52. Selamat Tinggal

228 19 15
                                        

Hallo semuaaa, senang bertemu lagii

Yukk klik ikon vote duluu

Yukk klik ikon vote duluu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jangan lupa followw

Happy readingg

BUG!

Bentuman keras terdengar pilu, terdapat bekas retakan namun bukan pada temboknya, melainkan pada kulit tangan yang berubah merah, penuh darah.

"HEN! GILA LO YA?!" Naje langsung menarik kerah baju Mahen hingga sang empu tersungkur ke belakang.

"LO KALI MAU M*TI JANGAN KAYAK GINI!" Naje berteriak marah, "Tangan lo gak punya salah, kalo kayak gini tangan lo putus nanti."

"Hush, lambemu!" Kenzi meraup penuh wajah Naje, lalu hasilnya seakan ia buang ke udara.

"Pait buset." Naje mengelap wajahnya menggunakan telapaknya.

"Kebetulan habis nyebokin nyamuk tadi."

Mata Naje langsung melebar, ia menoleh cepat, "SERIUSAN LO?!"

"Ya nggak lah, pake ditanya."

"Ini kalo bukan anak orang gue sikat." Ujar Naje dalam hati.

"Bisa diem nggak?" Haikal menatap mereka semua dengan wajah lesu dan rambut acak-acakan.

Setelah mendengar pengumuman dari Pak Angga tadi semuanya berubah kacau dan rumit.

Pukul 18.04 WIB.

Suasana ruang latihan mendadak ramai dengan suara-suara trainee yang melakukan protes dengan pengumuman tiba-tiba dari Pak Angga.

"Pak, ini mendadak banget, saya masih ada deadline tugas pak." protes salah seorang trainee.

"Betul pak, kenapa tidak memberikan kami waktu untu menyelesaikan urusan kami dulu?"

"Tiba-tiba banget, pak."

Pak Angga memijat keningnya, ia sebenarnya juga sedang pusing saat ini, ditambah dengan kebisingan anak-anaknya, membuat kepalanya seakan ingin pecah.

"STOP! DENGARKAN SAYA DULU! DIAM!" Pak Angga menarik napas dalam-dalam.

"Informasi yang saya berikan tadi juga mendadak, saya sudah ajukan pertimbangan dengan pimpinan tapi sia-sia, usaha saya untuk kalian hanya bisa sebatas itu." Pak Angga menjeda kalimatnya.

"Kalian itu anak-anak saya, tugas kalian adalah latihan dan dengarkan apa kata saya," Pak Angga menatap mereka semua bergantian, "Tapi saya juga hanya sebatas pelatih kalian, saya juga hanya bisa menurut jika pimpinan sudah memberikan perintah, saya cuman biaa ajukan banding, tapi jika ditolak saya udah gak bisa ngapa-ngapain lagi."

Para trainee terdiam mendengar penuturan Pak Angga, tak ada yang berani menatap lurus ke depan, mereka hanya berani bertatapan dengan lantai yang kosong.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 03, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Seven DreamersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang