"Selamat atas pekerjaanmu." Ucap Nael pelan.
"Kau tak takut?" Alizeh menoleh sambil mengelap bercak darah di wajahnya sebelum mengering menggunakan sapu tangan.
Nael terkekeh. "Justru malah aneh kalau kau bekerja tetap di restauran atau tempat-tempat normal semacamnya." Responnya terhadap pertanyaan Alizeh.
Gadis itu lantas mengulurkan sapu tangannya pada Nael. "Wajahmu juga, lap dengan ini."
Sambil mengatakan terimakasih dalam hati, Nael menerima sapu tangan Alizeh lalu mengelap wajahnya. Memberi sedikit tekanan agar bercak darah yang hampir mengering benar-benar lenyap dari sana.
Saat ini keduanya sedang berjalan santai melewati pasar dan sadar kalau mereka menjadi pusat perhatian dari banyaknya orang. Beberapa dari mereka heran karena noda darah dipakaian keduanya, beberapa lainnya biasa saja karena mengingat keduanya merupakan kaum bangsawan dan anak-anak dari Duke wilayah mereka.
Bagi kaum golongan masyarakat biasa seperti mereka wajib hukumnya tidak ikut campur mengenal hal-hal yang dialkukan para bangsawan, kecuali mereka disuruh datang bersaksi ke pengadilan tinggi yang diadakan di istana. Itu pun tak menutup kemungkinan beberapa pihak melakukan tindak suap untuk menutup mulut saksi.
"Mereka selalu begitu." Gumam Nael pelan, mencoba menyejajarkan langkah pincangnya dengan Alizeh saat menyadari hari semakin sore.
Mereka harus kembali tepat sebelum makan malam. Peraturan paling utama yang ditentukan sejak awal dan disetujui oleh masing-masing dari mereka.
"Firasatku tidak enak." Celetuk Alizeh merasa ada sesuatu buruk akan terjadi atau sebenarnya sudah? Entahlah. 'Lagipula aku tidak terlalu peduli pada orang lain, dulunya memang ada yang peduli padaku? Tidak. Aku hanya ingin mengamankan hidupku.'
Dan benar saja ketika mereka berdua sampai di rumah, halaman depan dipenuhi oleh barisan prajurit istana berpakaian jirah besi. Terdapat juga dua kereta kuda yang diutus langsung dari istana untuk menjemput keluarga Phineas dari kediaman.
"Apa yang terjadi?" Alizeh menghampiri Charles dan bertanya sedang Laverna terlihat sibuk mengusap matanya yang basah dengan sapu tangan.
Ayahnya itu terlihat tenang ketika menjawab. "Caleb ditangkap atas tuduhan pemerkosaan terhadap Putri Marquess Lark yang saat ini sedang hamil."
'Yah, aku tak kaget. Itu resiko kalau dia tetap nekat menemui kekasihnya semalam.' Ucap Alizeh dalam hati, sebisa mungkin ia memasang ekspresi paling biasa setelah mendengar jawaban Charles.
"Ibu kalian sangat sedih." Tambah pria itu prihatin, melempar pandangan ke arah Laverna yang sedang dipeluk dan ditenangkan oleh pelayan pribadinya.
"Aku tidak tahu bagaimana cara menghadapi Raja mengingat diriku pernah di cap pengkhianat oleh Raja sebelumnya." Mengutarakan keluh kesahnya, Charles lebih khawatir dengan nasib Laverna ke depannya.
Bagaimana kalau istrinya itu depresi Mengingat kasih sayangnya terhadap anak-anak mereka sangatlah besar?
Sekarang saja Laverna sudah sesedih itu meski Caleb baru dinyatakan sebagai tertuduh, belum tersangka.
"Kita harus datang?" Alizeh bertanya setelah mengamati Laverna dalam diam cukup lama. "Dimana Kak Chris?"
"Dia sudah lebih dulu di istana bersama dengan Caleb. Utusan istana yang datang menjelaskan kalau Chris mendatangi Marquess dengan niat ingin mengenal putrinya, tetapi mereka berdua malah memergoki Caleb berada di kamar Isadora."
'Mengenal? Omong kosong!' Alizeh membuang pandangan ke arah lain dan merotasikan bola matanya malas, dilihatnya para prajurit istana sudah menunggu keluarga mereka untuk masuk ke dalam kereta kuda.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Little Sister Guide
Fantasy⚠️Ada tiga peraturan di keluarga Phineas; yang pertama tidak boleh ada pertengkaran antar sesama anggota keluarga, yang kedua tidak boleh melewatkan makan malam keluarga, yang ketiga dan paling penting tidak boleh bercinta antara kakak laki-laki dan...
