Bab-15

145K 1.7K 41
                                        

"Kamu, tidak bertanya kenapa saya setuju untuk menikahi kamu, Sabrina Mysha? " tanya Bima, saat mobil kembali dijalankan, setelah menurunkan Aulia di mall yang ia inginkan.

Mysha yang berada di kursi belakang, hanya melihat Bima dari spion mobil, dan mereka cukup lama saling pandang itu. Dan Mysha yang terlebih dahulu memutus pandangan nya.

"Apa itu penting?" tanya Mysha balik, dengan tangan yang dilipat di dada.

"Ya, sebenarnya tidak penting. Tapi, hanya memberi informasi bahwa saya butuh kamu untuk melahirkan anak saya nanti, " ujar Bima.

Mysha yang mendengar ucapan Bima itu tersenyum miring. "Apa benar istri mu itu tidak bisa melahirkan penerus Surya? Dan perkumpulan di ruang rapat membahas harta warisan? Dan bisa ditebak, bapak tidak akan mendapatkan sepeserpun, jika tidak ada anak?"

Mysha tahu, apa yang ia katakan itu benar adanya, itu bisa dilihat dari mana pria itu menggenggam stir mobil, sebelum menepikan nya dengan kasar, lalu menatap Mysha dengan tajam sedangkan Mysha dengan santai nya menatap Bima.

"Turun, dan pindah ke depan. Saya bukan supir kamu! " Perintah Bima dengan kesal.

Mysha yang mendengar perintah itu, hanya menaikan alisnya, seolah menolak. "Should you serve me like a queen? I'm the future mother of your child, right?" Mysha mengatakan itu, dengan wajah yang maju kedepan.

Dia bisa menghirup wangi Bima dengan begitu dekat, dan Bima seperti nya juga mencium wanginya.

Bima yang mendengar ucapan Mysha, sekaligus melihat wajah sombongnya, tentu merasakan perasaan kesal.

"Sekali lagi, saya bilang pindah ke depan. " Bima mengulang ucapan nya, dengan harapan Mysha mendengar nya.

Tapi, yang namanya Sabrina Mysha manusia yang memiliki sifat keras tetep tidak mendengar ucapan nya.

Dan, sialnya Bima tak bisa untuk mengancam wanita itu, karena ada sesuatu yang harus ia selesaikan.

Karena itu, dengan segera Bima membuka pintu mobil nya, Mysha yang melihat itu, hanya mengernyitkan dahinya bingung. Terlebih Bima juga ikut membuka pintu di kursi tengah, tempat Mysha berada.

Ternyata pria itu hanya memasukkan setengah tubuh nya ke dalam mobil, lalu menarik kaki Mysha, sebelum tangannya diletakkan di bawah lutut Mysha untuk digendong keluar mobil.

"Eh, eh. Turunin! " ujar Mysha, saat sadar apa yang telah Bima lakukan kepada nya, dengan tangan yang memukul dada Bima.

Tapi, pukulan Mysha itu, hanya dianggap angin lalu oleh Bima, karena pria itu, tampak santai membawa tubuh Mysha ke kursi penumpang, yang berada di sebelah supir.

Lalu, saat sudah berada di pintu mobil, Bima beralih menggendong Mysha dengan satu tangannya, karena tangan yang lain digunakan untuk membuka pintu.

Mysha dapat melihat apa yang dilakukan itu mudah, karena pria itu pasti menganggap Mysha hanya lembaran tissue yang ringan. Namun, Mysha tetap harus menjaga keseimbangan dengan mengalungkan tangannya di leher Bima.

Setelah memasukkan Mysha ke dalam mobil, dan menutup pintu nya. Bima kembali memutar untuk kembali ke kursi kemudi.

Sedangkan Mysha hanya bisa mendengus, melihat sikap sok kuasa, sok kuat dan tak tahu malu pria itu. Untung saja jalan ini sepi, kalau ramai gimana? Mysha malu sendiri rasanya.

"Kenapa sih pake acara gendong-gendong gitu? Mau pamer sama siapa , pak? Ingat umur udah tua, tulang pinggang pasti udah rapuh juga, " ujar Mysha dengan nada nyinyir nya.

Bima yang kembali menjalankan mobil nya, melirik Mysha sekilas. "Karena kamu keras kepala. Kepala kamu batu sekali, " balas Bima, membuat Mysha mendengus. "Dan, saya tidak setua yang kamu pikirkan. "

Mysha(21+) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang