Tentang 7 lelaki yang berusaha meraih mimpi menjadi seorang idola dalam sebuah boy band
Lolos gagal itu biasa
Naik turun itu tak mungkin tak ada
Berhasil atau tidak itu.... tergantung diri sendiri
Namun, ditengah perjuangan mereka ada sebuah rahasi...
"Ternyata, itu emang wajar, jadi gini ceritanya, dengerin."
Mahen, Naje, dan Azen mendekatkan telinga mereka, supaya bahan gosipan mereka terdengar dengan jelas, jadi tidak menimbulkan fitnah.
"Ternyata, suaminya ini kerjanya di pabrik parfum, nah dia di bagian kayak ngecek-ngecek gitu, kayak ngecek aromanya, kandungannya, warnanya, pokoknya yang kayak gitulah, jadi parfumnya juga ikutan nempel di bajunya, kebetulan pabriknya itu lagi ngembangin produk parfum cewek."
Mereka bertiga mengangguk, pembicaraan mereka menjadi serius, "Emang istrinya gak tau suaminya kerja di pabrik parfum?" Mahen masih penasaran dengan cerita suami-istri itu.
"Tau, cuman ya, susah dibilangin, orang ikan di meja ilang aja yang dituduh kucing tetangga, padahal dia juga punya kucing di rumah."
"Singkat aja, cerai gak? Mati nggak?" Azen bertanya dengan tatapan datar.
Tapi perlu diingat, meski tatapannya datar, kalau masalah gossip, ghibah, nge-review orang, selalu ada Azen disana.
"Lo nanya yang masuk akal kek, yang positif kek, malah nanya cerai." Ujar Naje.
"Endingnya gimana?" Azen tak menggubris perkataan Naje, ia lebih penasaran dengan ending dibalik cerita daripada membalas ucapan Naje.
"Mereka damai."
Jawaban dari temannya membuat Azen sedikit kecewa, ia kira akan ada badai dan angin topan, ternyata hanya angin sepoi-sepoi.
"Bagus deh, jadi tenang rumah tangga mereka." Mahen mengambil es kopi yang ia pesan tadi, lalu meminumnya.
"Tapi, ganti masalah baru, suaminya ngilangin kotak bekal yang dibawain istrinya."