26 | Rainy

5.7K 706 76
                                        


Pemakaman Isadora yang disaksikannya sebagai perwakilan dari keluarga Phineas, berhasil membuat Alizeh mengira-ngira apakah kedua orang tuanya menangis saat jasadnya ditanam di kehidupan sebelumnya.

Atau mereka berdua enggan mengakuinya sebagai anak?

Opsi kedua terdengar jauh lebih masuk akal. Memikirkannya tanpa sadar membuat senyum kecil terulas di bibir Alizeh, ia bukan sedang mengejek peti mati berisikan jasad Isadora melainkan sibuk dengan pikirannya sendiri sampai pria rambut merah disebelahnya menyadari hal tersebut.

"Apa yang terasa sangat lucu bagimu?" Asael sedikit menurunkan kepalanya sehingga bibirnya sejajar dengan telinga Alizeh saat berbisik pada gadis itu.

"Membayangkan pemakamanku." Jawab Alizeh jujur.

Sukses membuat Asael merinding sebadan lalu menarik diri ke posisi semula; berdiri tegak dan turut menundukkan kepala saat Pendeta memulai doa sebelum liang kubur Isadora ditutup tanah galian.

Saat satu per satu dari mereka mulai membubarkan diri, Alizeh menjadi yang paling terakhir berdiri di samping gundukan makam Isadora.

Meratapi gadis itu melalui tatapan suramnya, berandai-andai apabila Isadora memilih untuk membela dirinya sendiri dan membongkar kejahatan ayah kandungnya pasti hidup gadis itu jadi lebih indah sekarang.

"Mungkin kematian lebih cocok untukmu." Gumam Alizeh mengangguk dan tersenyum. "Aku pergi dulu kalau begitu, selamat tinggal."

"WOAH, kau bicara pada gundukan tanda?" Asael menyambar, ia tidak benar-benar pergi seperti yang lain rupanya. "Adikku Claire sering mengeluh tentangmu pada Ayah, dia bilang kau cukup berulah? Kurasa."

"Pantas saja semalam kau loncat dari balkon." Imbuh pria itu.

Tak tahu harus merespon dengan kalimat apa, Alizeh hanya mengerutkan alis. Jujur saja ia tak nyaman jika diajak bicara tiba-tiba oleh orang asing, seluruh bulu di tubuhnya akan berdiri dan darahnya berdesir tak nyaman. Berlaku pada semua orang termasuk pria berambut merah dihadapannya.

"Halo?" Asael sampai melambaikan tangan di depan wajah Alizeh untuk mendapatkan reaksi gadis itu yang lagi-lagi hanya menatapnya kosong.

"Setidaknya sapa aku? Kau bisa kena sanksi jika tidak menyapa seorang Pangeran."

"Anak haram." Ralat Alizeh. Untuk sesuatu yang kejam baru gadis itu mau bicara. 

Asael tersenyum kecut, ia tidak marah karena itu fakta. "Yah, semua orang tahu ibuku menggoda Raja. Kuharap itu bukan masalah bagimu karena aku tetap anak laki-laki Raja tanpa bermaksud sombong."

"Aku tak berkomentar." Alizeh mengendikkan bahu acuh, ia lewati Asael sebelum pria itu mengoceh lagi tetapi bahunya di tahan dari belakang.

"Dan kakakmu, dimana dia?"

Alizeh menoleh, tangan kanannya terangkat untuk memperagakan seakan ia sedang memegang sebuah benda kecil.

"Apa ukurannya sebesar ini sampai bisa masuk ke kantongku?"

"Baiklah, itu kasar." Balas Asael menciut. "Aku kan hanya tanya, masa tidak boleh?"

"Hubungan keluarga kalian tak normal, semua tahu kalau setiap anak keluarga Phineas berasal dari panti asuhan. Kau juga, yang berkualitas."

"Kau mau apa dariku?" Tanya Alizeh to the point. "Sebut saja. Apa?"

"Aku ingin tahu kabar Odesa, tidak mungkin kakakmu sama sekali tidak saling berkomunikasi meski sudah bercerai."

"Lantas tanya langsung padanya, kenapa harus aku?"

"Kupikir kau lebih jinak," kekeh Asael. "Ternyata saja saja. Dulunya aku dan Odesa--" belum sempat bercerita tentang hubungan pertemuannya dengan Odesa dulu, Asael ditinggal pergi begitu saja oleh Alizeh.

A Little Sister Guide Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang