"Jangan marah pada Pere mu ya sayang"
"Memang dia masih ayahku juga Ba? Kan sudah punya anak lain yang lebih disayang?"
Geraldo hanya bisa menggelengkan kepala, sungguh rasanya dia ingin berdoa agar supaya diberi umur yang panjang karena tugasnya sebagai wasit keluarga Leong sepertinya tidak akan pernah selesai.
Krist adalah cerminan Francis saat muda, tidak ada yang dibuang sama sekali tingkahnya, hanya berbeda sedikit saja karena Francis terlalu ugal-ugalan saat mengejar cinta seseorang, sementara Krist justru terlalu tenang dan penuh perhitungan matang.
"Pere hanya sedikit kesal soal hubungan mu dan Tuan Andrews, ia merasa jika sudah saatnya ada orang lain yang bisa menjaga anaknya lagi karena kami sudah tua"
"Memang Francis berencana mati secepat itu ya?"
"Ya Tuhan Sayang....."
Krist kembali memeluk sang ayah dengan erat, dia sebenarnya tidak marah hanya malas saja dengan tingkah laku Francis Jullien si sok paling berkuasa itu.
"Hehehe... Bercanda Babaku cinta, aku tahu Baba tidak mungkin hidup damai tanpa Si Francis Francis itu kan, kecintaan banget sih, gak normal Baba tuh jadinya"
"Aduhh..."
Tangan Krist langsung saja mengelus kepalanya sendiri karena baru saja dipukul oleh Geraldo.
"Maafkan Pere ya, dia sayang sekali padamu nak, tetapi mungkin kelakuannya ya agak... Seperti itulah, kamu pasti paham kan?"
"Ku pikir-pikir dulu lah Ba, selama Faustin masih beredar disekitar keluarga kita, aku berencana untuk tetap kesal terus pada Pere"
"Cemburu ke Pere atau Singto karena dekat dengan Faustin?"
"Mohon maaf tidak dulu Ba"
Geraldo bergerak untuk menghadap Sang Anak, ada satu hal yang sebeneranya sudah lama ingin ia pastikan sendiri.
"Apa sudah tidak ada kesempatan untukmu dan Tuan Andrews? Apa sama sekali tidak bisa bersama?"
Krist menghela nafasnya yang begitu berat, sebenarnya ia paham sekali maksud keluarganya, tujuan mereka hanya ingin dirinya bersama orang yang tepat dan Singto justru lebih dari ekspektasinya.
Tetapi bukan Singto yang tidak tepat melainkan dirinya yang terlalu berantakan untuk bersama Singto. Telalu banyak hal yang harus dimaklumi pria itu nantinya, mulai dari resiko pekerjaan yang bisa kapan saja menghilangkangkan nyawanya, dan mungkin di masa depan akan banyak hal yang lebih menyakitkan dan Singto tidak pantas mengalami hal buruk itu.
"Aku akan jujur soal perasaanku yang selama ini mungkin di salah pahami banyak orang"
Krist mulai mengontrol dirinya, sudah saatnya ia terbuka pada ayahnya, ia tidak bisa lagi bersikap acuh tak acuh seolah semua yang terjadi hanya masalah sepele saja. Ada banyak asumsi yang harus diluruskan, bukan untuk membela diri, hanya untuk sebuah kejujuran.
"Apa aku jatuh cinta pada Singto? Jawabannya iya, bahkan perasaan ini lebih besar dari yang bisa ku tangani, karena dia Singto makanya aku cinta, bahkan kalau harus mengulang perasaan pada orang lain lagi nantinya, aku tidak bisa Ba"
"Lantas kenapa memilih berpisah?"
"Nyatanya cinta saja tidak cukup tanpa rasa aman. Aku, Singto, Drew dan Vier... Kami terhubung karena dendam kejahatan seseorang padaku padahal Singto dan Vier sama sekali bukan bagian besar dalam hidupku, bahkan dulu kami tidak saling kenal tetapi mereka justru terkena imbas dari masalahku di masa lalu, jatuh cinta juga butuh validasi rasa aman dan nyaman Ba, tetapi kondisi ku ini begitu abu-abu"
KAMU SEDANG MEMBACA
INTERN
Fanfiction"Anaknya Tuan Leong tampan dan manis, serakah juga ya kamu" -Singto Andrews-🧑💼 "Merdu banget suara Buaya Darat" -Krist Leong-👮
