Bab-16

124K 1.9K 67
                                        

Mysha mengerutkan dahinya, saat merasakan elusan di paha nya, dan dia juga bisa merasakan nafas seseorang menyentuh perpotongan lehernya.

Namun, karena rasa kantuk dia tetap memejamkan matanya. Mengabaikan.

Tapi, semakin lama setiap sentuhan yang ia rasakan pada tubuh nya, menggila.

Karena itu, dengan penuh rasa terpaksa, dia membuka matanya, dan saat ia melihat siapa yang berada di dekat nya, Mysha langsung membesarkan matanya.

"Diam! Nanti didengar orang, " ujar suara itu, dengan pelan. Sambil meletakkan jari telunjuk nya, di bibir Mysha.

Mysha yang awalnya ingin teriak, tentu mengurungkan niatnya. Sial sekali, kalau dia digebukin oleh penghuni kos lain, karena membawa pria.

Walaupun sebenarnya tak masalah, karena kos ini, bukan kos yang diciptakan terkhusus untuk putri. Tapi, tetap saja Mysha tak ingin cari masalah, dengan ketahuan seperti ini.

"Bapak, ngapain di sini, " cicit Mysha pelan, dan nafas yang tertahan, saat Bima kembali menjatuhkan ciuman basah di leher jenjang nya.

"Melanjutkan pembicaraan tadi pagi, " ucap Bima, tetap melanjutkan aksi nya.

Hal, yang tentu membuat Bima mengernyitkan dahinya, sebelum mendengus.

"Pernikahan akan diadakan dua minggu lagi. Tanpa siapa pun yang tahu, kecuali orang terdekat saya. " Bima kembali mengatakan kalimat yang sama, dengan yang ia katakan tadi pagi. "Pernikahan ini, juga tidak akan diadakan di Indonesia, tapi di Landon. Jadi, saya harapkan kamu menggagalkan apapun yang saya rencana kan, Mysha. " Bima mengatakan itu dengan tegas.

Mysha yang mendengar ucapan Bima itu, tak bisa untuk tidak memutar matanya, jengah. Mysha rasa, dari semua yang Bima katakan, hanya tempat pernikahan nya, yang menarik. Di Landon, tapi yang lain? Ah, membosankan sekali.

"Kamu paham Mysha, jangan membuat masalah apapun, nanti. Dan, untuk fitting gaun, akan ada orang butik yang datang menemui kamu, " ujar Bima, saat Mysha hanya diam. "Dua atau tiga hari kedepan, kamu pindah ke apartemen yang saya siapkan. Jadi, bereskan semua barang yang masih layak digunakan. Walaupun, saya yakin, tidak ada yang layak digunakan, " ucap Bima, dengan tajam.

"Udah?" tanya Mysha,membuat Bima menaikan alisnya bingung." Udah ngomong nya? Kalau udah, silakan turun. Dan, keluar dari sini, "lanjut Mysha.

" Seperti itu, cara kamu ngomong dengan calon suami, kamu Sabrina? "tanya Bima, dengan nada tak santai nya.

Mysha yang mendengar kalimat calon suami dari mulut Bima, tak bisa untuk tak berdecak. Sungguh, lebay sekali pria ini. Daripada Mysha, kenapa dia lebih ngebet jadi pasangan suami istri?

" Kamu, harus biasakan sopan dengan suami mu ini. Selain itu, bagaimana pun. Umur saya, lebih tua dari kamu, Sabrina Mysha, "ujar Bima dengan tegasnya.

" Loh, dari mananya saya nggak sopan ya, pak? Saya manggil bapak loh, " ujar Mysha, tak terima.

"Apa saya bapak kamu? Kapan saya menikah dengan ibu kamu, hingga kamu panggil bapak? " tanya Bima.

Sedangkan Mysha, yang mendengar jawaban tak terduga Bima itu, tak bisa untuk tidak melongo, kaget sekali dirinya, mendengar balasan yang Bima berikan itu.

"Ya, tapi tetap saja. Bapak, dosen saya. Jadi, udah sewajarnya, saya manggil nya, bapak. "

"Sekarang, kamu baru sadar, saya dosen kamu? Kemarin kamu goda dan ancam saya, " ujar Bima, hal yang lagi-lagi membuat Mysha melongo. "Walaupun begitu faktanya, tapi sekarang kamu calon istri saya. Dan hubungan dosen dan mahasiswa, cuma berlaku di kampus, bukan dirumah. "

"Bapak, gila! " Mysha mengatakan itu, dengan spontan, yang langsung dihadiahi dengan pelototan oleh Bima.

"Apa kamu bilang? "

"Bapak gila. Bapak jangan pura-pura lupa ya, bapak juga ngancam saya, karena menolak bertanggung jawab atas saya. Dan apa sekarang, bapak mempermasalahkannya nada suara serta panggilan. Sekarang, lebih terlihat, bapak ingin dekat dengan saya, " ujar Mysha panjang lebar.

"Jangan banyak bicara, anggap saja kita sedang kerja sama, saling menguntungkan. Saya dapat anak, kamu dapat uang, " ujar Bima.

"Gila! Kalau gitu, kenapa mempermasalahkan panggilan? Kalau emang sedang kerja sama? "

"Diam, telah saya tetap kan. Panggil saya, mas. Mas Bima, " ujar Bima, mengabaikan ucapan Mysha itu.

Tapi, seperti nya Bima lupa. Kalau lawan bicara nya, adalah Sabrina Mysha, wanita keras kepala. Punya banyak kalimat untuk mendebatkan apa yang Bima katakan.

"Sa--"

Namun, belum selesai Mysha dengan kalimat nya, bibir dingin nya, sudah terlebih dahulu di kecup oleh Bima.

Tidak hanya dikecup, tapi juga dilumat.

"Sekarang, saya tahu, bagaimana cara membuat mulut kamu diam, " ujar Bima, setelah menjauhkan bibir nya, dari bibir Mysha.

Mysha yang awalnya terserang kaget, kembali bisa menguasai dirinya.

"Kenapa cium-cium, enak? " ucap Mysha dengen jengkel.

Dan lebih jengkel lagi, setelah mendengar balasan yang Bima berikan, kepada nya. "Iya, enak. Walaupun, sudah banyak yang singgah, tapi masih bisa di nikmati, " ujar Bima, dengan tak tahu malunya.

Lalu, apa alasan Mysha tak jengkel, mendengar kalimat Bima. Seolah yang ia mengganggap Mysha makanan, yang sudah mendekati expired, tapi masih bisa dikonsumsi.

Sungguh, tua bangka tak tahu diri.

Menarik nafasnya panjang, lalu melepaskan nya. Menatap mata Bima, yang ternyata juga sedang menatap dirinya. "Pulang deh, pak. Istri nya pasti nungguin. Saya malas banget lihat bapak. "

Bima yang mendengar balasan Mysha itu, ingin sekali menghukum mulut kurang ajar itu. Tapi, ia tahan.

"Ok saya pulang. Tapi, sebelum itu, saya mau memastikan suatu hal, " ujar Bima, bersamaan dengan tangan nya meraih ponsel Mysha yang tak jauh dari tempat dirinya rebahan.

"Hubungi Rendy, dan putuskan dia sekarang! " titahnya.

"Kalau, saya menolak?! "

"Kamu pasti tau dengan beasiswa, yang kamu terima. Siapa pengelola nya. Jadi, jika kamu menolak, berarti kamu siap menerima akibatnya.

Mendengar Bima yang menyenggol beasiswa nya, Mysha segera meraih ponsel nya untuk menghubungi Rendy.

Lalu, saat panggilan tersambung, tanpa mengucapkan salam. "Kita putus, kamu udah selingkuh! " Setelah mengatakan itu, panggilan langsung ia putus.

"Udah, sekarang pergi, " usir Mysha, yang di angguki oleh Bima.

Namun, sebelum itu, Bima kembali meninggalkan jejak kepemilikan, yang membuat Mysha melenguh.

T. B. C

Mysha(21+) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang