Krist berjalan lemah menuju rumah orang tuanya, setelah perselisihan beberapa hari lalu ia memang belum berani menunjukan dirinya di rumah itu. Tetapi biar bagaimanapun kondisi mereka, Krist tetaplah anak semata wayang Francis dan Geraldo yang pada akhirnya harus menurunkan ego juga untuk pulang dan bertemu kedua orang tuanya untuk meminta maaf atas semua sikap menyebalkannya belakangan ini.
Rumah terasa sedikit ramai saat Krist baru saja memasuki ruang tamu, mungkin mereka memang sedang makan malam terlebih sepupunya Faustin pasti juga sedang berada bersama Baba dan Pere.
Dengan sisa tenaga yang ia punya, Krist berbalik ke arah meja makan untuk menyapa seluruh keluarganya, tetapi baru saja beberapa langkah mendekat Krist mendadak kaku. Disana terlihat pemandangan penuh tawa antara kedua orang tuanya dan Faustin, oh ada satu lagi plot twistnya karena ternyata mereka kedatangan seseorang juga.
"Sayang...."
Geraldo yang lebih dulu menyadari bahwa seseorang sedang memperhatikan mereka, dan sebenarnya ia cukup terkejut karena ternyata Sang Anak memutuskan untuk pulang secepat itu, padahal biasanya jika mereka berselisih paham, Krist akan memberi waktu cukup lama untuk kembali bertemu lagi dalam kondisi emosi yang lebih stabil.
"Hai Ba" Sapa Krist dengan sebuah lambaian tangan singkat...
"Kenapa tidak bilang kalau akan pulang nak"
"Oh... Aku hanya sebentar, ada beberapa berkas penting yang ternyata ku tinggal di kamar, silahkan diteruskan saja makan malamnya"
Krist tersenyum singkat ke arah semua orang yang berada di ruang makan sebelum memutuskan untuk melangkah menjauh saja dan ingin segera kembali ke kamarnya.
"Tidak ingin makan bersama?"
"Aku sudah makan tadi Ba, terima kasih"
"Kita lanjut makan saja Gerald, kamu harus coba ini Faustin dan Singto juga ya, aku masak dengan penuh cinta malam ini"
"Uncle selalu numero uno" Faustin tentu senang mencoba apapun yang di masak oleh Francis, karena rasanya tidak pernah mengecewakan.
Sementara Singto hanya bisa mengangguk kaku, karena dia juga cukup terkejut saat melihat Krist ternyata pulang ke rumah orang tuanya, padahal ia menyanggupi undangan dari Francis karena pria itu bilang jika Krist tidak akan pernah kembali secepat itu saat sedang berselisih paham dengan orang tuanya.
"Aku lihat anak kita sebentar Honey" Bisik Gerald pada suaminya.
"Lanjutkan saja makanmu Gerald, anak itu pasti langsung pergi dari rumah ini" Balas Francis dengan nada lembut tetapi penuh dengan ketajaman.
Faustin dan Singto sebenarnya cukup canggung, terlebih pada sikap Francis yang terlihat sangat tidak ramah pada Krist. Singto mungkin bisa menebak karena masalah apa, tetapi bagi Faustin ini cukup mengherankan mengingat Francis adalah sesosok ayah yang kecintaan level akut oleh anak semata wayangnya itu.
Tetapi untuk bertanya saja Faustin segan, karena ia memang tidak suka mencampuri urusan orang lain, meski Francis adalah pamannya sendiri.
"Ok.. Ok.. tahan dia di ruang isolasi saja dan beri penjagaan ketat, aku akan secepatnya kesana"
"Sayang... Hei.. Ada apa?"
Gerald yang melihat Krist tengah terburu-buru keluar dengan wajah panik, langsung memberi reaksi dan mengabaikan larangan Francis untuk tak mempedulikan anaknya.
"Maaf Ba.. Sepertinya aku harus kembali ke tahanan, Drew melakukan percobaan bunuh diri, aku pamit sekarang Ba"
"Nak... Hei...."
Krist berlari secepat kilat tanpa mempedulikan lagi teriakan Sang Ayah, yang ia butuhkan sekarang adalah bagaimana mencegah Psikopat gila itu agar tetap hidup untuk menghadapi Pengadilan yang sesungguhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
INTERN
Fanfiction"Anaknya Tuan Leong tampan dan manis, serakah juga ya kamu" -Singto Andrews-🧑💼 "Merdu banget suara Buaya Darat" -Krist Leong-👮
