Trauma

255 24 1
                                        

❛ ━━━━━━・❪ ❁ ❫ ・━━━━━━ ❜

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

❛ ━━━━━━・❪ ❁ ❫ ・━━━━━━ ❜

HYUNGSEOK MENATAP LAYAR TV YANG MEMBERITAHUKAN KEMATIAN JICHANG DAN BAKGU TADI MALAM, pria itu langsung menoleh ke arah Nero yang mematung, matanya terbelalak mulutnya terbuka dan air mata mengalir dipipinya.

"Nero..."

"Nak?"

"Nero!!"

Hyunseong menepuk tubuh Nero pelan untuk menyadarkan gadis itu, tapi Nero sama sekali tak bereaksi, ibu Hyungseok mengguncang tubuh Nero tapi Nero tetap tak merespon.

"Nak!"

.

.

.

"BAGAIMANA BISA ULAR PUTIH SEOUL MATI SEPERTI INI?!!"

Teriakan Jihan tak membuat Nero bergeming sedikit pun, gadis itu hanya menatap foto yang terpajang disana dengan tatapan kosong.

"NERO!"

Jibeom mengguncang tubuh Nero yang lemas dan tak merespon sedikit pun, ia semakin sedih melihat kondisi Nero, dan kematian Jichang.

Ia sangat bersalah karena tak bangun saat Nero membangunkannya, jika saja ia sadar malam itu, mungkin Jichang masih bisa selamat dan Nero tak akan mengalami cedera yang cukup serius ditubuhnya.

Jihan menangis histeris hingga seorang pria datang menenangkan pemuda itu.

"Tak ku sangka ular putih mati, meski sudah melihat masih tak bisa dipercaya"ucap pria itu yang bisa kita panggil Ma Taeso.

"Lama tak berjumpa, Taeso sialan!" ucap biksu nakal, kita sebut saja Ji Gongseob.

"Hari ini sikap mu lumayan tenang"ucap Ma Taeso

"kadang ada hari semacam ini, meski dulu kami selalu berantem aku tetap harus menghormatinya saat dia mati"ucap ji gongseob

"omong' ada yang ingin kutanyakan...siapa yang membunuh ular putih?"tanya ji gongseob

"aku berniat mencari tau, aku pun tak senang dengan ini"ucap ma Taeso.

"Selama ini dia selalu sendiri, sekarang banyak anggota generasi 1 yang berkumpul...."

"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


.

.

.

"Beri tau aku, mengapa ini bisa terjadi?"tanya Jihan

"Ini perbuatan Choi Dongso, kau pun sudah banyak tau apa, kedua orang itu bersiap melawan Choi Dongso"

"tapi sepertinya ada yang salah dan Choi Dongso malah jadi tau tentang hal itu, keduanya dibunuh oleh Choi Dongso semalam"

"Dan Nero... sepertinya Nero diluar prediksi, karena keduanya tau bahwa rencana ini sangat berbahaya dan tak mungkin mereka melibatkan Nero yang tidak tau apa-apa"

"Nero merasakan kejanggalan yang terjadi dan membangunkan aku dan jibeom semalam tapi tak ada salah satu dari kami yang bangun, makanya gadis itu pergi sendiri untuk mencari tau...tapi...kenapa nero..."ucap Jihan mengusap wajahnya kasar.

"Nero datang kerumah ku dengan keadaan terluka dan kacaw, ia seperti orang sedang terkejar, sepertinya Choi Dongso mengincar Nero saat ini karena Nero tau kejadian semalam"ucap Park Hyungseok.

"AAAAAA"

Teriakan melengking itu terasa familiar bagi keduanya, mereka langsung saja pergi ke asal suara.

"Hah..hah...PERGII DARI SINII!!"

Keduanya menemukan Nero yang berjongkok sambil melindungi dirinya sendiri.

"APA YANG INGIN KAU LAKUKAN PADA NERO!!" Amarah Jihan memuncak pada seorang pria yang juga bingung.

"BUKAN AKU! tapi ada seorang pria aneh yang mencoba menyerang gadis itu! aku hanya melindunginya"ucap pria itu tersentak dan berusaha menjelaskan.

"Kemana pria itu pergi?" tanya Taeso menyelidik.

"Ke arah sana"ucap pria itu.

Taeso melirik anak buahnya untuk mengecek apakah perkataan pria didepannya ini benar atau tidak.

"Nero tenang kan diri mu"ucap Jihan mendekati Nero tetapi Nero berteriak saat Jihan menyentuh dirinya.

"Hah...hah"

Luka dikaki Nero terbuka dan mengeluarkan darah membuat Jihan dan Hyungseok jadi semakin khawatir.

"Sepertinya dia mengalami trauma"ucap Ji gongseob melihat Nero yang berusaha menyembunyikan dirinya.

Jihan menahan sakit di dadanya melihat kondisi Nero yang sangat menyedihkan, tangannya terkepal kuat, dendam nya pada Choi Dongso semakin besar.

"Nero..ini aku Hyungseok"ucap Hyungseok berusaha mendekat.

Tapi Nero hanya menatap takut Hyungseok, matanya berair.

Bayangan kejadian semalam terlintas dikepalanya membuat ia menjambak rambutnya sendiri dan memukul kepalanya, semakin ia melakukan itu semakin jelas ingatan tentang kejadian semalam.

"Lee Jihoon...Choi Dongso...hah...hah paman bakgu"

Ma Tarso dan Ji gongseob tersentak kaget mendengar nama yang disebut oleh Nero. Lee Jihoon.

"Hei bocah!"

Taeso menatap Hyungseok.

"Ceritakan semuanya pada ku"ucap Taeso dingin.

❛ ━━━━━━・❪ ❁ ❫ ・━━━━━━ ❜

lookism × OC Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang