Lian menyusuri koridor rumah sakit, ia terlihat sangat berantakan apalagi setelah mendapat kabar bahwa ana akan segera melahirkan namun harus melalui tindakan operasi Caesar. Lian terlihat tak karuan semalaman ia tak pulang hingga pagi tadi ia baru bisa mengangkat telfonnya saat di hubungi oleh ibunya mengabari tentang istri dan calon anaknya.
Lian dapat melihat kedua org tua dan mertuanya yg sedang duduk berjajaran menunggui istrinya, terpaut raut kesedihan dan khawatir diwajah para org tua itu. Lian semakin merasa bersalah.
Ia perlahan mulai mendekat, lian dan ayahnya bertatap mata terlihat raut kecewa dari ayahnya..
"dari mana aja kamu lian? Dihubungi semalaman tidak bisa" ucap ayah lian dingin...
"M-maafin lian yah, nanti akan lian jelasin kemana lian semalam. Skrg kondisi ana gimana yah?" Suara lian bergetar, ia sebenarnya juga tak tahu apa yg terjadi padanya semalaman tadi, namun rasa khawatirnya lebih besar jadi biarlah lian urus hal itu nanti.
Plak!!!
tangan ibu lian mendarat tepat dipipi mulus anaknya..
"Tidak bertanggung jawab" ucap ibunya dengan tatapan nyalang kepada lian, setelahnya ibu lian langsung berlalu tanpa memperdulikan keadaan lian. Yang ia pikirkan skrg hanya lah tentang keselamatan menantu dan cucunya.
Mama ana berada dalam pelukan papanya yang terus merapalkan doa untuk keselamatan putri dan cucunya, ia tak sempat memperhatikan lian skrg. Lagipun lian sudah diberi peringatan oleh org tuanya sendiri, hal itu membuat papa dan mama ana hanya menyaksikan saja tanpa ikut menghakimi.
Begitu dokter keluar dari ruang operasi, seluruh keluarga langsung menghampiri dokter tersebut, namun mereka tetap memberikan ruang kepada lian paling didepan karena pasti saat ini lianlah yang paling khawatir karena seharusnya jika ia datang lebih cepat ia harus ikut masuk menemani istrinya..
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya dok?" Tanya lian khawatir
"Alhamdulillah pak operasinya berjalan lancar, mohon maaf bapak suaminya?" Tanya dokter tersebut pasalnya dia sudah menanyakan keberadaan lian sedari tadi.
"Baiklah, saya jelaskan disini langsung ya bapak ibu. Berhubung ini memang keluarga inti dari ibu ana sendiri" ucap dokter yang diangguki oleh semua keluarga
Lian harap" cemas..
" Ibu ana mengalami komplikasi medis yang memerlukan tindakan ini untuk menjaga keselamatan ibu dan bayi. Dalam beberapa kasus, jika seorang ibu diberikan obat yang dianggap berbahaya untuk kandungan selama kehamilan, hal ini bisa menyebabkan komplikasi yang mempengaruhi baik ibu maupun bayi" dokter tersebut menjeda ucapannya sebelum akhirnya melanjutkan..
"Ibu ana mungkin membutuhkan pemulihan lebih lama dari operasi, dan bayinya memerlukan perawatan intensif tergantung pada dampak obat terhadap kesehatannya. Kami juga akan selalu memantau kondisi ibu dan bayi setelah melahirkan, doa dan support dari keluarga sangat dibutuhkan. Sebentar lagi ibu ana akan di pindahkan ke ruang rawat inap" dokter tersebut tersenyum tipis, dan menepuk pelan bahu lian yang tampak berkaca"
"Dok, lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya" ucap lian pelan ia amat merasa bersalah..
Papa dan mama ana langsung kembali duduk, karena mama ana kembali.menangis...
Ayah lian langsung menjauh, ia juga amat sedih mendengar kenyataan ini. Sedang kan ibu lian hanya menatap nanar ke arah ruang tempat menantunya di operasi tadi.
Air mata lian luruh, ia kemudian beralih memeluk ibunya walaupun tak ada balasan.
■■■■
Ana sudah dipindahkan keruang rawat inap, lian langsung meminta ruang vvip demi kenyamanan istrinya.. namun sedari tadi ana blm juga bangun sepertinya ia enggan untuk bangun karena sudah lebih dulu kecewa..
Jam sudah menunjukkan pukul 13.00, lian terus saja duduk di samping ranjang ana sambil.menggenggam tangan istrinya, ia terus merapalkan doa untuk kesembuhan istrinya..
Lalu tiba2 hp lian berbunyi, ia mendapatkan telfon dari aro. Saat ini aro sudah berada dirumah sakit ada hal.yang perlu ia bicarakan bersama lian.
Saat ini lian dan aro sudah duduk ditaman rumah sakit. Mereka awalnya saling diam sampai aro menanyakan kabar ana.. dan lian pun mulai menceritakan kondisi ana seperti yang disampaikan dokter tadi. Namun ada satu hal yang aro sadari dari cerita lian...
"Seorang ibu hamil diberikan obat yang di anggap berbahaya"
Kalimat tersebut membuat aro menyerngit.. laluuu
"Bentar li, obat yang dianggap berbahaya? Gamungkin ana minum dengan sengaja kan?" Ucap aro membuat lian seketika berpikir, dia melupakan hal itu sedari tadi seharusnya hal itulah yang pertama yg harus ia pertanyakan.
"Ro gua baru inget, bener kata lo berarti ada yang ngasi obat berbahaya ke ana makanya dia jadi komplikasi medis gini, seharusnya HPL nya masi ada 3/5 hari lagi ro" ucap lian tersadar
"Okee bentar berarti kita harus selesaiin satu persatu, pikiran lo pasti tertuju ke orang yang sama kaya dipikiran gua kan?" Ucap aro lagi membuat lian terdiam sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Lo semalam kemana li? Tiba2 ilang gitu aja" ucap aro
"Gua juga gatau ro, tiba2 gua bangun udh di hotel sendirian dan kepala gua pusing banget" ucap lian
"Gua semalam udh curiga mau nuduh rena, tapi gua liat2 dia sama mamanya ada disana sampai berakhir acaranya li" ucap aro lagi
"Untuk skrg gua masih blm tau ro, lo bantuin gua ya buat nyari tau tentang kejadian semalam. Dan skrg gua juga garus fokus ke ana dan anak gua dulu" ucap lian lagi.
■■□□■■
Setelahnya lian dan aro kembali ke ruang dimana ana di rawat. Aro sekalian ingin menjenguk ana. Karena tadi mereka mendapat kabar dari ayah lian bahwa ana sudah sadar..
Namun baru saja sampai dipintu ruangan lian melihat ana melemparkan hpnya, kemudian menangis dan langsung dipeluk oleh mamanya.
Lian yang melihat itu langsung buru2 menghampiri istrinya.. namun belum sempat di melanjutkan langkahnyaa suara ana kembali terdengar...
"Stopppp!!! Jangan kesini aku gamau liat muka kamu lagi. Kamu BOHONG!" Ana kembali berteriak ia seakan sangat hancurrr
"Sayanggg, kamu kenapa" ucap lian pelan masih dapat didengar oleh ana.
"KAMU JAHAT, KAMU JAHAT, MAS!!!" ucap ana sambil terus menangisss
"Mama suruh dia keluar ana gamau liat muka dia ma, dia jahat" ucap ana lagi memohon kepada mamanya..
Melihat hal itu ayah lian segera menyuruh lian untuk keluar terlebih dahulu, bahkan lian tak mendengarkan perintah ayahnya sehingga harus sedikit dipaksa oleh ayahnya dan aro. Untuk saar ini biarlah ana tenang terlebih dahulu mengingat ia belum stabil dan mudah terguncang.
Namun, ana terus menangis sambil melihat ayah dan aro terus menarik lian agar keluarr dari ruangnyaa, tiba suara ana melemah dan ia kembali pingsan..
"ANA!" Teriak lian sbelum akhirnya benar2 dibawa keluar dari ruang ana.
Melihat keadaan ini papa ana langsung sigap menekan tombol agar dokter segera datang, mama ana pun sedikit panik. Ibu lian juga mulai mendekat ia sangat mengkhawatirkan menantunya itu. Namun tak sengaja ia melihat hp ana yang dilempar tadi lalu ia mengambil hp tersebut dan melihat sebuah foto yang membuat ana langsung histeris dan drop!
Ibu lian menutup mulutnya terkejut melihat satu foto di hp ana, perlahan air matanya mengalir...
"Astaghfirullah" ucap ibu lian pelan.
####
Halo guys, semoga kalian masih mau baca ceritaku yang ini yahh, jangan lupa vote dan commentnya luv, biar aku makin semangat hehe✌🏻
KAMU SEDANG MEMBACA
Head Over Heels
RomanceSatu orang cukup tepat jika dia jelas, berani dan tegas. Kalo cuman bikin bingung mending skip deh!
