44 | All of sudden

6.2K 582 132
                                        

"Ada berapa penjaga yang tersisa di rumah ini?" Chris bertanya pada William--kepala penjaga yang bertanggung jawab atas keamanan seluruh anggota keluarga Phineas di kediaman mereka.

William menganggukkan kepala dan menjawab. "Tuan, ada enam penjaga yang ikut bersama Duke tempo hari sehingga yang tersisa di rumah ini kurang lebih delapan belas orang  karena... Duke pun tidak selamat maka sudah pasti enam orang itu juga."

"Lakukan penjagaan di enam titik dengan tiga orang di tiap titik, tutup dan kunci rapat-rapat seluruh pintu masuk. Ini baru dimulai," ujar Chris pada William.

"Maaf Tuan, tapi bagaimana anda bisa tahu ini baru permulaan?"

Tangan Chris yang akan mengeluarkan pedang dari selongsong mendadak terhenti, pertanyaan Wiliam dipikirkannya sesaat sebelum ia jawab. "Mereka bisa meninggalkan jasad Ayah di tempat kejadian sampai di temukan oleh orang secara acak, tapi tidak mereka lakukan. Mereka malah mengirim jasadnya kembali sebagai bentuk peringatan bahwa mereka ada disini."

"Kalau begitu penjaga yang anda utus untuk menyampaikan situasi ini pada pihak istana..." Ucapan William tergantung, baru ia bicarakan penjaga yang tadi Chris suruh saat tiba-tiba terdengar tapak kaki kuda mendekat dan seekor kuda berlari masuk ke halaman bersama lelaki yang lagi-lagi dikembalikan tanpa kepala.

Genggaman Chris pada gagang pedangnya mengerat. "Itu ancaman untuk menyerah, tapi bagaimana mungkin aku melakukannya? Aku akan mempertaruhkan segalanya." Sekilas wajah Alizeh muncul dalam pikirannya, gadis itu sedang tersenyum ke arahnya sebelum bayang-bayang Nael muncul dan merenggut gadis itu bersamanya.

"Aku bahkan belum memenangkan pertempuran hatiku." Gumam Chris meringis.

"Anda mengatakan sesuatu, Tuan?" Tanya William mengerutkan kening, yakin untuk sesaat ia mendengar majikannya mengatakan sesuatu namun tak cukup jelas.

"Tidak."

Hela nafas Chris terdengar, sembari memasukan pedangnya kembali ke selongsong ia menatap jasad tanpa kepala dari salah satu penjaga yang dimintanya menghadap Raja beberapa saat lalu. Belum sampai sepuluh menit sudah di kembalikan dalam kondisi dan bernyawa seperti itu.

"Panggil tukang kebun dan kayu, minta mereka bereskan jasad pria itu lalu pindahkan kereta kuda ayahku ke dalam. Aku akan menunggu disini."

"Baik Tuan." William dengan patuh mengangguk, setelah membungkuk hormat pada Chris dia berlalu pergi menemui tukang kebun dan kayu.

Untuk saat ini keputusan terbaik adalah tetap berada di lingkungan kediaman terutama bagi anggota keluar lain. Sebelumnya tidak pernah ada serangan semacam ini, itu sebabnya mereka tidak siap.

Laverna tidak pernah menduga kalau suaminya akan pulang dalam kondisi tanpa kepala. Sebelumnya tidak pernah begitu, selama belasan tahun lebih dirinya tinggal dan hidup bersama Charles tak pernah ada seorangpun yang berani menggubris keluarganya.

"Ibu," Caleb memecah keheningan di kamar itu. Sedari tadi Laverna hanya duduk di tengah ranjang dan diam dengan tatapan kosong.

"Ibu?" Sembari mengibaskan tangannya di depan wajah Laverna, Caleb berharap hal tersebut dapat membantu namun nyatanya tidak.

Laverna tetap diam, sesekali berkedip itu pun dalam jangka waktu yang cukup lama. Serangan syok membuatnya tenggelam dalam dunianya sendiri, yang mana dalam dunia itu terdapat dirinya dan Charles sedang berbahagia. Singkatnya, Laverna tenggelam dalam kenangan lama. Mengulang kembali kisah pertemuannya dengan Charles pada waktu itu saat dirinya baru memasuki usia remaja.




"Marina sayang, kemari." Wanita bergaun merah yang lebih akrab disapa Dierra itu mengulurkan tangan ke arah gadis berambut pirang yang berdiri tepat di sebelah putri semata wayangnya. "Bibi punya sesuatu untukmu."

A Little Sister Guide Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang