Bab-26

89.6K 2K 186
                                        

"Kenapa kamu masih memandangi wajah dua anak itu, Mas, " decak Lena, saat melihat saudara laki-laki nya memperhatikan wajah anak kecil di bingkai masing-masing.

"Aku hanya merindukan putra dan juga putri ku, Lena. " Dia menarik nafasnya panjang, tampak lelah, sebelum menjawab ucapan adiknya.

Sedangkan sang adik yang mendengar ucapan sang kakak. Hanya berdecak. "Kalau kamu lupa, mas. Di darah mereka sama sekali tidak ada darah kamu. " Ingat Lena.

"Biar aku ingatkan, bahwa ibu dari anak laki-laki itu adalah seorang tukang selingkuh. Sedangkan ibu dari anak kedua adalah kriminal. Sudah di rawat, malah menghilang. " Lena mengatakan itu, sambil membersihkan gelas yang di atas meja.

"Lena." Panggilnya dengan nada lelah.

"Loh kenapa? Aku cuma bilang jujur, dan biar kamu ingat apa yang sedang kamu sayang itu, " ujar Lena. "Kamu nikah dua kali. Tapi tidak ada yang benar. Aneh-aneh saja. "

"Itu terjadi juga salah ku, Lena. Mas mu ini mandul, tidak bisa mendapat seorang anak. " Terdengar raut sedih di sana.

"Dan mereka adalah dua anak ku yang berharga itu. " lanjut nya.

"Faktor usia memang membuat orang lupa. Jika perlu aku ingatkan, Mysha juga anak mu. " Terdengar sekali Lena mengucapkan nya dengan begitu sebal.

"Tapi dia anak yang ada di depan rumah kita puluhan tahun yang lalu. "

"Oh, karena kamu tidak tahu ibu nya, berarti bukan anak mu, mas? Kamu baru menganggap anak itu anak mu, saat kamu tidur dengan ibunya, begitu? "

"Bu--"

"Padahal, dari kecil dia begitu sayang sama kamu. Dia selalu ada, sibuk cari perhatian kamu. Dan, sekarang dia begitu membanggakan kita. Tapi kamu hanya menganggap anak mu itu dari dua istri mu! "

Setelah mengatakan itu, Lena bangkit dari duduknya. Berjalan ke luar rumah.

Sedangkan Erwin, setelah mendengar ucapan adiknya itu, terdiam.

Sesungguhnya dia tak pernah membedakan anaknya, ah walaupun bukan darah daging nya. Erwin tetap menganggap tiga orang itu sebagai anaknya.

Dia tidak pernah menceritakan Mysha, karena dia selalu ada untuk gadis kecil itu  saat dia menangis di depan rumah nya, belajar jalan menggunakan jemarinya. Masakan pertama yang Erwin berikan kepada nya.

Dia sungguh mencurahkan perasaannya pada Mysha dari kecil, karena di saat semua orang pergi. Hanya anak kecil itu berada di dekatnya.

Hingga saat Mysha berusia lima tahun mereka berjarak, karena dia menemukan seorang perempuan yang seperti nya bisa menjadi tempat berkeluh kesahnya.

Walaupun sudah memiliki anak, tapi tak masalah. Karena Erwin juga memiliki anak bukan? Jadi, tak masalah menambah anak, karena Erwin juga menyukai nya.

Tapi, takdir berkata lain, lagi-lagi ia dikhianati, dan ditinggal bersama anak yang saat itu berusia 15 tahun.

Begitu nakal, tapi Erwin tak marah, karena paham itu usia remaja.

Tapi, ada suatu hal yang membuat Erwin marah, hingga mengusir anak itu, yang sekarang menimbulkan penyesalan pada dirinya.

Lalu , setelah mengingat patah hati yang ia rasakan. Erwin segera bangkit untuk beristirahat. Tubuhnya sudah begitu lelah.

Dan adiknya sepertinya  dia dalam kamar. Adiknya itu, masih begitu marah kepada nya.

Karena mungkin dia tidak ingin kakak laki-laki nya, saudara satu-satunya dan keluarga satu-satunya terluka, mengulang semua sakit yang ia rasakan beberapa tahun yang lalu itu.

***

Acara makan sudah usai, dan seperti biasa para lelaki dari keluarga Surya akan berbincang di ruangan khusus.

Sedangkan para wanita akan menunggu diluar, melakukan aktivitas nya masing-masing.

Yang sebenarnya, Mysha bisa saja pulang, mengingat dia bukan siapa-siapa disini, terlepas dia istri kedua dari Bima Surya yang tersembunyi itu.

Tapi, entah kenapa Mysha tetap ingin bertahan disini. Jadi dia memilih duduk di ruang tv, untuk menonton kartun yang akhir-akhir ini ia gemari itu.

Sedangkan yang lain? Sibuk dengan urusan nya sendiri.

Aulia dan ibu Rendy tampak sibuk mencari pakaian di online shop, yang sebenarnya tadi Mysha diajak, tapi ia tolak.

Sedangkan Dewi, sudah beristirahat di kamar nya, kata wanita itu, tubuh nya sedang tidak baik-baik saja. Hingga membutuhkan perawatan yang baik.

Bahkan, di acara makan malam tadi, dia sama sekali tidak menyudutkan Aulia. Padahal Bima tadi beberapa kali ke kamar mandi, karena makanan yang ia makan kembali di muntah kan, mungkin perut nya tak menerima.

Dan Mysha bisa melihat raut cemas dan juga lega yang wanita itu keluarkan.

Cemas, karena kesehatan suami nya, sedangkan Lega, karena tak ada yang mengkritik nya. Itu bisa Mysha tanggap. Oh malang sekali menantu keluarga Surya ini, tampak begitu tertekan.

Mysha mencemooh orang lain, tanpa sadar kondisi dirinya sendiri yang di sembunyikan itu.

"Mau apel? Biar bunda bantu kupas? " tanya Tiwi Surya, yang sekarang sudah duduk di samping Mysha.

Tadi, wanita itu du dapur, dan sekarang di sini. Dan entah kenapa Mysha merasa gugup, duduk bersebelahan dengan ibu mertua nya ini.

"Ah, biar Mysha saja oma, yang ngupas, " ujar Mysha yang di angguki oleh wanita itu, dengan memberikan apel serta pisau pada Mysha.

Saat Mysha mulai mengupas apel itu, Tiwi kembali bicara. "Kamu, sehat sayang? " tangannya.

Dan entah kenapa mendengar panggilan sayang itu, Mysha merinding dan takut. "Sehat oma. "

"Syukur lah, tapi kenapa Bima sakit ya? Tadi kamu lihat kan, dia bolak-balik kamar mandi, muntah. Menurut mu, dia kenapa? " tanya Tiwi lagi.

Pertanyaan tadi sungguh membuat Mysha ingin berteriak. Kalau dia bukan anak kesehatan, dia anak ekonomi. Mana tahu dia , Bima sakit apa.

Lagian, wanita ini seharusnya bertanya pada istri nya. Kenapa sang suami bisa sakit begitu? Ya, walaupun Mysha juga istri nya, tapi Mysha kan hanya istri magang.

Yang beberapa bulan lagi akan selesai. Berbeda dengan Aulia, yang akan selalu menjadi istri pria itu.

Itupun juga, kalau Aulia masih mau dengan pria yang berkhianat itu. Jika mau, mereka pasti akan terus bersama, kan?

"Mungkin, om lagi masuk angin atau maag nya kambuh, " ujar Mysha, menebak.

"Kamu berpikir seperti itu? " tanya Tiwi, sambil menatap Mysha, yang dibalas anggukan oleh Mysha.

"Tapi, saya merasa dia seperti pria yang dimana istri nya sedang hamil, menurut mu gimana? Itu yang saya tonton di televisi, ketika istri hamil, terkadang suami yang terkena morning sickness nya. "

Mysha yang tadi ingin memberikan potongan apel pada Tiwi tertegun, tersenyum tipis. "Mungkin saja, bu. Mungkin tante Aulia hamil. "

"Setelah 4 tahun, Aulia hamil. Menurut mu seperti itu? " tanya Tiwi, menyudutkan.

Hal itu mampu membuat Mysha tertegun, dan Tiwi segera bangkit.

"Semoga sehat selalu, " ujarnya, menyentuh rambut Mysha, sebelum pergi.

Kepergian Tiwi, meninggalkan keheningan untuk Mysha.

T. B. C

Infoooo, hari inii update yooohhh! Ada yang rindu??

Mysha(21+) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang