"Kalian boleh ngobrol di dalam kamar, tetapi anak saya jangan diapa-apain dulu ya Tuan Andrews sebelum status kalian jelas"
"Apa sih Ba tiba-tiba kamar banget, siapa juga yang mengizinkan dia menjelajah rumah kita"
Francis langsung berdecak mengejek Sang Anak "DNA-nya Geraldo, tidak ada yang dibuang Well...."
"Ini lagi satu, Ba ih... Suaminya tuh" Krist memperingatkan ayahnya yang lain dan tentu saja langsung mengadukan perbuatan tidak menyenangkan itu pada Baba Terlove lovenya.
"Heleh... Tsundere, sama tuh kaya penyumbang spermanya" Francis menunjuk ke arah Sang Suami.
Geraldo hanya bisa mengelus dada, warna-warni hidupnya muncul setelah bersama Francis yang dulu memang gencar mendekatinya meski ia acuh tak acuh dan bahkan sempet mengamuk tetapi ia jatuh sejatuh jatuhnya juga ke pelukan suami manjanya, dan kemudian saat Krist lahir, bukan hanya sekedar semakin semarak saja kehidupan mereka tetapi juga ditambah huru hara.
"Saya pamit pulang saja Tuan Leong" Ucap Singto. Ia yang sejak tadi hanya bisa berdiam diri sembari menyaksikan langsung kemeriahan keluarga calon kekasihnya, merasa tidak enak jika harus berlama-lama sementara targetnya masih belum bersedia untuk berada di satu atmosfer yang sama dengannya.
Poor Sing😌
"Krist Leong..." Kini Geraldo memanggil Sang Anak dengan nada yang masih sama lembutnya tetapi terkesan lebih tegas.
"Hah... Iya Ba"
"Halah Halah... Gengsi kok ditanam sampai subur, pohon duit dong biar kaya terus sampai mampus"
Krist tak peduli lagi dengan semua omong kosong dari Francis, ia lebih memilih untuk menyudahi makannya dan langsung berdiri dari kursinya.
"Ayo Sing"
Singto? NgeLag
Ini ajakan kemana ya, kenapa ambigay sekali.
Ayo
Iya tapi kemana
Kamar kah?
Pulang kah?
Atau Ngan... Ya jelas tidak, kan tadi sudah diberi ultimatum untuk jangan diapa-apain dulu, tetapi gimana ya? Iman yang hanya setipis rambut di belah 20 ini sejak tadi disuguhkan paha putih mulus tanpa cela, otak tentu langsung traveling sampai ingin membuat yang putih jadi ada bercak merah keunguan.
Gimana tuh?
"Kenapa diam?" Krist yang sudah berdiri, langsung saja melihat ke arah Singto yang masih duduk tanpa bergerak.
"Ikutlah ke kamar Krist, agar kalian bisa lebih leluasa pendekatan, jangan sampai dibawa ke Hutan bertebing lagi ya Tuan Andrews, nanti yang bengkak bukan hanya bibirnya saja tetapi juga seluruh tubuhnya, maklum di Hutan banyak nyamuk"
"Pere....."
Francis tertawa keras sembari meninggalkan ruang makan terlebih dahulu, menggoda anaknya memang vitamin terbaik untuk dirinya sejak Krist masih berbau minyak telon, Francis yang kala itu masih cukup muda, ternyata harus berusaha berbagi Geraldo dengan Sang Anak.
Awalnya dia kesal, tetapi setelah melihat Krist bertumbuh menjadi anak yang lucu dari hari ke hari, hati Francis selalu luluh lantah jika itu menyangkut soal Kristnya, anak satu-satunya dan yang paling iya sayangi nomer 2 setelah si Geraldo tentu saja.
"Ikut aku" Titah Krist pada Singto yang sejak tadi hanya berdiam diri, kecuali saat diajak bicara oleh Sang Ayah.
Singto langsung mengarahkan tatapannya pada Geraldo Leong, dan setelah mendapat anggukan setuju, ia bersedia saja dibawa kemanapun oleh Pujaan Hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
INTERN
Fanfiction"Anaknya Tuan Leong tampan dan manis, serakah juga ya kamu" -Singto Andrews-🧑💼 "Merdu banget suara Buaya Darat" -Krist Leong-👮
