Merelakan

547 47 4
                                        

Suara isakan ana terus terdengar di dalam taxi yang dinaikinya, sedari tadi ana menangis pelan mengingat semua perkataan rengganis mamanya rena.
Driver taxi tersebut bahkan sempat menawarkan untuk berhenti terlebih dahulu karena melihat ana menangis pilu ia menjadi kasihan, namun tawarannya ditolak ana dan driver tersebut hanya bisa memberikan tisu sebagai tanda perhatiannya.

"Hiks hiks, makasi pak" ucap ana setelah menerima tisu yg diberika driver taxi tsb.

Flashback
Ana diajak untuk duduk berbincang di salah satu restoran oleh rengganis..

" silahkan duduk" ucap mama rena dingin
"Langsung saja ya, tentu kamu sudah tahu tentang apa yg terjadi di antara suami kamu dan anak saya" ucap mama rena lagi membuat ana mengangguk samar, hatinya gundah dan ada ketakutan akan perkataan yg akan diucapkan selanjutnya oleh wanita didepannya ini

"Anak saya hamil, dan itu anak dari suami kamu. Dia harus bertanggungjawab" ucap mama rena

Ana meremas jarinya, ia sangat ingin marah skrg kalau saja ia tak ingat yg ia hadapi adalah org tua..

"Apa buktinya kalo anak yg dikandung rena itu anak suami saya" ucap ana mencoba tegar

"Hahah" rengganis tertawa mengejek lalu berkata...
"Bukti apa yg kamu perlukan lagi disaat memang suami kamu satu2nya lelaki yg sudah tidur dengan anak saya. Dan suami kamu juga tidak bisa memungkiri itu semua di saat dia sendiri saja lupa terhadap apa yg sudah ia lakukan" mata rengganis kian menajam menatap ana

"Saya tidak bisa percaya begitu saja selama blm ada bukti yg jelas" ucap ana lagi

"Tapi, buktinya skrg kamu dan suami kamu tinggal terpisah kan? Ya berarti kamu sebenrnya juga tidak percaya sepenuhnya sama suami kamu" ucap rengganis lagi berusaha membuat pertahanan ana runtuh

Mata ana sudah berkaca2, namun sekuat tenaga ia menahan tangisnya agar tidak terlihat lemah dihadapan wanita itu.

"Saya hanya butuh waktu saja, dan saya akan tetap mempertahankan pernikahan saya selama blm ada bukti yg nyata" ucap ana tegas

"Oke, make it simple. Gimana kalo kamu tetap mempertahankan pernikahan kamu dan suami kamu juga tetap bertanggungjawab terhadap rena?" Ucap rengganis membuat ana menatapnya tak percaya, karena baru saja wanita itu menawarkan anaknya untuk menjadi yg kedua..

Ana menggeleng tak percaya..

"Tidak masalah bagi rena, karena sayapun begitu. Selama suami bisa adil semua akan lancar saja tidak yg tersakiti, beres" ucap rengganis semakin membuat ana kehabisan kata2

"Saya tidak mau, dan jika memang terbukti itu anak suami saya, saya yg bakalan pergi" ucap ana menatap mata rengganis

"Hahah, ternyata kamu egois juga. Sebenarnya itu lebih menguntungkan anak saya si, tapi apa kamu ga kasihan sama anak kamu ia pasti menginginkan keluarga yg utuh" lagi2 rengganis mengacaukan pertahanan ana.

Ana sudah tidak tahan lagi, ia bangkit dan ingin segera pergi dari sana namun suara rengganis menginterupsi...

"Kamu sebaiknya jangan egois terhadap anak kamu sendiri, tapi kalo emg itu pilihan kamu silahkan saja. Satu hal yg harus kamu ingat jangan sekali2 kamu menghambat suami kamu untuk bertanggungjawab atas hal yg sudah ia lakukan terhadap anak saya, saya menyayangkan cara anak saya mendapatkan suami kamu tapi apa boleh buat mau bagaimanapun hal itu sudah terjadi, nasi sudah menjadi bubur. Walaupun suami kamu dijebak namun tidak menutup kenyataan bahwa ia sudah tidur dengan rena, jadi mau tidak mau suami kamu harus bertanggungjawab" setelah mendengar ucapan rengganis ana langsung pergi begitu saja, satu bulir air mata terjatuh dipipinya..

Head Over HeelsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang