41 | Nael Supremacy

4.9K 662 310
                                        

"Apa yang terjadi?" Caleb berlari mendekat dan menguncang salah satu bahu pelayan laki-laki. "Mengapa ada banyak sekali asap dari kamar Nael?"

"Tuan, kami sedang berusaha membuka pintunya sedari tadi. Kelihatannya terjadi kebakaran di dalam kamar." Jawab si pelayan menjelaskan situasinya pada Caleb yang langsung panik.

"Tidak bisakah lebih cepat dari ini?" Tanyanya pada pria yang mencoba membobol kunci.

"Tuan, saya mencoba. Tapi--"

"Minggir." Usir Caleb pada si pria. "Kau dan yang lainnya bawa air atau apa terserah, biar kuurus pintu ini."

"Baik Tuan."

Segera setelah pria itu menyingkir dari pintu, Caleb mengambil ancang-ancang mundur kemudian berlari dan menghantamkan sisi tubuhnya pada pintu. Hal itu dilakukan Caleb berulang sampai yang ketiga kali ia berhasil merusak engsel pintu hingga copot dan pintu kamar Nael terbuka lebar.

"NAEL!" pekik Caleb melompat ke dalam kobaran api saat menyaksikan adik laki-laki meringkuk di lantai, di kelilingi oleh api.

Masabodo dengan nyawanya sendiri, akhir-akhir ini Caleb dan Nael memang sangat dekat. Caleb yang berusaha menyembuhkan luka masa lalu disambut baik oleh Nael yang mengajaknya menyibukkan diri dengan berbagai hal.

Karena itu saat melihat Nael meringkuk tak berdaya tanpa berpikir dua kali Caleb langsung melompati kobaran api dan mencapai Nael.

"Nael! Nael, kau mendengarku!?" Caleb mengguncang tubuh Nael, membaliknya dan mengecek adik laki-lakinya yang masih sadar namun tidak berdaya.

"Nael--" kalimat Caleb terhenti saat tangannya menyentuh perut kanan Nael dan mendapati rembesan darah menempel di tangannya. "Ayo Nael!"

Dengan sigap Caleb membopong Nael, dua orang pekerja laki-laki terlihat menyusul ke dalam kamar guna membantu Caleb dan mengambil alih Nael darinya.

"Tabib! Kau, siapapun! Cepat panggilkan Tabib!" Caleb masih dengan kepanikan penuh meminta pelayan memanggilkan Tabib untuk Nael.

"Caleb..." Suara lemah Nael sukses membuat Caleb teralih.

Pemuda yang dipegangi oleh dua pelayan pria itu menggelengkan kepala dan mengulurkan tangan berlumur darahnya ke arah Caleb.

Caleb menyambut tangan itu dan mendekat. "Nael, jangan katakan apapun. Aku serius. Tutup mulutmu dan kau akan baik-baik saja."

"Cal--"

"SSSTTT!" Dalam gerakan cepat, Caleb membekap mulut Nael dan mengambil alih pemuda itu untuk dipapah menuju kamar terdekat selagi menunggu Tabib.

"Berbaring disini, kubantu." Caleb mengarahkan Nael berbaring di kasur namun pemuda itu menggeleng.

"P-punggungku.."

Caleb merangkak ke atas kasur, memeriksa punggung Nael dan terkejut saat mendapati permukaan kulit pemuda itu mengelupas hampir di setiap bagian yang Caleb kenali sebagai efek dari luka cambuk.

"Ini hukumanmu?" Tak menunggu jawaban Nael, Caleb menempatkan dirinya duduk di sisi Nael lalu menahan  bahu pemuda itu sehingga punggungnya tak langsung bersentuhan dengan kasur.

"Tahan sedikit sampai Tabib datang, dia akan mengobati segalanya. Nael, kau... jangan mati, ya? Kau sudah berjanji." Omel Caleb cemas bukan main.

Selang sepuluh menit Tabib laki-laki datang bersama asistennya dan langsung meminta Caleb menunggu diluar selagi mereka berdua menangani Nael.

Caleb memanfaatkan waktu tunggunya tersebut untuk mengabari Alizeh tanpa tahu kalau gadis itu adalah penyebab luka tusuk di perut sisi kanan Nael.

Odesa, Asael, dan Laverna yang baru tahu mengenai kebakaran di kamar Nael berkumpul di ruang utama rumah dan menunggu informasi terbaru mengenai Nael yang sedang ditangani oleh Tabib. Caleblah yang terlihat paling sibuk, berlari mendaki anak tangga dengan tergesa-gesa lalu menggedor-gedor kamar tidur Alizeh.

A Little Sister Guide Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang