2 tahun berlalu . . .
"Tuan Putri Claire, anda yakin?" Gadis berambut jingga nampak takut dan ragu-ragu, sudah tiga kali dia menanyakan pertanyaan yang sama kurang dari sepuluh menit.
Claire mendecak. "Bisakah kau tutup mulut, Amber?"
Amberi menundukkan kepalanya dengan wajah sedih. "Maaf Tuan Putri..."
"Bagus." Claire menghela nafas lega, ia sedang menunggu seseorang berjalan melewati koridor.
Tangannya saat ini sedang memegang ember berisikan setengah kotoran kuda yang ia dapat dari kandang kuda sekolah untuk tujuan jahat.
Namun sudah setengah jam lebih targetnya tak kunjung melewati koridor, Claire mulai merasa jengkel sendiri.
"Dimana Alizeh?" Tanyanya sembari merotasikan bola mata malas. "Ck! Kenapa belum muncul juga?"
"Tuan Putri, sebaiknya kita pergi saja sebelum ada guru yang melihat."
"Kalaupun ada guru yang melihat, mereka tidak akan berani melakukan apa-apa padaku!" Tegas Claire mendorong Amber agar lebih berani jika ingin berteman lama dengannya.
"Itu dia!" Amber berseru pelan, keduanya berada di lantai atas pada bagian balkon sehingga bisa melihat jelas siapa saja yang jalan melewati koridor lantai satu bangunan akademi dan barusan Amber melihat Alizeh.
Segera mengedarkan pandangannya ke bawah, Claire tidak menemukan siapapun. "Mana?" Tanyanya pada Amber terdengar kesal. "Kau coba permainkan--"
Sebelum Claire menyelesaikan kata-katanya, ember berisi kotoran kuda basah karena ia campur air di tangannya mendadak rampas oleh seseorang. Claire yang tak siap mana sempat mempertahankan ember itu bahkan ia sama sekali tidak berekspektasi kalau seseorang yang merampas ember tersebut langsung melempar isinya ke wajah Claire.
"HAAAAH!" perasaan jijik, panik, ingin muntah, dan kesal bercampur menjadi satu saat kotoran kuda menjalar turun dari atas kepalanya ke bawah kaki.
Lebih kesal lagi saat melihat pelakunya malah target yang ingin Claire buat satu tubuhnya penuh dengan kotoran kuda.
Alizeh.
"KAU...!" Dada Claire kembang kempis, wajahnya memerah dibalik kotoran sapi yang menempel.
"DASAR KETERLALUAN!" Pekik Claire.
Namun alih-alih menyerang Alizeh, Claire yang tak tahan pada bau dan jijik pada dirinya sendiri berakhir menangis dengan suara keras seperti bocah padahal usia mereka semua telah genap 18 tahun.
Alhasil Alizeh dipanggil ke ruang kepala sekolah. Berhadapan langsung dengan Ibu kepala sekolah Nicolosa yang tak tahan lagi dengan sikap nakal Alizeh padahal selama ini yang selalu membuat ulah duluan adalah Claire.
Tetapi, karena Claire adalah Putri Mahkota dan selalu berakhir sebagai korban dari rencana buruknya sendiri karena Alizeh selalu bisa menggagalkan rencana Claire serta membalasnya detik itu juga, Alizeh berakhir menjadi orang jahatnya.
"Dalam sepuluh bulan terakhir kau sudah delapan belas kali dipanggil ke ruangan ini, Nona Alizeh Phineas." Kepala sekolah Nicolosa menghela nafas kasar seraya menempatkan kedua tangannya bertumpuk di depan dada dan menatap Alizeh dari atas ke bawah.
Mencermati tidak adanya penyesalan di wajah cantik sang gadis berambut hitam.
"Aku akan memberitahu orang tuamu mengenai kejadian hari ini."
Alizeh tersenyum miring, malah menantang. "Panggil saja ayahku ke sini." Balasnya sebab tahu Duke Charles akan membelanya. "Dia akan menjawab segalanya untukmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
A Little Sister Guide
Fantasy⚠️Ada tiga peraturan di keluarga Phineas; yang pertama tidak boleh ada pertengkaran antar sesama anggota keluarga, yang kedua tidak boleh melewatkan makan malam keluarga, yang ketiga dan paling penting tidak boleh bercinta antara kakak laki-laki dan...
