37 | Lunch with her

5K 716 313
                                        

"Bagaimana hidupmu selama dua tahun terakhir, Odesa? Aku jarang mendengar kabar tentangmu."

Odesa tersenyum lalu menjawab. "Aku baik-baik saja seperti yang terlihat, Duchess."

"Kau mulai lagi," Laverna mendesah berat saat Odesa memanggilnya dengan sebutan Duchess seolah menekankan fakta bahwa mereka tak lebih dari orang asing. "Odesa, kau di rumahku sekarang. Panggil aku dengan sebutan ibu seperti biasa, aku tetap ibumu. Benarkan Alizeh?" Sorot mata wanita itu jatuh pada Alizeh yang duduk dihadapannya bersama Asael.

Chris? Jangan ditanya, pria itu bisa tiba-tiba muncul dan bisa tiba-tiba hilang seolah tidak pernah ada di muka bumi. Lagipula biasanya Chris tidak suka pada obrolan yang tidak berguna.

"Benar." Alizeh menyahut beberapa detik kemudian, usai membiarkan hening menyelimuti mereka sesaat.

"Baik ibu." Angguk Odesa patuh, membuat senyum manis Laverna tersungging lagi. "Kabarku benar-benar baik, hanya saja aku mulai merindukan kalian. Dan, oh... bagaimana kabar Christian?"

"Seperti yang terlihat, dia memenuhi peran penting sebagai seorang kakak bagi adik-adiknya dan setuju untuk belajar dari Charles."

"Jadi, Christian sudah menerimanya?"

Laverna tersenyum dan mengiyakan dengan anggukan. "Dia menerima jabatan Duke yang kelak akan diturunkan padanya."

"Baguslah, aku turut senang mengetahuinya."

"Sangat sulit membuatnya kembali ke rumah, selama dua tahun Chris tinggal diluar kota. Alasannya mengurus bisnis Charles yang berada disana, dia hampir tidak pernah pulang. Surat yang aku kirim juga jarang dibalas, sekalinya dibalas isinya penolakan pulang ke rumah dengan alasan sibuk." Laverna bercerita tentang apa saja yang Chris lakukan jauh sebelum dirinya memutuskan untuk tinggal di kediaman Phineas dan setuju menjadi penerus Charles.

"Ohh begitu," Odesa mengangguk-angguk menyimak setiap detail yang mantan ibu mertuanya katakan tentang Chris.

"Chris tidak mau pulang, sekalinya pulang karena pihak akademi tempat Alizeh belajar mengirimkan surat panggilan padanya. Kepala akademi disana tahu kalau Charles akan selalu membela Alizeh apapun yang gadis itu lakukan, itu sebabnya mereka memanggil Chris." Tutur Laverna antusias.

"Dan... Christian pulang?"

"Benar, dia pulang setelah sekian lama. Kami langsung merayakan ulang tahunnya yang terlewat bersama adik-adiknya juga." Laverna menyahut antusias, bahkan Alizeh yang duduk dihadapan wanita itu seolah bisa melihat binar-binar cerah berkeliauan dimatanya.

Sampai binar itu mendadak pudar tergantikan oleh tatapan sendu. "Aku benar-benar masih tidak menyangka kita telah menjadi orang asing selama dua tahun belakangan ini, Odesa. Aku masih menganggapmu sebagai putriku sendiri. Aku senang jika kau baik-baik saja disana, tetapi berkunjunglah lebih sering." Ujar Laverna sembari meremas lembut pergelangan tangan Odesa yang diraihnya.

Mimik canggung sesaat tertangkap di wajah Odesa. "Aku tidak enak hati, Bu. Rasanya... kurang pantas jika mantan menantu--"

"Kau adalah putriku." Ralat Laverna tak suka mendengar julukan yang Odesa berikan pada dirinya sendiri.

"Selamanya begitu."

"Ibu..." Terbawa suasana, Odesa menghamburkan diri ke dalam pelukan Laverna.

"Sayang, kau masih lembut seperti dulu. Tidak ada yang berubah." Bisik wanita itu.

Membiarkan keduanya mengobrol dan mengenang masalalu, Asael memilih menikmati teh hangat yang disajikan dalam kedamaian. Sesekali mata pria itu tertutup saat menyesap teh dari dalam cangkir miliknya lalu kembali terbuka setelah teh mengalir sepenuhnya ke perut.

A Little Sister Guide Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang