"No!" Alizeh menolak. "Aku baik-baik saja." Ia berbalik setelah melepaskan tangan Chris yang menahannya dan lanjut membuka pintu kamar.
"Kenapa?" Chris beralih menahan sisi pintu kamar Alizeh sebelum gadis itu menutupnya. "Dia melakukannya padamu."
"Kau memiliki maksud lain, aku tahu itu." Desis Alizeh menatap Chris tajam. "Aku tidak bodoh. Setelah yang terjadi tempo hari, aku tahu ada sesuatu dalam dirimu yang berusaha menghancurkanku."
Chris terkekeh pelan. "Jadi, kau pikir dia memelukmu karena menganggapmu saudari?"
"Apa jawabanmu untuk itu, Nona Alizeh?"
"Enyah dari hadapanku." Tegas Alizeh menekan tiap kata yang keluar dari mulutnya. "Sekarang juga."
"Nael juga begitu, tapi kau tak memintanya enyah." Cibir Chris. "Mengapa ada perbedaan?"
"Kau tidak masuk akal."
"Karena kalian saling menyukai satu sama lain?" Tak menanggapi Alizeh, Chris tetap mengoceh. "Kalian tahu itu dilarang, kan? Dan kini kau marah karena aku menghancurkan kencan diam-diam kalian?"
"Jaga bicaramu!" Seru Alizeh kesal.
"Kekesalanmu membuktikan ucapanku benar."
"Lalu aku harus apa? Diam saja saat kau menuduhku? Maka kau akan mengatakan 'kau tidak mengelak artinya semua ucapanku benar' begitu? Mau diam atau bicara aku tetap menjadi bukti dari ucapanmu, kan?"
"Aku tidak mengerti mengapa ada manusia sepertimu di dunia ini? Bukankah dunia ini terlalu indah untuk manusia paling tidak masuk akal..." Alizeh mengoceh panjang, tetapi Chris mendadak tuli.
Pria itu tidak mendengar satupun kalimat yang keluar dari bibir Alizeh, fokusnya jatuh pada tangan gadis itu yang lengah dalam memegangi pintu sehingga ada kesempatan bagi Chris untuk mendorong pintu terbuka sebesar tubuhnya dan menyelinap masuk dihadapan Alizeh setelah berhasil membuat gadis itu mundur menjauhi pintu karena refleks.
Sepasang mata Alizeh membulat terkejut. "Kau...! Apa yang kau lakukan di dalam kamarku?"
"Baru saja masuk." Sahut Chris asal, pandangan langsung mengedar ke segala arah meski ini bukan pertama kalinya ia berada di kamar Alizeh.
"Aku bilang keluar." Kalimat penuh penekanan keluar dari sela bibir Alizeh, tetapi Chris tak menggubris.
"Ini lebih berwarna dari milikku, aku baru saja menyadarinya."
"Kak Chris!" Tegur Alizeh.
Saat pandangan pria itu jatuh ke arahnya, Alizeh dengan cepat menunjuk ke arah pintu. "Ayo keluar sana!"
"Bukankah kau sendiri yang menyuruhku masuk?"
"A-apa?"
Chris meraih pergelangan tangan mungil Alizeh hati-hati lalu menariknya mendekat. "Saat kau menghampiriku waktu itu, kau mengizinkanku masuk ke dalam hidupmu. Dari mana kau tahu aku tak menyukai ruang tertutup?"
"Seharusnya aku tidak pernah menolongmu." Balas Alizeh berusaha terlihat kejam.
"Coba lagi." Dari pada kejam, itu malah terdengar lucu. "Kau terlihat sangat lucu saat ini, lihat ke sana."
Chris menunjuk ke arah cermin menggunakan tangannya yang bebas dan saat Alizeh melihat pantulan dirinya sendiri di cermin, Chris berpindah merangkul bahu gadis itu.
"Kau menyebalkan, aku tidak suka saat kau berusaha melakukan segala hal untuk semua orang. Tetapi, saat kau memilih menutupi kebenaran padahal kau punya kesempatan untuk melaporkanku yang telah mengancam hidupmu pada Pangeran Mahkota dan bebas, itu agak menakjubkan. Kau bilang kita keluarga padahal kau tahu aku punya kecenderungan untuk..."
KAMU SEDANG MEMBACA
A Little Sister Guide
Fantasy⚠️Ada tiga peraturan di keluarga Phineas; yang pertama tidak boleh ada pertengkaran antar sesama anggota keluarga, yang kedua tidak boleh melewatkan makan malam keluarga, yang ketiga dan paling penting tidak boleh bercinta antara kakak laki-laki dan...
