30 | Consider

5.5K 708 150
                                        

"Alizeh ayo!"

Alizeh menggeleng, ini terlalu jauh dari dugaannya. "Aku tidak bisa, Eros. Kalian pergi saja." Mengingat luka tusukan perut yang didapatnya akibat perlawanan dari korban, Alizeh tidak sanggup melompat ke bangunan lain menggunakan tali.

"Aku memegangimu." Ujar Eros seraya mengulurkan tangan kekarnya ke arah Alizeh, mana mungkin ia tinggalkan gadis itu begitu saja terlebih mereka adalah rekan.

"Kalian duluan saja. Aku akan menyusul."

"Itu konyol, kita datang bersama maka pergi juga harus bersama."

"Teman-teman ayo!" Joe berseru, perempuan itu memegang tali paling depan. "Ayo cepat sebelum penthousenya meledak!"

Alizeh menoleh ke belakang, menyaksikan penthouse tempat Yuri tinggal terbakar. Dendamnya terhadap gadis itu telah usai bersama dengan kematiannya, tetapi Alizeh pun merasa ajalnya sudah dekat.

"Aku bisa menggendongmu." Tawar Eros cepat.

"Tidak perlu, aku bisa. " Alizeh menolak, ia tetap ingin berusaha menyebrang ke gedung lain tanpa bantuan Eros.

Keputusan Alizeh berakhir buruk, ia terpeleset dan jatuh, tak tahu kalau Eros dan Joe ikut jatuh karena tali pengikat mereka yang berada di gedung lain putus.

Alizeh tahunya ia mati sendirian dan mengira Eros bersama rekannya yang satu lagi sedang berfoya-foya menikmati hasil rampokan terakhir mereka. Mana tahu kalau sebenarnya Eros dan Joe juga mati hari itu akibat jatuh dari ketinggian sama sepertinya.

Kalau ditanya perihal hubungannya dengan Eros apa... Alizeh akan jawab tidak tahu. Sejak awal tidak ada ikatan pasti antara dirinya dan pria itu, hanya terkadang mereka saling perhatian dan mencium satu sama lain. Apa itu cukup untuk disebut sebagai pasangan kekasih? Tidak! Mungkin hubungan tanpa status terdengar lebih baik.

"Alizeh, sudah siap?" Suara Laverna berhasil mengacaukan lamunan Alizeh.

Gadis itu menatap sang ibu yang berada tepat dihadapannya, sibuk merapihkan rambutnya yang dianggap berantakan.

"Nah, putri ibu terlihat lebih baik dan sangat cantik." Ucap Laverna memuji sang putri. "Aku minta maaf karena memarahimu semalam, aku dan ayahmu sangat khawatir. Kami--"

"Tidak apa-apa." Alizeh memotong ucapan Laverna dengan lembut lalu mengangguk. "Sampai bertemu lagi, Ibu. Aku titip salam untuk Ayah."

"Chris akan mengantarmu dan memastikan perjalananmu ke asrama aman."

"Terimakasih."

'Mereka bahkan tidak tanya apakah aku mau diantar oleh Chris atau tidak, ah... sudahlah.' Alizeh mengangguk, setelah puas berpelukan dengan Laverna ia bergegas masuk ke dalam kereta kuda dimana Chris sudah lebih dulu duduk disana.

Dalam sekejap Alizeh langsung yakin kalau itu Chris, terlihat jelas dari gesturnya yang hanya menatap keluar jendela.

'Terkonfirmasi Chris.' Batin Alizeh was-was terlebih saat ini hanya ada dirinya dan Chris saja di dalam kereta kuda yang berjalan.

Tidak ada percakapan, tidak ada kontak mata. Perasaan mengganjal itu tiba-tiba datang lagi, saat Alizeh teringat Chris bisa berbagi pikiran dengan Eros tetapi Eros tidak berbagi pikiran dengan Chris. Yang terjadi pada Chris diketahui oleh Eros, tetapi yang terjadi pada Eros tidak diketahui oleh Chris.

Dua jiwa dalam satu tubuh dengan salah satu dari mereka menginginkan yang lainnya lenyap agar bisa menjadi pemilik tunggal dari tubuh tersebut.

"Kak--"

A Little Sister Guide Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang