"Nael, aku saj--" Ucapan Alizeh menggantung disana saat Nael mengabaikannya dan menggeser tubuhnya menjauhi Alizeh.
Saat ini pemuda itu sedang meracik teh lainnya menjelang makan malam usai mendengar Asael diare. Kalau tidak salah, ah. Lebih tepatnya pasti diare karena tehnya. Nael tahu, Chris sembarangan membuat teh. Pria itu sama sekali tidak punya pengetahuan apa-apa tentang teh maupun dapur.
"Kau marah padaku?" Alizeh bergeser mendekat, di tangannya terdapat piring dan lap kering. Gadis itu sedang mencari-cari alasan untuk menetap di dapur lebih lama dan bertanya mengapa Nael begitu dingin padanya akhir-akhir ini.
"Kau marah karena aku tidak menghentikan Kak Chris membuat teh?" Tebak Alizeh cukup masuk akal, tetapi bukan itu.
Nael menatapnya sebentar lalu menggeleng dan lanjut memasukan bahan teh ke dalam rebusan air mendidih. "Aku tidak marah padamu, Ali. Mengapa kau berpikir demikian tentangku?"
"Kau tak marah? Oh, baguslah." Alizeh mengangguk-anggukkan lalu lanjut mengelap piring lain yang basah.
Sebenarnya itu pekerjaan pelayan, tetapi Alizeh mengambil alih dan meminta pelayan-pelayan didapur untuk menyiapkan meja makan sekaligus menata berbagai makanan diatasnya.
"Bagaimana tanganmu? Sudah lebih baik?"
Pertanyaan itu sukses membuat Nael teralih sebentar menatap tangan kanannya yang masih memerah walau tidak semerah diawal dan nyerinya sudah agak memudar walau tetap terasa sakit dan sedikit panas.
"Sudah membaik." Jawabnya tanpa menatap Alizeh, menyibukan dirinya mengaduk-aduk air teh lalu menambahkan gula ke dalamnya.
"Aku minta maaf." Kalimat itu spontan keluar karena rasa bersalah masih menghantui Alizeh. Jika ia tidak mengagetkan Nael pasti tidak akan ada adegan pemuda itu mencelupkan tangan ke air mendidih tadi.
"Tidak apa-apa, Ali. Sungguh, kau tidak perlu merasa bersalah."
"Kalau begitu biar aku yang tuang tehnya ke teko dan kau--"
"Ali cukup." Perintah Nael sembari menahan tangan gadis itu yang akan menyentuh panci lalu menggelengkan kepalanya. "Aku baik-baik saja jadi, tolong simpan kepedulianmu itu sejauh mungkin dariku atau aku akan menganggap kau kasian padaku lagi."
Chris benar hari itu. Tindakan Chris sangat benar dengan menghancurkan bros Nael yang ia suruh orang taruh di dalam kotak Alizeh. Nael jadi sadar kalau mereka saudara dan seharusnya tidak menyimpan rasa atas yang lainnya. Terlepas latar belakang mereka yang tidak sedarah, itu tetap tidak boleh. Ayah dan ibu sudah memberi peraturan bagi mereka khususnya dilarang bercinta antara adik laki-laki dan perempuan.
Walau Caleb memberi dukungan secara tak langsung, Nael tidak mungkin mengikuti kakak gilanya yang nyaris digantung sampai mati karena alasan yang sama. Cinta.
Saat Alizeh melangkah mundur melakukan apa yang diperintahkannya, Nael merasakan sakit luar biasa di dalam dadanya. Ada nyeri yang menjalar disana, yang pasti bukan berasal dari sakit jantung melainkan berasal dari kekecewaan karena Alizeh sungguh melakukan yang ia katakan. Untuk menjauh darinya dan berhenti peduli.
Terbuktikan kalau ia memang tidak pantas untuk apapun. Maka akan lebih baik kalau Nael bersikap dingin pada Alizeh. Bagus kalau seandainya suatu hari gadis itu menyadari perasaannya dan kalau tidak malah akan lebih bagus. Nael mampu menyimpannya sendiri selamanya.
Alizeh yang tak tahu menahu isi pikiran Nael memilih menjauh dari pemuda itu sesuai perintah daripada keberadaannya memperburuk suasana hati Nael. Lebih baik kalau ia melakukan hal lain seperti memeriksa meja makan sebelum Laverna bersama tamu-tamu spesialnya turun.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Little Sister Guide
Fantasy⚠️Ada tiga peraturan di keluarga Phineas; yang pertama tidak boleh ada pertengkaran antar sesama anggota keluarga, yang kedua tidak boleh melewatkan makan malam keluarga, yang ketiga dan paling penting tidak boleh bercinta antara kakak laki-laki dan...
