Bab-36

55.8K 1.9K 327
                                        

Setelah mengantarkan Mysha ke depan pintu apartemen nya, Bima kembali turun ke basement menuju mobilnya.

Dia bawa mobil itu kerumah istri pertama nya, Aulia. Bima sadar, pembicaraan melalui telepon, tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik nantinya. Jadi, dia putuskan untuk face to face dengan istri pertama nya itu.

Untuk Mysha, tenang saja. Dia sudah menyuruh orang suruhan nya untuk menjaga wanita itu, dengan anaknya.

Perjalanan menuju rumah istri nya, memakan waktu 20 menit, setelah berada di sana, Bima melemparkan kunci mobil nya ke pada satpam yang disana, menyuruh satpam itu untuk memarkirkan nya.

Dia ingin membicarakan secepat mungkin dengan Aulia, karena entah kenapa dia sekarang sudah merindukan Mysha. Padahal dia baru meninggalkan nya 20 menit. Siap, apa ini karma? Tapi, kenapa secepat ini?

Ah, tidak sebenarnya dia hanya merindukan anaknya, yang kebetulan berlindung di rahim wanita itu.

"Ibuk mana? " tanya Bima, saat dia melihat seorang pelayan yang membawa sapu, mungkin sedang menyapu.

Ah, emang apa gunanya sapu selain menyapu, kenapa Bima terlihat bodoh seperti ini?

Pertanyaan dadakan yang diberikan Bima kepada pelayan itu, mungkin menimbulkan rasa kaget pada pelayan itu, dan ketakutan karena menerima tatapan tajam dari Bima.

"Dimana? " Bima mengulang kembali pertanyaan yang ia berikan itu.

"Di-ata-atas, Pak. I-bu baru kembali da-ri luar, " ujar pelayan itu terbata, mungkin efek gugup yang menyerang nya.

Mendengar suara terbata itu, membuat Bima berdecak kesal. "Belajar bicara yang benar, anak tk saja bicara nya udah lancar! "

Itu yang Bima katakan, sebelum melangkahkan kakinya menuju tangga, untuk menemui Aulia, yang berada di dalam kamar.

***

"Baru ingat pulang kamu? " tanya Aulia, saat Bima baru saja membuka pintu kamar mereka.

Bima mengerutkan dahinya, saat mendengar nada suara istri nya yang judes itu. Mirip dengan Mysha, tapi entah kenapa ada perbedaan, yang satunya saat mendengar nya, Bima merasakan perasaan kesal.

"Gimana? Dia hamil? Apa kita mulai rencana tentang aku yang pura-pura hamil itu pada keluarga besar kamu? " tanya Aulia, sambil menyentuh perut ratanya. "Jadi, saat dia melahirkan, aku juga bisa melahirkan. Bersikap seolah anak dia itu, anak aku? "

Bima yang mendengar ucapan Aulia itu, mematung di tempat, mengingat kembali semua rencana yang telah mereka lakukan, sebelum pernikahan Bima dan Mysha dilangsungkan.

"Kalau keluarga besarmu minta bukti hamil, USG perkembangan janin. Kita bisa menggunakan punya Mysha itu, " lanjut nya, berdiri dari duduk nya, untuk menghampiri sang suami yang berdiri tenang disana. "Gimana menurut mu, mas? " Aulia mengatakan itu, sambil merapihkan kemeja suaminya.

Dia sempat mengernyit tak suka, saat menghirup aroma Mysha disini. Namun, ia samarkan, dengan melanjutkan percakapan nya dengan sang suami.

"Bagaimana kalau bunda ingin melihat USG itu secara langsung? Sepertinya, rencana itu kita ganti saja. " Aulia yang mendengar pernyataan Bima itu, langsung mengerutkan dahinya tak suka.

"Maksud kamu, apa mas? "

"Kita bisa tetap mengambil anak itu, dengan mengadopsi nya. Kita mengatakan kepada keluarga besar, kalau kita mengadopsi anak itu, di panti asuhan. "

Bima mengutarakan ide baru nya, tentang kepemilikan anak nya. Walaupun, sesungguhnya dia tak akan bisa melakukan nya nanti. Menjauhkan ibu dan anak, adalah kejahatan.

Mysha(21+) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang