33 | Mean Girl

5.2K 703 173
                                        

"Silakan Alizeh, bergabunglah dengan yang lain. Mau kusuruh pelayan memanggilkan Claire?"

Tawaran Raja langsung Alizeh tolak dengan sopan. "Tidak perlu, Yang Mulia. Saya sendiri yang akan menemuinya." Ia berbohong tentu saja, siapa yang mau bertemu dengan gadis paling drama se-kerajaan? Yang ada kepalanya pecah nanti.

"Baiklah kalau begitu, jangan lupa cicipi makanan penutupnya. Itu yang terbaik." Ucap Raja tersenyum hangat, memandang kepergian Alizeh yang lenyap dalam sekejap karena berbaur dengan para bangsawan lain.

Atau sebenarnya gadis itu tidak terlihat karena semua orang sudah teracuni pikirannya oleh kata-kata Claire.

Tidak masalah karena bagi Alizeh keuntungan tersendiri apabila ia tidak perlu berbasa-basi dengan orang lain di tengah keramaian. Ia ingin pulang, ia benci orang-orang yang berkumpul membentuk kelompok dan bergosip tentang orang lain seolah diri mereka lebih baik.

Gadis itu menepi, mendekati meja besar berisikan macam-macam makanan manis. Yang berwarna merah dan bentuknya mirip macaron, tetapi bukan berhasil menarik perhatian Alizeh.

Tangan kanannya terulur hendak meraih kue itu, tetapi seinci sebelum mendapatkannya seseorang muncul dan mengejutkan Alizeh sehingga ia reflek menarik tangannya lagi persis seperti pencuri yang tertangkap basah saat beraksi.

"Alizeh?" Perempuan dalam balutan gaun kuning mencolok itu tersenyum lebar, ia pandang Alizeh dari atas ke bawah lalu tiba-tiba memeluknya dengan erat. "Kau Alizeh. Dari jauh-jauh hari aku dengar kau akan debutante di istana bersama Putri Claire, karena itu aku berusaha datang ke sini untuk bertemu denganmu dan memastikan kau baik-baik saja. Kau baik-baik saja?"

Perempuan itu--Odesa, melepaskannya pelukannya dari Alizeh tetapi masih menggenggam lembut lengan atas gadis itu sambil tersenyum.

"Kau lebih dewasa dari yang terakhir kali, dan sangat cantik." Puji Odesa terkagum.

Mantan kakak iparnya itu masih sering memperhatikan Alizeh secara diam-diam meski hampir tidak pernah mencoba untuk mengontaknya setelah dua tahun lebih.

"Terimakasih." Alizeh membalas singkat.

Odesa cemberut. "Hanya perasaanku atau kau menjadi lebih dingin sejak bertambah usia?" Perempuan itu tidak dekat dengan Alizeh, namun mengenal Alizeh yang sangat ceria dan punya mimpi indah tentang Pangeran berkuda putih.

'Ewh, itu mimpi Alizeh yang asli. Aku tidak asli. Puas?' Ucap Alizeh mengutarakannya dalam hati dan hanya tersenyum menanggapi kalimat Odesa.

"Bagaimana kabar Christian?" Tanya Odesa, ia tidak membenci Chris walau bercerai dari pria itu. "Aku turun sedih saat mendengar kabar tentang Caleb, tapi syukurlah itu sudah berakhir dua bulan lalu."

Alizeh mengangguk setuju. "Aku juga senang melihatmu jauh lebih bahagia." Bohong! Sebenarnya Alizeh masabodo, itu hanya basa-basi.

"Itu semua berkatmu, kau yang menyadarkanku bahwa aku seharusnya hidup untuk diriku bukan untuk memenuhi keinginan orang lain. Aku berhak atas diriku sendiri." Sambil meremas lembut pergelangan tangan Alizeh, Odesa menyampaikan terimakasih pada gadis itu berulang.

"Selamat atas debutmu." Perempuan itu menambahkan lalu memeluk Alizeh sekali lagi. "Kutunggu pengumuman pernikahanmu segera."

'Seseorang yang pernikahannya gagal baru saja memintaku untuk segera menikah?'

Alizeh mengangguk saja, lebih cepat lebih baik. Pikirannya tertuju pada sesuatu yang sangat penting seperti kue tadi, tepatnya.

"Hai, kau sangat merah muda--Odesa?" Perhatian Asael langsung tercuri ke arah Odesa padahal diawal dia berniat menyapa Alizeh, tidak tahu kalau yang bicara dengan gadis itu adalah Odesa.

A Little Sister Guide Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang