Bab-44

49.4K 1.9K 206
                                        

Pagi ini, seluruh keluarga Surya sedang berkumpul di ruang utama. Sebenarnya, tidak semua nya, karena Bima masih di apartemen bersama Mysha.

Hanya ada Aulia di sini, sejak kemarin malam wanita itu di rumah kediaman Surya.

"Bima, sekarang jarang sekali ya, ngumpul, " ujar Dewi, membuka pembicaraan.

Saat, semua penghuni rumah belum berkumpul.

"Kenapa sih, kerja mulu. Untuk apa kerja mulu, cari uang mulu. Kalau nggak ada anak. Dapat capek doang itu, " ujar Dewi.

Aulia dan Tiwi yang mendengar ucapan Dewi itu tersentak.

Mereka berdua tahu alasan kenapa Bima sudah jarang berkumpul, karena keberadaan Mysha. Apalagi wanita itu sedang mengandung sekarang. Dimana butuh perhatian yang lebih lagi.

Walaupun tahu, baik Tiwi dan Aulia masih berpikir hanya mereka yang tahu. Diri mereka sendiri, dan Bima. Tentang pernikahan itu.

Walaupun Aulia tahu kedua nya, tapi Tiwi masih mengetahui pernikahan, walaupun ia tahu Mysha juga hamil.

Ia tahu dari orang  nya, bukan Bima yang masih menyembunyikan keberadaan cucu nya yang masih berada dalam kandungan istri kedua nya itu.

"Dia memang belum memiliki anak, Dewi. Tapi, banyak kehidupan yang bergantung dengan dia. Jadi, kalau dia malas, kamu tahu yang tersiksa siapa? " tanya Tiwi dengan kalem kepada adiknya itu. "Ya, semua pegawai dari perusahaan kita yang akan menderita, seandainya bos nya lalai. "

Dewi yang mendengar ucapan kakak nya itu berdecak sebal, mengiyakan pertanyaan itu, tak bisa membantah.

"Lagian, aku cuma takut dia punya yang lain. Walaupun mulut ku seperti macan. Aku juga nggak mau ada perselingkuhan di rumah tangga. " Dewi mengatakan itu, sambil melirik ke arah Aulia.

Sedangkan Aulia dan Tiwi yang mendengar pernyataan pria itu, langsung tersedak. Padahal sedang tak makan atau minum. Namun, ucapan Dewi itu, mampu membuat mereka tak bersuara.

"Tapi, dia  kan setia banget sama kamu, Aulia. Apa pun yang kamu mau pasti di kabulkan, " ujar Dewi lagi, yang entah kenapa membuat Aulia tersenyum miring. "Buktinya aja, Bima masih mempertahankan kamu, saat tante suruh nikah, cari istri baru. Tapi dia tetap bertahan, makanya tante bilang gitu. Seperti nya, dia lebih nurut kamu. " lanjut nya.

"Ha iya, tan. "

"Tapi, Aulia sebenci-benci nya saya dengan perselingkuhan, saya lebih benci dengan sebuah kebohongan. " Dewi mengatakan itu dengan ekspresi datar nya, yang membuat Aulia menjadi gugup.

"Iya tan, aku juga benci dengan kebohongan. "

"Hmm, sekarang telfon Bima. Suruh dia kesini. Nanti beneran dia selingkuh, kamu nangis. Seharusnya, kamu lebih perhatian sama dia, jangan biarkan seorang pelakor masuk ke rumah tangga mu, Aulia. Kecuali, kamu yang benar-benar mengizinkan suami mu bertingkah, kamu tidak boleh marah. Saya juga angkat tangan, kalau pemilik rumah yang buka pintu nya. "

Mendengar penjelasan Dewi itu, membuat Aulia menganggukkan kepala nya, walaupun tak biasa, tapi Aulia menerima nya.

Ia juga langsung mengiyakan permintaan Dewi itu, untuk menghubungi Bima.

Jadi, dengan segera wanita itu mengambil ponsel nya, untuk mencari nomor sang suami. Namun, baru panggilan pertanyaan, sudah ada pernyataan bahwa nomor yang ditujukan sedang tidak aktif.

Tiwi yang dari tadi mendengar dan mengamati, dia hanya bisa menahan nafas. Sungguh dia tahu, alasan kenapa pagi ini, Dewi membahas perselingkuhan, anak dari rumah tangga Bima Aulia.

"Seperti nya, suami mu masih tidur, Aulia. Kebiasaan nya masih belum berubah, masih menonaktifkan panggilan nya, " ujar Tiwi kepada Aulia, yang sibuk dengan ponselnya.

Dewi yang setuju dengan ucapan kakak nya itu, berdecak sebal. "Ck, Bima masih belum berubah. Aulia, kamu juga harus ingatkan suami mu itu tentang ini, bagaimana kalau ada kejadian yang tidak terduga? Lalu ponsel nya tidak aktif, begitu. "

"Iya, Tant. Nanti, aku akan bilang sama Mas Bima, " ujar Aulia, yang juga ikut kesal dengan tingkah Bima ini.

Sebenarnya, banyak alasan kenapa dia sekesal itu, salah satu saat dia sadar dimana keberadaan suaminya pagi ini, yaitu do tempat Mysha.

Aulia tak menyangka, padahal telah diberikan sejumlah fakta tentang apa yang terjadi pada hubungan wanita itu dengan suaminya, tetap saja wanita itu bisa menerima suaminya. Sial. Memang murahan!

Astaga, pagi Aulia mendadak begitu suram, karena wanita itu.

"Sudah. Sebentar lagi sarapan. Tolong panggil semua orang, Aulia, " ujar Dewi, mengalihkan pembicaraan.

Aulia yang mendengar perintah ibu mertua nya itu, menganggukkan kepala nya, lalu berdiri dari duduk nya, berjalan untuk memanggil semua orang, untuk memulai sarapan.

Selagi Aulia memanggil semua orang, Tiwi melihat ke arah adiknya yang sibuk dengan ponselnya. Pernyataan yang tadi di keluarkan oleh adiknya itu, cukup membuat Tiwi terkejut. Karena tak biasa. Apalagi, wanita itu sering menatap tak suka pada Aulia.

Tak lama, semua anggota keluarga turun, dan acara sarapan pagi di mulai, dengan kondisi tenang karena semua orang sibuk dengan makanan nya sendiri.

Saat semua sibuk dengan makanan nya, ada seorang pelayan yang berjalan ke arah mereka, dengan menundukkan kepala nya, memberikan hormat.

"Maaf, Tuan dan Nyonya besar, ada surat untuk kalian berdua, " ujar suara itu, dengan posisi masih menundukkan kepala nya.

Tiwi yang mendengar ucapan pelayan itu, segera menoleh ke arah ayah ibunya, dan pelayan secara bergantian.

Ah, tidak. Tepat nya dia melihat ke arah amplop coklat yang dibawa oleh pelayan itu.

"Sudah beberapa kali saya bilang. Jangan ada aktivitas apapun saat saya sarapan, " ujar nya, dengan tatapan tajam.

Sang pelayan, yang menyadari kesalahannya, kian menundukkan kepalanya, ketakutan.

Sang nyonya besar, yang tahu harus berbuat apa. Segera menenangkan sang suami.

"Sini, bawa amplop nya, nanti kami baca. Kamu bisa beristirahat, " ujar sang nyonya besar, setelah memenangkan suami nya, meminta surat yang dikirim untuk mereka.

Tampaknya, sang suami juga sudah tenang, dan membiarkan istri nya bertindak seperti apa.

Pelayan yang tahu, surat itu diminta, segera menyerahkan nya. Sedangkan si penerima. Mengerutkan dahinya, tak tahu siapa pengirimannya. Karena tak ada nama yang tertera di sana.

"Oke, silahkan pergi. "

Mendengar perintah itu, pelayan itu menganggukkan kepalanya.

"Dari siapa, bu? " tanya Dewi, kepada sang ibu.

"Tidak tahu, nanti saja di buka. Seperti nya penting, " ujar nya.

Pernyataan yang diberikan oleh tetua itu, membuat semua orang menganggukkan kepala nya, setuju.

Memang amplop itu, terlihat sangat penting, tapi kenapa tak ada nama pengirim nya? Hanya ada untuk SURYA.

Tapi, nanti mereka akan tahu isi nya, kan?

Jadi, semua orang yang berada di meja makan, melanjutkan sarapannya. Dengan suasana hening nya, hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan garpu.

Untuk amplop besar itu, di letakan di samping tetua Surya itu. Biarkan isi yang penting itu terbuka nanti.

T. B. C

Mysha(21+) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang