Guncangan

231 35 11
                                        

"Nikah yuk"

Krist seketika menjatuhkan garpu yang sedang ia pegang, suapannya mendadak berhenti karena baru saja mendengar kalimat ambigu yang dilontarkan Kekasihnya.

"Kenapa?" Tanya Singto setelah tak ada tanggapan apapun atas lamarannya.

"Mabuk kamu?"

"Diajak nikah loh kamu, masa aku dibilang mabuk, sadar ini"

Kening Krist berkerut semakin dalam. Seingatnya, hari ini mereka hanya akan mengisi kegiatan mereka dengan bercengkrama setelah 1 minggu mereka jarang sekali bertemu.

Krist yang lebih sering menghabiskan waktu di Kantor Polisi tengah fokus menyelesaikan Kasus Drew yang sebentar lagi akan naik ke meja persidangan, sementara pria yang sedang bermanja padanya saat ini juga sangat sibuk dengan pekerjaan.

Alhasil waktu mereka tidak banyak bahkan untuk saling menyapa lewat ponsel. Singto hanya akan mencuri-curi kesempatan bertemu Komandan Kesayangannya saat ia melakukan wajib lapor di Kantor Polisi atas kasus mantannya itu.

"Lihat" Singto mengangkat tangan kirinya "Sudah terpasang, kamu gak mau samaan kaya aku?"

"Nope"

Singto yang sejak beberapa menit lalu sedang berguling di atas sofa sembari memeluk paha mulus Kekasihnya, mendadak bangkit dan langsung duduk berhadapan dengan Krist.

"Apa hubungan ini akan jalan di tempat saja? Kamu tidak serius?" Singto langsung memberondong Krist dengan pertanyaan-pertanyaan yang nada bicaranya sudah cukup naik.

"Menikah tidak sesimple itu Sing, bukan karena alasan kita saling cinta lantas menikah adalah opsi terbaik dari hubungan ini"

"Krist Leong"

Wajah Singto seketika suram, impiannya seperti patah dan langsung berhamburan begitu saja.

Bersanding dengan Krist dalam ikatan yang lebih sakral bukan hanya perkara karena dia jatuh cinta saja, niatnya lebih dari itu. Singto benar-benar ingin mengambil seluruh tanggung jawab atas keseluruhan hidup Krist.

"Kamu sadar apa yang baru saja kamu bicarakan?"

Krist mengangguk tanpa berpikir panjang.

"Terlalu konyol membahas tentang pernikahan disaat kita masih terjerat dengan masa lalu, dan kalau pun semua sudah selesai, menikah sepertinya belum akan masuk ke dalam daftar masa depan yang sudah ku rencanakan"

"Hubungan yang lebih sakral bisa membuat kita saling menguatkan"

Singto masih mencoba peruntungannya walau keraguan semakin menggerogoti hatinya.

Tanggapan Krist mengenai rencana pernikahan benar-benar di luar dugaannya, belum ada diskusi apapun diantara mereka, tetapi Krist seolah tanpa pertimbangan.

"Tidak akan ada pernikahan Sing, hubungan seperti ini ku rasa hanya butuh saling cinta dan percaya saja, kita tidak butuh ikatan legal yang suatu saat nanti mungkin akan membebani"

Singto habis kesabaran, ia bahkan langsung beranjak dari sofa dan bersiap untuk pergi saja, dia tidak ingin meledak saat ini juga karena mungkin saja dirinya bisa hilang kendali dan berakhir memukul Krist.

Perkataan yang ia terima sungguh menyakiti hatinya, bahkan setelah ia rela mengotori tangannya sendiri demi melindungi Krist, seorang Singto Andrews tetap bukan prioritas dan tujuan hidup dari Krist Leong.

Brengsek!

"Sing... Hei..."

Singto memilih abai atas panggilan Krist, dan tanpa berkata apapun lagi Singto segera melangkah keluar dari Apartemen Kekasihnya.

Kekasih?

Bahkan isi kepalanya masih terus menyebut kata Kekasih pada Krist setelah perasaannya dibuat se babak belur itu.




Hallo

Tes ombak dulu ya masih ada yang baca apa engga🫣😂

Kita liat antusias para warga di kolom komentar

Bye Maksimal✌️🤘



INTERNTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang