Setelah urusan dikantornya selesai lian langsung pulang, ia juga sudah mengusir rena sedari tadi. Wanita itu awalnya tidak terima namun akhirnya ia mengalah dan pergi dari kantor lian dengan memberikan usapan di wajah lian..
Hal itu sontak membuat lian membulatkan matanya, berani sekali rena pikirnya. Memang perempuan itu gila..
Sesampainya di apart, lian langsung menuju ke kamarnya..ia melihat ana tertidur dengan memunggunginya... lian perlahan naik ke atas kasur ia dapat mendengar isakan kecil dari istrinya...
Lian merebahkan diri dibelakang ana, kemudian ia memeluk ana pelan. Tidak ada penolakan lian mengelus pelan perut besar ana, dan suara isakan ana semakin terdengar.. lian mencium bahu ana yang sudah bergetar sejak tadi menahan tangisnya...
Lian lagi, lagi dan lagiii mengucapkan kata maaf...
"Syg maaf, maaffff. Izinin aku jelasin ya aku gamau kamu lagi2 tersakiti karena aku. Aku paham banget hati kamu pasti sakit ngeliat semua itu tadikan? Dengerin aku ya syg" ucap lian membuat ana terdiam sebelum akhirnya mengangguk pelan..
Lian pun mulai menceritakan semuanya mulai dari kerjasama antara perusahaan ayah lian dan mama rena yang mana lian sama sekali tak tau kalau itu perusahaan mama rena sampai akhirnya kerjasama ini dipercayakan kepada rena dan lian sendiri membuat lian sangat terkejut namun tak bisa membatalkan karena sudah menandatangi kontrak. Jika dipaksa maka perusahaan ayah lian akan rugi besar, sehingga menjadi pertimbangan bagi lian dan memilih tetap melanjutkan kerjasama ini...
Ia terlalu takut membuat ana kepikiran jika menceritakan dari awal, sehingga memilih menutupinya dan ternyata idenya lebih buruk.
Lian juga menceritakan awalnya rena sangat profesional, ia tak mencampuri urusan pribadi dengan pekerjaan sama sekali namun lama kelamaan sifat gilanya mulai ditunjukkan. Ia bahkan sempat memperkenalkan lian sebagai pacarnya di hadapan mamanya membuat lian bingung sendiri bagaimana cara mengatakan yang sebenarnya.. hingga aro yang membantu lian untuk mengatakan pada mama rena bahwa lian sudah memiliki istri..
Namun yang lebih kagetnya mama rena tak masalah kalaupun lian sudah memiliki istri, ia tetap mendukung rena untuk merebut hati lian secara terang2an di depan mereka semua. Baginya menjadi yang kedua bukan suatu masalah karena iapun begitu... mama rena lebih gila
Lian dengan tegas menolak tentu saja ia tak mau, ia sama sekali tak suka rena dan ia ingin menjaga hubungan pernikahannya.. respon mama rena tertawa remeh sebelum akhirnya berkata...
"Tidak masalah, jangan buru2 kalian bisa mulai pendekatan dulu jika tak berkenan jangan dilanjut. Tapi jangan sesekali kamu berani menyakiti hati putri semata wayang saya. Kamu tidak tau seberapa gila saya jika ada yg menyakiti putri kesayangan saya. Kamu masih sayang sama ayah kamu dan reputasi perusahaan ayah kamu kan? Ingat ini baik2" ucap mama rena sebelum berlalu setelah menepuk pelan pundak lian...
Setelah lian mengakhiri ceritanya, punggung ana semakin bergetar runtuh sudah pertahanannya...
"Syg, aku harus gimana?, Aku benar2 terjebak skrg tolongin aku syg. Aku beneran gamau ngehancurin perusahaan yg udah ayah bangun dari nol. Tapi skrg rumah tangga aku terancam syg hiks. Aku harus gimana sygku? Ucap lian pelan mulai ikut terisak..
"Aku selama ini sama aro sedang berusaha keras mencari cara, aku gamau gegabah syg. Mama rena sangat gila" ucap lian lagi semakin mengeratkan pelukannya...
"Aku tau ini pasti sakit banget buat kamu syg, makanya selama ini aku mau menanggung semua sendiri. Sampe akhirnya tadi kamu tau sendiri semuanya. Maafin aku" ucapnya lagi dan lagi meminta maaf
Ana tak merespon apapun, ia hanya hanya terus menangis pelan...
"Aku gatau harus respon gimana mas, semuanya penting untuk dikorbankan. Aku juga bingung tapi aku beneran ga rela sedikitpun berbagi dengan perempuan lain dan dia mencoba mendekati kamu. Apalagi kalo sampe mama rena memaksa kamu untuk menikahi rena gimana mas? Apa juga bakalan kamu turuti kemauannya sambil terus mencari cara tapi kenyataannya keinginan rena perlahan terus tercapai?" Ana akhirnya membuka suara..
"Sayang... gagitu aku janji setelah ini aku beneran bakalan menjauh dari rena. Aku gamau sekedar nyari cara lagi aku bakalan bertindak syg. Ini beneran gabisa dibiarkan mereka begitu gila" ucap lian tergesa"
"Terus nasib perusahaan ayah gimana?" Tanya ana
"Aku bakalan omongin semuanya ke ayah syg, supaya ayah tau dan mungkin ada solusi lain dari ayah" ucap lian yakin
"Hmmm, kenapa ga dari kemaren2 kamu lakuin itu? Skrg setelah kamu di sentuh2 dan di dekati sama rena terus ketahuan sama aku kamu baru kepikiran buat bilang ke ayah? Ucap ana lagi
"Syg maaf, aku ga kepikiran sampe sana kemarin2 aku kalut banget aku pusing syg, maaf " ucap lian membela diri
"Udhlah ron, aku udh maafin kamu tapi aku tetap kecewa sama kamu. Jadi kasih aku waktu" ucap rena bangun dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi.
■■■■
Sudah dua hari ini lian dan ana perang dingin, ana yang masih kecewa dan lian yang sedikit kesal dengan respon ana membuat mereka sama2 mendiamkan satu sama lain...
"Aku nanti mau kontrol baby" ucap ana membereskan piring bekas sarapan mereka. Meski sarapan bersama namun tak ada obrolan diantara mereka..
"Oke jam berapa?" Tanya lian
"Jam 10 an" jawab ana
"Aku anter" ucap lian
"Gausa aku sendiri aja, kamu sibuk" ucap ana berlalu ke wastafel untuk mencuci piring bekas makan mereka...
"Yauda hati2, aku berangkat dulu. Assalamualaikum" ucap lian sambil mendekat dan mengelus pelan perut ana dari belakang sebelum akhirnya berlalu..
Hati ana sedikit teriris. Kenapa jadi lian ikutan marah bukannya yang harusnya kecewa ana. Tapi lelaki itu malah ikutan kesal..bahkan dua hari ini lian tetap memeluk ana saat tidur namun terasa kaku dan tak tulus bagi ana..
●●●
"Uring2an banget gua liat2 dua hari ini, knpa lu? Ucap aro yg baru saja masuk keruangan lian
"Ana diemin gua" ucap lian
"Dia masih kecewa li, lo paham lah. Salah kita juga ga ngasih tau dia dari awal. Dia lagi hamil perasaannya juga sensitif dari biasanya" ucap aro mmebuat lian menghembuskan nafasnya pelan
"Kita udh dua hari perang dingin" ucap lian membuat aro terkejut
"Hah? Lo juga ikutan diemin dia?" Tanya aro membuat lian mengangguk
"Kok lu tega si li? Dia lagi rapuh dan lo tau kan kalo lagi hamil tua gitu butuh perhatian dari org lain terlebih dari suami sendiri" ucap aro membuat lian berpikir
"Maaf ro, gua ikutan kesel soalnya setelah gua jelasin semuanya dia bukannya coba ngertiin posisi gua yang udh pusing banget gini, tapi malah nambah beban pikiran gua ro" ucap lian menunduk
"Lo gaboleh gitu, sekesel2 lo dia cuman punya lo sekrg li bayangin dia udh kecapean ngurusin lu, bawa anak lu kemana2, mengubah pola hidup demi calon anak kalian, terus dia tau hal yang membuat dia sedih banget, rumah tangganya berasa dipertaruhkan. Gua juga paham lo juga pasti bingung banget kan? Tapi lo punya gua yang akan selalu bantuin lu dan skrg lu juga bakalan ngomongin ke bokap kan soal ini semua. Jadi jangan bebanin semua ke lo sendiri lagi. Tapi ana? Dia cuman punya lo dia butuh support dari lu skrg, jangan sampe lu nyesel li" ucap aro membuat lian langsung tersadar..
Lian semakin menundukkan kepalanya...dan berkata lirih...
"Gua jahat banget ro, gua egois banget cuman mikirin diri sendiri. Selama nikah sama gua kayanya ana selalu merasa tersakiti ro. Gua harus nebus kesalahan gua ke ana gimana lagi ro? Pdhal dari awal kita udh selalu janji untuk saling jujur, tapi gua selalu menutupi apapun dari dia karna takut dia ga bisa nerima. Gua salah ro" aro menghampiri lian dan menepuk pundak lian pelan..
"Gua izin ro, mau keluar nemenin ana cek kandungan hari ini ya" ucap lian membuat aro mengangguk lalu mengambil kunci mobilnya dan berlalu..
🙁🙁🙁
Satu kata buat lian?
Hehe, jangan lupa vote dan commentnya yah♡
KAMU SEDANG MEMBACA
Head Over Heels
RomansaSatu orang cukup tepat jika dia jelas, berani dan tegas. Kalo cuman bikin bingung mending skip deh!
