Saat hendak turun dari mobil tangan ana langsung dicekal oleh lian...
"Kita harus bicara" ucap lian dengan tatapan sendu
Mereka saling bertatapan, hingga ana mengangguk pelan dan menyerahkan bayinya pada mamanya untuk dibawa masuk bersama yang lain..
Ana dan lian menuju halaman belakang rumah ana, dan mereka memilih duduk di salah satu kursi yg berada disana..
"Apa yg ingin kamu katakan?" ucap ana memecah keheningan..
"Sayang.. tolong izinin aku untuk disini sama kalian ya?" Ucap lian kemudian
"Setelah semua yg terjadi?" ucap ana terdengar dingin
"Syg aku sama sekali gapernah ngekhianatin kamu, percaya sama aku. Aku gabisa jauh dari kalian ayo rawat kai bersama" ucap lian lagi
"Kamu ngerti posisi aku gak si? Ga gampang buat mencerna semuanya aku kaya berkali2 dikasi kejutan yang sama sekali gak pernah aku harapkan?" Ucap ana terdengar mulai sedikit emosi
"Sayang..." ucap lian lirih ia menyadari semua berawal dari keputusannya untuk menerima undangan pesta malam itu secara diam2 jika saja ia tak datang semua ini tak akan pernah terjadi..seharusnya lian menjaga istrinya dirumah yang sudah hampir melahirkan namun ia lebih memilih memyelesaikan masalah yang malah menambah masalah lainnya..
Lian bangkit dan ia berlutut didepan ana yang masih duduk, ia menunduk dan menggenggam tangan ana, tak ada penolakan namun isakan kecil mulai terdengar dari bibir istrinya..
"Aku harus gimana? Biar kamu percaya sama aku?" suara lian melemah dan ia mendongakkan kepalanya dengan mata yg mulai berkaca2..
"Aku gatau, hiks..." ana menjeda ucapannya karena merasakan sesak di dadanya..
"Mas apapun yang sebenarnya terjadi, kalo kenyataan kalian pernah tidur bersama walau dalam keadaan tidak sadar dan tidak didasari oleh kemauan itu benar terjadi gimana? bahkan skrg dia mengaku hamil anak kamu, hiks hiks... dengan begitu kamu tetap udh mengkhianati pernikahan kita mas. Aku ga sanggup menerima jika semua itu benar dan.. lebih baik aku yang mengalah hiks hikss" ana menumpahkan seluruh air matanya yang sedari tadi ia tahan
Lian semakin menunduk ingin membantah namun skrg ia blm memiliki bukti yang kuat..
"Sayang aku bakalan secepatnya nyari bukti. Aku bakalan ngebuktiin ke kamu bahwa semuanya ga bener sayang" ucap lian lagii
"Tapi skrg? Kamu gabisa membuktikan apa2 kan? Itu bikin aku sakit mas, bayang2 kamu berkhianat bikin aku gasanggup untuk sekedar ngeliat kamu apalagi harus tinggal bersama kamu" ucap ana sambil terus menangis..
"Untuk sekarang sebaiknya kita begini aja dulu mas, aku juga gabakalan ngelarang kamu untuk ketemu kai kalo kamu lagi pengen liat dia. Tapi untuk tinggal bersama gabisa mas, aku gamau nyakitin diri aku sendiri" ucap ana lagi mendapat gelengan dari lian..
Tangis lian pecah, ia benar2 tak mau tinggal terpisah dengan anak dan istrinya..
Ana menangkup pipi lian dengan kedua tangannya menatap dalam mata suaminya itu, lalu ia berkata...
"Kita begini dulu ya, kasih aku waktu untuk berpikir dan menenangkan diri mas, izinin aku dan anak kita untuk menata hidup kami perlahan tanpa kamu dulu ya? Sampai waktu yg tidak ditentukan" ana menghapus air mata yang membasahi pipi suaminya dan beranjak dari sana meninggalkan lian yang masih terus menumpahkan tangisnya.. kata orang orang laki2 tidak boleh menangis tapiii.. lian menangis.
■■■●●■■■
Sebelum lian dan keluarganya berpamitan ia sempat menghabiskan waktu untuk meilhat anaknya terlebih dahulu.. sehingga saat mereka sudah pulang barulah ana keluar dari kamarnya, matanya terlihat sangat sembab sepertinya ia terus2an menangis sedaritadi..
Mama lita dan art dirumahnya baru saja selesai membantu ana untuk membereskan barang2nya.. dan saat ini kai sudah kembali tertidur dalam box bayinya setelah dimandikan dan di susui oleh ana.
Namun saat mamanya hendak keluar ia melihat ana duduk terdiam di atas kasurnya dengan tatapan kosong.. mama lita menghampiri anaknya ia mengelus pelan rambut ana dan memberikan senyuman tulusnya..
Ia ikut duduk didepan ana dan menggenggam tangan putrinya itu..
"Sabar ya sayang.. ujian dalam rumah tangga itu pasti ada, tinggal gimana cara kita menghadapinya aja" ucap mama lita
Ana menatap mata mamanya.. ia tersenyum miris..
"Ma, kenapa rasanya sakit sekali. Disini sakit banget mah. Hiks hiks" ucap ana sambil menunjuk bagian dadanya dan mulai kembali terisak..
Mama lita langsung memeluk ana erat, ia ikut merasakan sakitnya..
●●●●
Seminggu berlalu ana benar2 merawat bayinya sedikit kewalahan karena seharusnya ada peran lian disana, lian sempat datang beberapa kali untuk melihat anaknya namun ia tak pernah berpapasan langsung dengan ana. Istrinya lebih banyak menghindar dan tak ingin bertemu lian, susah payah ana menata hatinya jika dengan melihat muka sendu lian ia takut akan luluh ..
Ssshhh..
Ana duduk di atas ranjang sambil mengompres dadanya, sudah beberapa hari ini dadanya terasa perih dan asinya tidak keluar, bahkan ana sempat mengalami demam. Ia sudah berkonsultasi kepada dokter yang mengatakan bahwa bisa saja ini disebabkan karena ana terlalu stress dan banyak pikiran, lalu dokter menyarankan untuk pijat laktasi, ana sudah mencoba dengan mamanya namun hasilnya masih sama saja walaupun ada sedikit perkembangan yaitu ana tidak lagi demam, tapi tetap saja asinya tidak mau keluar..
Ana menangis lagi2 air matanya keluar, ntah rasa sakit mana yang menyebabkan ia kembali menangis..
Sepertinya bayi mungil yang tadinya tidur nyenyak didalam box nya juga ikut merasakan emosional ibunya, tiba2 saja bayi kecil itu ikut menangis.. dan ana dengan sigap mengambil lalu menggendong bayinya..
Kai semakin histeris, sepertinya ia terbawa perasaan ibunya ia juga mulai mengdusel kearah dada ana mencari sumber kehidupannya yang kini sedang bermasalah.. ana kembali menangis pelan mengingat saat ini ia tak dapat menyusui anaknya..
Saat ana hendak keluar memanggil mamanya, tepat di depan pintu kamarnya ia melihat lian disana hendak meraih gagang pintu kamarnya...
Mereka bertatapan sejenak, rasanya lian sudah lama sekali tak melihat istrinya ini..
"Biar aku coba bantu boleh? Aku udh dengar semuanya dari mama" ucap lian menyampaikan alasan kenapa ia ada didepan kamar istrinya skrg..
Ana meringis kecil, lian sudah tau dan skrg posisinya dilema haruskah ia menerima bantuan dari suaminya.. keadaannya darurat jadi tak apa bukan? Lagi pula lian masih suaminya..
Hening, suara ana seperti tercekat hingga...
Huaaaaa, oeeee oeeeew eheek huaaaa
Kai kembali menangis dalam gendongan ana, sepertinya bayi itu paham bahwa bantuannya sudah datang namun ia harus ikut andil.agar mamanya menginzinkan papanya ikut membantu..
Ana sedikit panik sebelum akhirnya, menatap lian kembali dan mengangguk, dan berbalik menuju ranjang. Hal tersebut langsung direspon lian ia ikut masuk setelah mendapat persetujuan dari ana..
Mama lita datang dan langsung mengambil kai yg masih menangis namun tak sekencang tadi, ia paham ana dan lian butuh waktu berdua..mama lita membawa kai keluar...
Saat ini posisi ana dan lian duduk dipinggir diranjang dengan ana yg berada didepan dan lian dibelakangnnya. Perlahan ana menurunkan daster rumahan yang dipakainya, setelah siap lian langsung memulainya karena iapun sudah mendpaatkaan tutorial dari vidio yang diperlihatkan mama lita tadi..
"A-aku mulai ya syg" ucap lian yang mendapatkan anggukan pelan dari ana..
Selama lian melakukan pijatan, ana dapat merasakan kenyamanan yang tak dapat ia jelaskan namun bersamaan dengan rasa sesak didalam dadanya juga ikut membuat matanya berkaca2..
Keadaan rumah tangga mereka seharusnya skrg sedang bahagia2nya, namun kenyataannya rumah tangga ini sekarang RUMIT tak dapat dijelaskan....
●●●
Terimakasih untuk yang masih mau stay dan baca ceritaku luv.♡
KAMU SEDANG MEMBACA
Head Over Heels
RomansSatu orang cukup tepat jika dia jelas, berani dan tegas. Kalo cuman bikin bingung mending skip deh!
