Francis Ngamuk Jullien

397 36 16
                                        

Francis menghela nafasnya dalam, sudah ia duga jika hal seperti itu akan terjadi, dilihat dari jari Sang Anak yang masih kosong dan tak tersemat apapun, penolakan pasti sudah diterima oleh Singto.

Anaknya Krist Tsundere Leong sejujurnya hanya pria yang hidup dengan trauma kisah cinta dan Francis memaklumi itu, sangat maklum karena selama bertahun-tahun lamanya pasca kejadian mengerikan dengan Psikopat Theodore, Francis lah yang mendampingi anaknya hingga sekuat sekarang.

Dan ketika seseorang datang dengan membawa cinta sangat besar, normal tanpa obsesi untuk Sang Anak, Francis juga lah yang paling merasa bahagia serta haru.

"Hubby......"

"Ya Honey?"

Geraldo dengan masih memakai appron langsung bergegas menghampiri suaminya padahal ia masih sibuk menyiapkan sarapan untuk semua anggota keluarga Leong.

Suami siaga memang.

"Aku akan pergi setelah sarapan"

"Sepagi ini, Honey mau kemana?"

"Ke Rumah Tuan Muda Andrews"

Krist yang jelas mendengarkan semua ucapan Pere-nya hanya bisa mengerutkan kening tanpa berniat berbicara apapun.

"Untuk apa sayang?"

"Menawarkan opsi memilih pasangan lain, atau ku jodohkan saja dia dengan keponakan ku si Faustin"

"Honey... Hei..."

Francis tiba-tiba saja bangkit dari kursi yang ia duduki dan langsung berdiri menghadap Sang Suami.

"Geraldo Leong dengar, aku yang segemas dan semenggoda ini harus sebegitu effortnya mengejar cinta seseorang padahal dengan value setinggi Pegunungan Alpen, aku punya kesempatan untuk dikejar secara brutal dan ugal-ugalan, tetapi untung saja suamiku yang tampan rupawan menawan ini segera tersadarkan dan akhirnya kita hidup bahagia sampai sekarang"

Geraldo mengangguk setuju, ia memang pernah denial terlalu dalam sampai tidak bisa berpikir jernih jika Francis adalah pilihat terbaik dari semua yang rusak dalam hidupnya.

"Dan sebagai mantan pelaku pengejar cinta, aku akan memberi dukungan pada Singto dengan menawarkan opsi jodoh lain, karena saat ini Tuan Muda Andrews itu pasti sedang sangat patah hati"

"Pere..."

Francis hanya melirik sekilas Sang Anak.

"Loh anda siapa? Kenapa ada di rumah saya?

"Honey....."

Francis tak acuh, ia langsung pergi meninggalkan anak dan bapak yang sifat denialnya sama persis itu.

"Faustin, bisa ke tempat uncle sekarang?"

Berjalan dengan gayanya yang angkuh, Francis benar-benar menghubungi keponakannya tepat di depan Sang Suami dan Anak bebalnya itu, yang ia inginkan adalah kesadaran Krist dengan segala tingkah seenak hati anak itu.

"Seperti Singto akan tergoda saja" Ujar Krist santai tanpa beban setelah Francis benar-benar pergi.

"Jangan anggap sepele seseorang yang sedang jatuh cinta lalu dipatahkan begitu saja, kamu tidak akan pernah tahu tindakan mereka setelah dirinya kamu hempas tanpa kompromi" Geraldo menanggapi sikap Sang Anak yang kali ini memang sudah keterlaluan.

"Baba membela Singto?"

Kali ini tatapan Geraldo berubah, lebih tegas dan menusuk.

"Dengar Krist Perawat Leong, Francis Jullien pernah berada di kondisi yang sama dengan Tuan Muda Andrews, dan suamiku itu sempat berada dititik paling lelah saat mengejarku dulu, beruntungnya aku sadar lebih cepat dan langsung mendekapnya sampai detik ini, itupun tidak mudah, mengembalikan perasaan penuh orang yang telah kita lukai belum tentu kamu sanggup bertahan pada semua prosesnya, jadi jangan anggap sepele keseriusan orang lain hanya karena kamu merasa punya power untuk melakukan itu"

Krist cukup tersentak dengan semua kalimat tegas dari Sang Ayah, belum pernah seumur hidupnya seorang Geraldo Leong bertindak sekeras itu pada Sang Anak.

Demi menjaga mental Buah Hatinya akibat trauma, Geraldo selalu berusaha menjadi seorang ayah dengan segala kelembutan di dalamnya, meski di luar sana ia cukup ditakuti oleh banyak pihak.

Tetapi kali ini Francis memang benar, melihat seberapa seriusnya Singto Andrews dalam menyikapi seluruh perilaku anaknya yang sangat ajaib, kemarahan Geraldo akhirnya terusik juga dan Krist harus segera menyadari semua kesalahannya.

"Pikirkan semua tindakanmu, jika belum siap bicara baik-baik, kalau memang sudah tak ada perasaan silahkan mundur dari hubungan itu tetapi tidak dengan cara menyepelekan perasaan orang lain"

Geraldo berjalan mendekati Sang Anak dan duduk tepat diatas meja agar bisa berhadapan dengan anaknya.

"Dengar Nak, bukan tanpa alasan aku dan Pere mu memberi restu pada Singto, tidak semudah itu juga kami berdua meneguhkan hati untuk memberi segala kepercayaan kami pada pria yang jatuh cinta padamu, banyak pertimbangan, tetapi dari semua kriteria yang kami inginkan, Singto Andrews melebihi ekspektasi kami, jadi tolong pahami itu dengan isi kepala yang jernih"




Huru hara apa ini?

Gak tau

Lagi banyak gaya aja Komandan

Komen yg banyak

Siapa tau update panjang lagi🤭

Babay Maksimals

INTERNTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang