"Jadi?"
Laven terdiam sejenak, duduk tegak dengan tangan saling menggenggam di atas pangkuan. Ada ketegangan samar di bahunya, sebab obrolan ini akan mengarah pada topik yang ia rasa cukup serius. Hubungannya dengan ayah memang sudah jauh lebih baik, sudah terbiasa mengobrol tanpa sekat, tanpa harus merasa canggung. Namun, tetap saja, ada batas-batas tak kasatmata yang sulit dilewati, tak pernah diungkapkan tetapi jelas dirasakan. Baik ia dan ayah aslinya sama-sama kaku, seperti dua batu sungai yang terbiasa mengalir bersama arus, tetapi jarang benar-benar bersentuhan.
Kadang, lelucon yang ayah lontarkan terdengar lebih seperti pernyataan datar. Bukan karena tidak lucu, tapi karena Laven tidak tahu di mana letak kelucuannya. Dan kadang, justru hatinya bisa menahan tawa karena itu.
"Menurut Ayah, aku harus gimana?"
Ayah tidak langsung menjawab, melainkan hanya diam sejenak. Matanya sedikit menyipit, entah sedang berpikir atau sekadar memberi kesan bahwa ia berpikir. Alih-alih langsung merespons, ayah justru mengambil cangkir kopi di meja, menyeruputnya perlahan, membiarkan keheningan bertahan beberapa detik lebih lama. Setelah beberapa teguk meminumnya, ayah berkomentar dengan santai, "Ah, nikmatnya."
Laven menarik napas, menyadari maksud di balik gestur itu. Ayah tidak ingin menanggapi dengan cara yang terlalu serius. Bukan berarti menganggap remeh, hanya saja ia ingin meredakan ketegangan yang sejak tadi menggantung di udara.
Laven pun mencoba mengikuti ritmenya. Bahunya yang semula tegang perlahan mulai mengendur. Sosoknya menyandarkan punggung ke kursi lantas menghirup udara seratus yang ia bisa.
"Kamu sudah mengumpulkan pendapat dari siapa saja?"
Laven sempat mengira ayah akan langsung memberikan saran, bukan justru balik bertanya. Namun, ia tetap menjawab, "Aku coba hubungin Kak Lendra. Tapi, ternyata udah keduluan."
Ayah mengangkat alis, tampak tertarik. Laven melihat ada sedikit gerakan di ujung bibirnya, hampir seperti senyuman samar, sebelum akhirnya ayah berkata, "Ayah ke sana karena kakakmu bilang mama kalian sulit dihubungi. Slow response dan banyak alasan kalau ditelfon. Jadi, pas tantemu mengabari, saat itu juga ayah langsung kasih tahu kakakmu."
Laven mengangguk pelan. Ia tidak terkejut mendengar itu. Tapi sedikit jengkel juga sebab ayah justru tak memberitahunya entah apa itu alasannya.
"Kak Lendra lebih nyaranin aku buat sering ke sana. Kalau bisa, nginep dulu buat beberapa saat sambil coba ngobrol."
"Lalu?"
Lalu? Pertanyaan itu sederhana, tapi justru terasa ambigu. Apakah ayah ingin tahu bagaimana ia akan menanggapi saran itu atau ingin mendengar pendapat lain yang sudah ia dapatkan?
"Bunda juga kasih saran yang kurang lebih sama. Tapi, juga minta aku bicara lebih jelas lagi ke mama soal yang pernah aku bicarain waktu itu."
Sejenak, keheningan kembali mengambil alih. Suara detik jam di dinding terdengar lebih nyaring dari biasanya.
"Besok Bunda juga bakal ke sini. Sama Oma."
Ayah mengangkat cangkirnya lagi, kali ini hanya menggoyangkannya pelan tanpa benar-benar meminum isinya. "Sudah menanyakan pendapat Oma?"
Laven menggeleng pelan. "Aku udah tahu Oma bakal jawab apa. Padahal aku nggak bermaksud ngelarang atau gimana. Aku netral, kayak yang aku bilang waktu itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Lavenario
Ficción General🍁END🍁 Tak ada yang istimewa dari kisahnya. Sebut saja ia terlalu pasrah menerima. Kalau ada kata 'berjuang,' maka perjuangannya hanyalah tentang bagaimana caranya bertahan. Emosinya selalu ia pendam. Kalau pun tidak, maka orang lain hanya boleh me...
