Kita Kenapa?

126 23 9
                                        

"Apa Bosmu ada di dalam?"

"Anak Magang...."

Krist menghela nafas berat, masih saja dia dianggap anak Magang oleh beberapa.orang di perusahaan ini, memangnya berita belum menyebar luas soal siapa dia sebenarnya?.

Ya memang mereka terlalu sibuk untuk mengurusi hidup orang lain, karena sejatinya menjadi anak buah Singto Andrews seperti hidupmu hanya soal pekerjaan saja kalau sedang di Kantor.

Singto terlalu aktif membuat sibuk semua bawahannya agar tidak ada yang memiliki kesempatan untuk bertindak seenaknya.

"No.. No.. Anak Magang ya, big no... Memang Bosmu tidak pernah memberi pengumuman soal statusku sekarang?"

Jeslyn sang sekretaris baru langsung menampilkan wajah tidak ramah..

"Yang kami tahu ya kau ini Anak Magang, lalu berharap jadi apa? Pemilik Perushaan?"

Krist mengepalkan salah satu tangannya, ingin rasanya ia memukul wajah congkak sekretaris baru dan gatal itu...

Bagaimana Krist bisa menilai perempuan gatal?

Entahlah, ia ingin saja menilai jelek seluruh orang yang berdekatan dengan Singto, jangan lupa jika Krist adalah profiller bersertifikasi, pengalamannya sudah mendunia, jadi kalau hanya menilai perempuan biasa biasa saja ini, itu sangat mudah baginya.

"Sudahlah, tidak perlu tahu mendalam siapa aku, yang jelas aku datang ke sini bukan sebagai mantan anak magang, tetapi sebagai penegak hukum, tanya saja pada Bosmu nanti"

"Dia sedang menerima tamu"

"Sampaikan dulu kalau Krist datang"

"Tidak mau"

Krist benar-benar geram, lihat saja nanti kalau dia sudah resmi bersama Singto, yang paling pertama akan ia singkirkan dari posisi pekerjaannya sekarang adalah wanita congkak ini.

"Nanti kita bicarakan lebih lanjut, perihal bahan baku yang akan saya butuhkan..."

"Sing..."

Singto yang baru saja keluar ruangan bersama seseorang, cukup terkejut ketika melihat Krist sudah berdiri di dekat meja sang sekretaris.

"Loh... Hai sepupu"

Mata Krist seketika terpejam saat mendengar sapaan yang paling ia kenali dan ternyata ancaman Francis kemarin tidak main-main.

"Faustin..."

"Hai Captain Krist... Long time no see"

Faustin langsung saja bergerak memberi sebuah pelukan singkat pada sepupunya, sudah lama mereka tidak bertemu karena yang ia tahu Krist begitu sibuk mengejar penjahat dan dirinya juga lebih banyak menghabiskan waktu dengan urusan Perusahaan.

"Ada yang ingin ku sampaikan pada Tuan Andrews, pertemuan kalian sudah selesai kan?"

"Sebenarnya kami ingin lanjut makan siang bersama" Ujar Faustin.

"Tidak bisa"

Kening Singto langsung berkerut tajam.

"Ada hal penting yang harus dibahas antara aku dan Singto, acara makan siang kalian mungkin bisa ditunda lain kali saja, Faustin... Kau bisa makan dengan Francis atau Babaku di rumah mereka, ayo Sing..."

Bahkan Singto belum berucap apapun untuk berpamitan dengan kolega barunya, tetapi Krist sudah lebih dulu mendorongnya masuk ke dalam Ruangan pribadinya lagi.

"Are you lost your emphaty?" Ucap Singto pada akhirnya karena sejak tadi dia tidak diberi kesempatan untuk berucap apapun.

"Aku sedang ada tamu penting dan kamu mengacaukan segalanya Krist, jangan bertindak seenaknya seolah semua orang dapat memaklumi sikap aroganmu"

"Sing, bukan begitu masksud..."

"This is my territory, dan kamu bukan siapa-siapa di tempat ini, berhentilah bersikap menyebalkan, karena semua orang juga punya limit kesabarannya"

Krist seketika membeku, bukan seperti ini yang ia inginkan, dirinya hanya terpancing emosi saat melihat Faustin ada bersama Singto, ia hanya takut ancama Francis benar-benar terwujud, karena itu ia langsung bersikap impulsif.

Krist berusaha mengontrol emosinya, bukan pertengkaran yang inginkan, tetapi kondisinya menjadi tak terkendali ketika melihat Faustin ternyata bukan hanya sebuah ancaman saja dari Pere-nya.

"Aku memaklumi semua sikapmu saat itu karena ku anggap kamu adalah calon pasangan sah ku, tetapi tidak dengan sekarang Krist, kita orang asing semenjak kamu melontarkan kalimat penolakan, jadi bersikaplah sewajarnya, jangan membuat kegaduhan"

Lidah Krist kelu, tidak sedikitpun kalimat mampu keluar dari mulutnya. Inilah yang selalu ia takuti saat jatuh cinta, menyakiti pasangannya...

"Maaf untuk apapun yang sudah terjadi diantara kita, maaf untuk semua perilaku bajinganku yang melukai perasaanmu, dari awal aku sudah memperingati jika bersamaku mungkin rasa sakitnya tidak pernah main-main, aku sudah mencoba hidup senormal mungkin, berkenalan, berdeketan dan saling jatuh cinta, tetapi sepertinya kisah percintaan memang bukan takdir baik dalam hidupku"

Krist berjalan perlahan untuk mendekati Singto dan berdiri tepat dihadapan pria itu. Sebuah senyum terbit begitu saja walaupun bercampur dengan luka.

"Singto Andrews, mari kita benar-benar saling asing saja" Ucap Krist berusaha tidak goyah, karena ini memang yang paling terbaik untuk mereka.

Bersama pasti akan banyak drama, bukan karena Singto tetapi karena dirinya. Pekerjaan dengan penuh resiko sebaiknya memang berjalan sendirian saja tanpa pasangan. Francis dan Geraldo saja cukup, tidak harus menyeret siapapun lagi dalam nerakanya.

"Ah... Hampir aku lupa" Krist berbalik sebelum tangannya berhasil membuka pintu "Seminggu lagi kasus mantan tunanganmu akan naik ke persidangan, mungkin kamu akan dipanggil menjadi saksi, jadi luangkan saja waktu untuk menghadiri persidangan itu"

Bersamaan dengan menghilangnya Krist dari ruang kerjanya, Singto langsung menjatuhkan diri ke sofa, lututnya sudah tak mampu lagi menahan tubuh gemetarnya setelah kalimat "Saling Asing" mudah sekali diamini oleh Krist.

Harusnya pria itu merayu, memaksa kalau perlu agar mereka melanjutkan hubungan, tetapi yang ia dapatkan justru keputusan yang terlalu menyakitkan. Apa terlalu sulit menunurukan ego sedikit saja, apa dia dan semua perasaan cintanya tidak pernah bisa dijadikan pertimbangan.

"Kamu memang brengsek Krist, tetapi aku tetap saja jatuh cinta sampai babak belur seperti ini"

Singto membawa tubuhnya bersandar karena sakit kepala hebat tiba-tiba saja menyerangkan tanpa peringatan. Remuk di hatinya ternyata berkali-kali lipat dari perpisahannya dengan dengan Vier terdahulu.



Holla!!!

Are you guys miss me?

Nope?

Yes?

Nanti kita cerita cerita kenapa lama gak muncul ya treh, komen disini kita curcol

Thank You🥰

INTERNTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang