47. Maaf Kami Terlambat

278 24 31
                                        

Jangan lupa follow dulu yaaa, mau mutualan juga boleh bangett

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jangan lupa follow dulu yaaa, mau mutualan juga boleh bangett

HAPPY READINGG

Tandain typo~~

Perdebatan sengit sedang terjadi di sebuah ruangan yang berada di lantai 6, itu adalah ruangan para pemimpin yang mengurusi para trainee, mulai dari izin atau hal yang lain.

Enam orang masih berusaha membujuk pimpinan supaya memberikan izin kepada mereka untuk melihat sendiri kondisi teman mereka yang dilarikan ke rumah sakit akibat kecelakaan bus yang parah.

Sangat sulit mendapat izin dari pimpinan karena si bos malah tidak bisa dihubungi, sudah lebih dari sepuluh kali mereka berenam mengeluarkan kata demi kata, tetapi tidak ada yang mempan.

"Pak, please lah, dia ini teman kami pak, harus berapa kali lagi kami menjelaskan kalau dia habis kecelakaan dan kami mau pastikan kondisinya secara langsung, gimana kalo dia butuh donor darah, butuh persetujuan, atau sesuatu yang mendesak?!"

Mahen sampai frustasi karena dari tadi ia menjelaskan panjang-lebar tetapi masih saja ditolak oleh pimpinan.

"Maaf, saya harus mendapatkan izin dari CEO terlebih dahulu sebelum memberikan izin."

"PAK, INI TEMEN KITA PAK! SAHABAT KITA! DIA BUTUH KAMI PAK!" Haikal berteriak sambil menangis entah sudah berapa lama.

Pikiran mereka semua sama, yaitu bagaimana keadaan Juna? Apa dia baik-baik saja? Apa terluka parah? Apa harus operasi? Dan masih banyak lagi.

"Kalian hubungi saja orang tuanya supaya mereka bisa sampai lebih dulu."

"Cih, percuma, kalau orang tua biadab itu bisa dihubungi, gak mungkin kami sampai melawan anda seperti ini." Ujar Azen tanpa ragu.

"Maksud kamu?"

"Bang Juna, orang tuanya sibuk, kami hubungi dari tadi sama sekali gak ada yang ngangkat." Kenzi menunjukkan puluhan panggilan telepon tak terjawab di layar ponselnya.

Bukan hanya Kenzi, tetapi juga yang lain, jika dijumlah maka total telepon tidak dijawab untuk orang tua Juna sudah mencapai ratusan.

Sekertaris pimpinan masuk keruangan dan mendekat kearahnya, ia membisikkan sesuatu lalu kembali pergi keluar.

"Jadi begini, CEO kami sedang ada rapat saat ini, mungkin sekitar satu jam lagi kalian baru bisa keluar."

Ucapan dari pimpinan membuat mereka berenam frustasi, di sisi lain mereka harus segera melihat keadaan Juna sekarang juga, tetapi di sisi lain mereka belum mendapatkan izin.

Drrt drrt.

Getaran ponsel ditangkap oleh gendang telinga mereka, itu adalah ponsel milik pimpinan, beliau izin keluar ruangan untuk mengangkat telepon yang entah dari siapa.

Seven DreamersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang