49. Pergi Seorang

287 22 30
                                        

Yukk follow akun media sosialku, kalau mau mutualan juga boleh bangett

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Yukk follow akun media sosialku, kalau mau mutualan juga boleh bangett

Jamgan lupa tekan vote dan juga comment ya temann, jangan lupa juga untuk memenuhi kolom komentar

HAPPY READINGG

Tandain typo~~

Ruangan dokter itu sunyi dan tenang. Hanya terdengar bunyi detik jam yang tertangkap oleh telinga. Dokter membaca dengan cermat hasil pemeriksaan Juna yang telah disiapkan oleh perawat sebelumnya.

Namun, saat dokter mulai berbicara dengan Abraham dan Gina, suasana tiba-tiba berubah menjadi tegang. "Kami telah melakukan semua yang bisa kami lakukan, tetapi hasilnya tidak seperti yang kami harapkan." kata dokter dengan nada serius, membuat kedua orang tua Juna saling menatap dengan penuh kecemasan.

"Pasien mengalami luka yang cukup parah di bagian perut, kami melakukan operasi pengangkatan benda asing seperti pecahan kaca dan lain-lain, untuk sementara pasien harus menggunakan tongkat atau kursi roda karena ada luka di bagian pergelangan kaki."

Dokter melanjutkan ucapannya, "Apalagi ditambah penyakit yang di derita oleh pasien, bolehkah saya bertanya, sejak kapan pasien menderita penyakit itu?"

Abraham dan Gina menatap sang dokter dengan penuh tanda tanya, keduanya sama-sama tidak mengerti apa yang dikatakan oleh sang dokter.

"Penyakit? Penyakit apa maksudnya, dok? Bukannya anak saya di operasi karena kecelakaan bus?" Tanya Abraham.

Dokter hanya menghela napas, "Ternyata benar kata Reza, mereka tidak tau." Ujarnya dalam hati.

"Jadi pasien saat ini juga menderita gagal ginjal stadium 4, kondisi pasien semakin parah karena kecelakaan bus, kami baru mengetahui ketika melakukan operasi tadi."

Gina memegangi dadanya yang terasa sakit, seolah-olah pukulan keras menghantam dirinya. Air matanya mengalir deras saat dia mendengar berita tentang penyakit anaknya.

Abraham yang duduk di sampingnya juga tak kuasa menahan kesedihannya, air mata membasahi pipinya yang keriput.

"Dokter, apa anak saya masih bisa sehat kembali dok?" Tanya Gina dengan suara bergetar.

"Untuk saat ini kami menyarankan untuk melakukan operasi transplantasi ginjal, pak, bu."

Jawaban dari dokter membuat tangisan Gina semakin keras dan terdengar menyedihkan.

Abraham menepuk punggung istrinya dengan pelan, ia menatap langit-langit kosong, di hatinya sekarang dipenuhi dengan penyesalan yang besar.

"Seharusnya papa lebih perhatiin kamu, Juna." ujar Abraham dengan suara pelan, sementara Gina hanya menangis, tangannya masih memegang dada yang terasa berat karena beban penyesalan.

Ruangan yang sebelumnya sunyi dan tenang kini dipenuhi dengan isak tangis dua orang yang merasa gagal menjaga anaknya sendiri.

Dokter itu menatap mereka berdua prihatin, "Memangnya kemana saja kalian selama ini?" Pertanyaan itu hanya mampu ia ungkapkan dalam hatinya.

Seven DreamersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang