Mysha menahan nafas saat tangan Bima sudah menyentuh resleting gaun nya.
Ini bukan pertama kali dia bersentuhan dengan pria, dan dengan Bima pun bukan yang pertama. Tapi, Mysha masih dilanda oleh rasa gugup nya.
Mata mereka bertemu di cermin yang menampilkan Mysha yang berada di depan Bima.
Mysha kembali menahan nafasnya, saat Bima mendekat kan bibir nya pada punggung Mysha yang terbuka itu.
Dan pria itu, mulai melabuhkan ciuman basah pada punggung putih dan bersih Mysha itu.
Tak hanya satu, tapi berulang kali.
Dan sekarang, Mysha hanya bisa memegang erat pinggiran meja itu.
Ah, gelora dalam dirinya mudah sekali terbakar. Bahkan hanya dengan sentuhan biasa.
Padahal dulu biasa saja, lalu kenapa sekarang berbeda?
"Ouhh, " lenguh Mysha, saat merasakan kulit punggung nya dihisap oleh pria itu.
Ah, kenapa begini? Bukannya tadi hanya menurunkan resleting gaun nya?
Lalu, tangan Bima bergerak menurunkan gaun Mysha. Karena,resleting gaun sudah ia turunkan sedari tadi. Jadi, saat gaun itu jatuh ke lantai. Tatapan mereka langsung bertemu melalui cermin.
Dan, tanpa aba-aba, Bima segera membalikkan tubuh Mysha, memberikan ciuman kasar pada bibir yang sedari tadi ingin ia lahap.
Walaupun di altar sempat merasakan. Tapi, Bima tetap ingin merasakan lagi. Bibir merah menggoda dan begitu manis, entah sejak kapan ia sukai.
Karena ciuman kasar dan terburu-buru itu, Bima dapat merasakan Mysha sulit mengimbangi ciuman dari nya.
Padahal, mantannya banyak. Dan dia tahu mereka tak mungkin tidak melewati bibir menggoda ini.
Ah, mengingat berapa banyak bibir pria yang menikmati bibir Mysha, dia merasa kesal sendiri. Padahal dia sendiri yang mulai mengingat.
Untuk melampiaskan rasa kesalnya. Bima memperdalam ciuman yang ia berikan itu.
Mengerti bahwa Mysha sudah kesulitan dalam mengambil nafas, barulah Bima melepaskan tautan bibir mereka.
Lalu, bukan nya membiarkan Mysha menghirup udara dengan tenang. Tapi Bima kembali menjatuhkan bibir nya di perpotongan leher Mysha. Untuk meninggalkan jejak kepemilikan pada wanita itu.
Oh, tak pernah terfikir oleh nya, mahasiswa yang selalu ia tatap dengan kesal, sekarang menjadi istri nya. Oh sial, istri kecil nya. Tak ada bagian dirinya yang tak indah. Karena semua nya begitu indah di mata Bima. Tapi, apakah boleh Mysha mengetahui pujian itu? Tentu tidak, dia tak ingin membocorkan kalau dia menganggumi istri kecil nya itu.
Bima dapat juga merasakan tangan wanita itu, meremas lengan kokoh nya, untuk melampiaskan apa yang Bima berikan pada tubuh wanita itu. Tangan kecil itu, melingkari lengan kokoh nya.
Bima juga baru menyadari tangan istri kecil nya itu kecil, saat tangan mereka saling bergandengan tadi.
Jadi, tak hanya umur dan tubuh nya yang kecil, tapi jari tangan wanita itu juga kecil. Sungguh menarik.
Lalu, setelah puas memberikan tanda kepemilikan di sepanjang leher istri kecil nya. Bima lalu melepaskan nya, dan kembali menatap Mysha yang sekarang sudah terengah-engah. Karena semua yang didapatkan oleh tubuh nya.
Lalu, tanpa aba-aba, dengan satu tangannya. Bima mengangkat tubuh kecil Mysha itu ke atas meja wastafel.
Mysha cukup terkejut dengan Bima yang mengangkat tubuh nya, karena itulah wanita mungil itu memegang pundak Bima dengan kencang.
Dia takut jatuh, apalagi pria itu hanya mengangkat tubuh nya dengan satu tangan. Walaupun besar, tetap saja Mysha takut, takut tulang didalam nya sudah rapuh, karena usia pria itu sudah tua.
Tentu, setelah Mysha berada diatas meja. Permainan tak berakhir bukan? Karena Bima terus memberikan sentuhan menggoda pada tubuh mungil itu. Apalagi, tubuh itu sekarang terbuka untuk nya.
Permainan terus berlanjut, begitu panas, seisi kamar hotel dipenuhi oleh lenguhan kenikmatan dari pasangan suami istri baru itu. Dan, tak ada ada satu sisi pun yang mereka lewati untuk berbagi kenikmatan.
Dari kamar mandi, sofa, dekat kaca, hingga berakhir diatas ranjang. Tertidur hingga pagi, karena sama-sama kelelehan.
Bima yang tak pernah seliar ini dan se semangat ini dalam mengejar kenikmatan. Lalu Mysha yang baru , jadi tentu nya kelelahan juga.
***
"Kenapa Mas Bima tidak bisa dihubungi sedari tadi ? " keluh Aulia, saat lagi-lagi panggilan yang ia berikan tak terhubung.
"Kamu tahu bukan, suami kamu lagi mengurus kendala perusahaan disana. Dan, kamu juga diberitahu, kalau ponsel nya dimatikan. Lalu kenapa cemas? " omel Dewi Surya. Tak sengaja mendengar ucapan menantu kakaknya.
Mendengar itu, membuat Aulia mengerjap pelan. Ingin marah pada Dewi, tapi yang ia katakan benar. Bima sudah mengatakan urusan disana begitu susah. Hingga ponsel nya harus dimatikan, agar tetap fokus.
Tapi, tetap saja Aulia merindu. Aulia rindu suaminya. Pria itu, sibuk sekali sekarang. Bahkan mereka tak sempat pillowtalk. Karena kesibukan pria itu.
"Lagian , apa yang kamu takutkan Aulia, dari semua wanita yang diberikan ibunya. Tetap kamu yang dipilih. Kamu tahu kan, anak itu sempat minggat dari rumah, karena memilih kamu. Jadi, dia tidak akan mencari yang lain. Dimatanya, kamu itu seperti Kendall Janner, "cibir Dewi, setelah meminum air minum nya. " Padahal dia bisa aja nikah lagi, dengan wanita yang pasti bisa memberikan keturunan. Bukan bertahan dengan kamu. "
Dan, ucapan itu sungguh menyinggung Aulia. Ingin sekali ia membalas, tapi ucapan seseorang sudah terlebih dahulu menghentikan nya.
"Apa yang kamu katakan Dewi! Jangan merusak mental orang seperti itu! " itu suara Tiwi Surya dengan tegas.
"Loh, aku benar. Bapaknya aja bisa selingkuh. Kenapa dia tidak? "
"DEWI! " itu teriakan Tiwi Surya.
Aulia terkejut mendengar teriakan wanita itu, karena sungguh. Wanita itu selalu bisa tampil dengan begitu anggun. Lalu, teriakan itu mengejutkan nya, tampaknya bukan hanya dia. Dewi, si mak lampir juga terkejut.
"Kembali ke kamar kamu! Jangan membuat keributan lagi Dewi Surya! " ujar nya dengan tegas.
Dewi yang tak ingin memperpanjang masalah nya, segera mengikuti ucapan kakaknya itu.
Setelah melihat sang adik pergi, barulah Tiwi menghadap pada menantu nya.
"Kembali ke kamar Aulia. Tapi, sebelum itu, apapun yang menyakiti mu kemarin, hari ini dan esok. Saya minta maaf. Tapi, jangan balas dendam pada orang yang saya kasih."
Setelah mengatakan itu, sang ibu mertua pergi, meninggalkan Aulia dengan raut bingung nya.
"Apa maksud bunda, aku nggak boleh mencelakai si nenek lampir? " tanya Aulia pada dirinya sendiri, setelah tak lagi melihat siluet ibu mertua nya itu.
Merasa apa yang ia pikirkan benar, Aulia tak lagi memikirkan nya, karena ia segera mengambil segelas minum. Karena memang sedari tadi ia berada di dapur.
Ia turun untuk mengambil minum, sambil membawa ponsel, untuk menghubungi Bima. Lalu, tanpa sengaja ucapan nya terdengar oleh Dewi, hingga ucapan kasar keluar dari wanita itu, disusul teriakan ibu mertuanya.
Setelah semua pergi ke kamar nya, Aulia juga ikut kembali ke kamar nya dan Bima untuk beristirahat.
Besok, akan ia coba untuk menghubungi Bima lagi, tapi di dalam kamar saja, agar Dewi tak berulah lagi.
T. B. C
KAMU SEDANG MEMBACA
Mysha(21+)
ChickLitSemua orang tahu, seberapa tak suka nya Sabrina Mysha dengan dosennya yang bernama Bima Wiratama Surya. Karena pria itu selalu menatap tajam kearah nya ditengah jam perkuliahan berlangsung. Dan, karena satu kondisi, dia harus menjebak dosennya itu...
