAMAT NYA! WOI! " teriak Mysha langsung, tak peduli lagi dengan cara dan nada suara nya.

Karena, sekarang yang ia butuhkan hanya melepaskan rasa kesalnya.

"Bisa bicara dengan nada rendah? " ujar suara itu dengan tegas, dari seberang sana.

"NGGAK BISA, NGGAK BISA. GUE UDAH CAPEK YAA! "

Seperti nya, Mysha masih belum ingin melembutkan nada suara nya.

"Saya memang tidak mengirimkan alamat kepada kamu, karena saya rasa kamu tidak tahu dengan alamat ekslusif yang saya berikan. "

Oke, apa pria itu baru saja merendahkan Mysha? Mysha dapat merasakan, pria itu mengatakan, dirinya miskin. Sial sekali pria ini.

"Karena itu, saya mengirimkan supir kepada mu. Seharusnya dia sudah datang, untuk menjemput kamu, " lanjut nya, membuat Mysha yang tadi ingin angkat bicara.

Menoleh kepada pria yang sedari tadi berbicara dengan nya, atau lebih tepat nya, orang yang Mysha jadikan pelampiasan atas rasa kesal yang ia terima.

"Tunggu, tadi lo ngomong tuan. Siapa tuan lo? " tanya Mysha, pada supir itu.

"Bima Wiratama Surya, " ujarnya dengan tegas.

"Dia sudah datang, bukan? Kamu ikut dia, saya masih ada kerjaan. Dan, kita akan ketemu nanti, setelah urusan saya selesai, " ujar Bima.

Lalu, segera mematikan sambungan nya, membuat Mysha mendengus kesal. Lalu menatap pria yang menjemput nya itu.

"Tuan lo, benaran si Bima itu? " tanya Mysha, masih tak percaya, tapi pria itu, membalasnya dengan anggukan kepalanya. Mengiyakan.

"Sumpah ya, dia ngeselin. Dia baru aja bilang, gue miskin. Pake bilang, alamat yang dia kasih, nggak bakal gue ketahui. Emang tua bangka, ya. "

Mysha mengutarakan isi hatinya , sambil bersungut-sungut, kesal. "Cepat bukain pintu nya, badan gue, udah capek. Cepat antar kesana! " ujar Mysha lagi, sambil berjalan menuju mobil, dengan langkah yang dihentak-hentakkan.

Si supir pun, bergerak cepat. Setelah mendengar perintah yang Mysha berikan itu.

Setelah Mysha masuk di kursi belakang. Supir bergerak cepat, menuju kursi pengemudi nya.

Mobil pun, mulai berjalan meninggalkan kawasan, tempat Mysha menunggu tadi. Bergerak, menuju apartemen yang Bima berikan kepada nya itu.

***

Dengan langkah lebarnya, Aulia mengikuti langkah kaki Pertiwi Surya, dalam kegiatan berbelanja bahan makanan.

Sebenarnya ini, menyenangkan. Jika hanya mereka berdua yang pergi, tapi semua nya, terasa menyebalkan saat Dewi Surya ikut.

Sebenarnya, tak masalah dengan Dewi yang ikut. Tapi, Aulia hanya kesal. Jika wanita itu, terus saja menyinggung soal anak.

Seperti kali ini. Saat mereka tak sengaja, melewati perlengkapan bayi. "Kalau kamu sudah punya anak, kan enak berburu ini. Apa sih, pake acara ditunda-tunda. Bima juga sudah siap, kan? "

Mendengar ucapan itu. Membuat Aulia hanya bisa tersenyum tipis, ingin mengamuk. Tak bisa ia lakukan. Sial sekali bukan?

Oh ya, kenapa keluarga Surya berbelanja besar-besaran? Karena, akan ada acara besar dengan mengundang anak-anak yang kehilangan ayah ibunya. Hmm, bisa dibilang kegiatan berbagi.

Tak ada pemesanan catering, karena keluarga Surya, memilih untuk memasak sendiri. Karena itu, m terlebih dahulu, berbelanja bahan baku nya.

Dan untuk kegiatan memasak, akan dilakukan oleh seluruh keluarga Surya, baik itu menumis, menggiling serta memberi takaran bumbu pada masakan yang dihidangkan.

Untuk para pelayan, hanya membantu dalam kegiatan kebersihan.

Terlihat aneh, tapi ini lah keluarga Surya. Kalau, dalam kegiatan berbagi, semua nya harus berasal dari tangannya sendiri.

Sebenarnya untuk makanan juga dulu nya seperti itu, tapi karena ada beberapa wanita keluarga Surya yang tidak bisa memasak. Jadi, para pekerja dapur diadakan.

Lebih baik merubah sedikit tradisi, daripada meninggal, bukan?

"Kamu, sudah bilang pada Bima, akan menginap di rumah utama Aulia? " tanya Tiwi Surya, saat keduanya, sibuk memilih buah-buahan segar.

Aulia yang ditanyakan seperti itu, menganggukkan kepala nya, pertanda sudah ia lakukan. "Sudah Bunda. Sudah aku lakukan. Tapi, Mas Bima, sedikit pulang malam, karena ada urusan. "

Pertiwi yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala nya. Tanda memahami.

Setelah itu, kegiatan memilah bahan makanan yang layak di gunakan, terus berlanjut.

Yang membayar semua belanjaan tentu Pertiwi Surya. Setelah melakukan pembayaran, barulah para bodyguard membawa nya masuk ke dalam satu mobil, yang memang sengaja di peruntukan, ketika berbelanja.

Semua wanita tidak langsung pulang, karena memilih untuk mengisi perut dulu, setelah seharian, mengelilingi tempat belanja.

Tapi, barang-barang belanjaan mereka. Sudah berangkat menuju rumah utama.

T. B. C

Mysha(21+) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang