Tentang 7 lelaki yang berusaha meraih mimpi menjadi seorang idola dalam sebuah boy band
Lolos gagal itu biasa
Naik turun itu tak mungkin tak ada
Berhasil atau tidak itu.... tergantung diri sendiri
Namun, ditengah perjuangan mereka ada sebuah rahasi...
Haloo semuaaa, maaf banget up mundur banget dari perkiraan, aku sangat-sangat minta maaf sama kalian
Aku sempet lupa-lupa sama alurnya, jadi aku harus baca dari awal dulu dan ada beberapa hal yang memang gak bisa ditunda
Oleh karena itu, aku minta maaf banget sama kalian semua
Dan untuk yang masih menunggu, aku sangat-sangat berterimakasih banget sama kalian, pokoknya kalian itu sangat-sangat berharga buatku
Maaf ya kalau menurut kalian part yang ini gak nyambung atau apapun itu
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan lupa follow~~
Mari berteman di sana
Happy readinggg
Tandain typo
Sudah memasuki hari ke-3 semenjak Haikal dan Azen tak saling menyapa. Mereka saling menghindar satu sama lain, jika tak sengaja bertemu maka keduanya akan langsung memilih pergi.
"Zen, gue mau ngomong sama lo." Ujar salah seorang trainee, Kai namanya.
"Apa?"
"Bisa keluar bentar?"
Azen mengangguk, ia mengikuti Kai keluar ruangan.
"Mau ngomong apa?"
Kai menggaruk tengkuknya, ia sebenarnya takut untuk mengatakan ini, tetapi demi team-nya ia harus berani.
"Sorry sebelumnya, gue–"
"Langsung ke inti aja." Potong Azen cepat, untuk saat ini ia benar-benar tidak mau basa-basi.
"Gue ngerasa akhir-akhir ini lo jadi gak bisa fokus latihan kayak di awal-awal, kita cuman punya waktu dua hari lagi, sebagai leader team ini gue berharap lo bisa perbaiki itu, you know what i mean?"
Azen langsung menetralkan ekspresi wajahnya, ia menarik napas panjang, "Oke, sorry gue akhir-akhir ini emang lagi ada masalah dikit, kalo gue ada kesalahan ingetin aja, gue bakal berusaha perbaiki itu."
"Thank you, gue balik dulu." Kai menepuk bahu Azen sekali sebelum ia kembali masuk ke ruang latihan.
"Ayo fokus, Zen." Azen menarik napas panjang, ia tidak boleh seperti ini, ia harus mengembalikan fokusnya.
Mahen dan Naje baru saja kembali setelah dari kamar mandi, mereka yang melihat Azen sendirian lantas menghampirinya.
"Kenapa, Zen?"
Azen menoleh, ia dengan cepat menggeleng, "Gak ada apa-apa, gimana sama Haikal? Dia aman kan kalo sama kalian?"
Mahen memukul kepala Azen pelan, "Kenapa mikirin kita? Sekali-kali pikirin diri sendiri."