19 | Menace

6K 697 162
                                        

"Kak Caleb!" Alizeh tergesa menghampiri Caleb sebelum pria itu masuk ke dalam kamar hendak tidur.

"Alizeh? Ada apa? Kau merindukanku?" Celetuk Caleb asal sambil cengar-cengir seperti biasa, tetapi ekspresi serius di wajah Alizeh (sebenarnya hampir setiap saat ekspresi gadis itu begitu) Caleb merasa terganggu.

"Kurasa itu bukan rindu, ada apa adik manis?"

"Jangan temui, Isadora." Ini malam terakhir Caleb berada di rumah. "Kau akan pergi besok, kan? Aku tahu malam ini kau akan mendatanginya dan sebaiknya jangan."

"Apa? Kenapa?" Tanda tanya besar tergambar di dahi Caleb. "Kenapa aku tidak boleh menemuinya?" Tanya lelaki itu dengan suara dipelankan, berbisik.

"Aku tidak bisa memberitahumu, tapi sebaiknya jangan ambil resiko."

"Eh? Kenapa wajahmu begitu?" Cemas Caleb. "Sesuatu terjadi?" Ia menggenggam masing-masing bahu Alizeh, menguncangnya pelan meminta jawaban.

"Hanya jangan pergi menemuinya, itu saja." Alizeh mempertegas jawaban seraya mendorong tangan Caleb lepas dari bahunya kemudian pergi meninggalkan laki-laki itu.

Setelah ancaman Chris di kereta kuda pagi tadi, Alizeh merasa sangat tak tenang. Terlebih mendadak pria itu bersikap sangat dekat dengan Laverna dan Charles. Mendadak berubah menjadi persis seperti yang orang tua angkat mereka inginkan sejak dua tahun lalu.

"Chris sudah kembali." Laverna tersenyum hangat, berbicara pada Charles di teras depan tanpa tahu kalau Alizeh sedang menguping pembicaraan.

"Ya, aku cukup senang walau perubahannya tiba-tiba tetapi itu bagus. Dia mulai dekat dengan kita dan anggota keluarga lainnya, dia siap menggantikanku suatu hari." Sahut Charles turut senang.

"Aku sudah bilang, kan? Mengadopsi anak tidak buruk sama sekali." Dengan bangga Laverna mengingatkan idenya pada Charles dahulu, pria itu yang awalnya skeptis tentang mengadopsi anak-anak.

"Dulu kupikir anak-anak dari panti itu nakal dan pasti sulit mendidik mereka kelak." Komentar Charles mengingat-ingat bagaimana dirinya di masa lalu yang sempat menentang saran dari Laverna mengingat dirinya tidak memiliki kemampuan untuk memberi benih pada wanita itu.

"Aku sudah bilang kita hanya perlu menyayangi mereka."

"Yah, kurasa kau selalu benar soal cinta dan kasih sayang."

Laverna mengangguk, lantas meraih cangkir teh lalu meneguk isinya hingga tersisa setengah.

"Teh ini lezat. Kurasa aku akan minum ini sampai satu Minggu ke depan."

Charles merotasikan bola matanya dengan ekspresi menyenangkan lalu merangkul pinggang Laverna erat.

"Apa aku mengganggu kalian?" Keheningan antara keduanya terpecah saat Chris datang dan menyapa. "Sebenarnya ada hal yang ingin kusampaikan tentang Alizeh. Jika ayah dan ibu sibuk, kusampaikan lain kali."

"Kami tidak sibuk, Chris." Jawab Laverna berbalik, meletakkan cangkirnya di meja lalu fokus pada putra sulungnya itu. "Ada apa dengan Alizeh?"

"Kurasa sebaiknya Alizeh kembali ke asrama, dia tidak mendapat pekerjaan. Lebih tepatnya dia tidak cocok bekerja, setiap tempat usaha yang didatanginya menolak mempekerjakan Alizeh." Itu bohong, lagi.

Chris dan Alizeh tidak pernah pergi untuk mencari pekerjaan.

"Mungkin lebih baik Alizeh berada di asrama sampai hari kelulusan." Imbuh Chris.

"Dia tidak mendapat pekerjaan?"

"Sudah kuduga." Sambar Charles. "Hanya orang gila yang mau mempekerjakannya, sayangku. Lagipula aku sudah tawarkan Alizeh untuk belajar bisnis keluarga kita dan dia menolak. Chris benar, akan lebih baik Alizeh kembali ke asrama walau putri mahkota akan mengganggunya tujuh kali seminggu."

A Little Sister Guide Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang