Krist memberi kode pada bawahannya untuk menaruh sebuah borgol di tangannya setelah bertatapan langsung dengan Drew Theodore, seseorang yang sudah lama sekali ingin ia ringkus dengan tangannya sendiri dan penantian berkepanjangnya berakhir detik ini juga.
"Kau ditahan atas dasar semua kejahatan yang kau lakukan" Ucap Krist tanpa ragu setelah berhasil memasangkan borgol pada kedua tangan pria itu.
Saat Krist mulai mengangkat Drew dari duduknya dan tibalah mereka saling berhadapan, ia bisa melihat betapa senyum pria itu mampu menyulut kemarahan yang selama ini sudah ia pendam belasan tahun, tetapi Krist tidak bisa gegabah meski tangannya sudah sangat gatal ingin menarik pelatuk dan meledakan kepala Bajingan itu.
"Aku senang bisa melihatmu sedekat ini lagi Boo" Bisik Drew tepat setelah mereka saling menatap.
Sebuah seringai muncul dari salah satu sudut bibir Krist, kali ini tanpa rasa takut "Tetapi aku tidak, aku benci ketika matamu mengarah padaku" Jawab Krist dengan penuh kemurkaan.
"Bawa dia"
Krist yang berusaha setegar karang saat proses penangkapan Drew sedang berlangsung, tiba-tiba saja nyaris ambruk jika tidak ada sebuah tangan yang merangkul pinggangnya.
"Hei it's ok sayang... It's ok" Singto bergerak secepat kilat ketika tubuh kekasihnya oleng, ia segera memberi pelukan disertai bisikan kalimat cinta juga penyemangat agar Krist lebih tenang dan kembali waras.
"I love you Krist Leong, kamu hebat, aku bangga sekali padamu"
Kecupan berkali-kali Singto layangkan di kepala Krist sebagai tanda bahwa ia sangat bangga pada pencapaian Sang Kekasih yang begitu profesional, meski setelahnya Krist tetaplah manusia biasa dengan sebuah trauma yang masih sedikit mengusik.
Singto berjalan beriringan dengan Krist ke arah luar tempat Drew disekap, dan semua anggota kepolisian yang ikut dalam penyergapan ini sudah menunggu Sang Komandan untuk diberi perintah lagi.
Kedua sejoli itu begitu menyita perhatian dan itu juga terjadi dengan Drew yang sudah duduk tenang di dalam mobil, pegangan tangan Singto pada pinggang pria yang begitu ia cintai sungguh meremukkan seluruh perasaanya yang sudah tumbuh sejak belasan tahun lalu.
"Kami akan langsung membawa tersangka, untuk Tuan Andrews dan Tuan Leong silahkan datang ke Kantor Polisi agar bersedia memberi keterangan" Ucap salah satu anak buah Krist sebagai tindakan formal dari pihak Kepolisian.
Geraldo dan Singto hanya menuruti dan akan bersikap kooperatif, biar bagaimana pun mereka sempat melanggar hukum meski akhirnya berpikir waras juga untuk menyerahkan Drew pada pihak yang lebih pantas.
"Kami akan datang setelah ini" Ungkap Geraldo.
"Kalau begitu aku akan langsung saja ke Kantor Ba"
"Siap Komandan"
Krist yang sudah berpamitan dengan Babanya, langsung saja digiring ke satu arah oleh Singto, sebelum kekasihnya meninggalkan TKP, ia harus memastikan dulu kondisi Krist tetap baik-baik saja.
"You good?" Tangan Singto sudah menjalar ke atas kepala Krist untuk merapihkan rambut Krist yang berantakan dan entah mengapa ia selalu suka dengan kondisi seperti itu.
"Ya, aku tidak pernah merasa sebaik hari ini"
Singto mengangguk sembari tersenyum hangat, juga memberi sebuah usapan lembut pada pipi kiri Kristnya.
"Semua akan baik-baik saja, kau hebat sayang"
"Terima kasih"
Tanpa aba-aba Singto mendadak memberi sebuah kecupan hangat nan lembut pada bibir Krist, bukan ciuman penuh nafsu tetapi hanya sebagai bentuk dukungan dan penyaluran cinta terbesarnya pada pria itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
INTERN
Fiksi Penggemar"Anaknya Tuan Leong tampan dan manis, serakah juga ya kamu" -Singto Andrews-🧑💼 "Merdu banget suara Buaya Darat" -Krist Leong-👮
