50. Kemarahan Haikal

494 30 24
                                        

Jangan lupa follow~~

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jangan lupa follow~~

Tandain typo~~

"Sebenernya Juna itu ... sakit."

"HAH?!"

Suasana mendadak hening, semua kecuali Azen dan Mahen masih tampak tak percaya.

Azen menunduk, ia tidak bisa menatap teman-temannya, jiwanya dipenuhi oleh rasa bersalah, "Dia sakit ginjal, stadium 3, tapi sekarang udah stadium 4."

Haikal, Naje, Kenzi, dan Jeven semakin terkejut dibuatnya, mereka tidak bisa mengeluarkan kata-kata, mata mereka dipenuhi air mata yang siap jatuh kapan saja.

"M-maksud lo sakit?" Tanya Naje, berusaha tetap tegar.

"Gue juga baru tau pas awal kelas 11, gue sebenernya mau ngasih tau kalian tapi-"

"KALO GITU KENAPA LO GAK KASIH TAU?!" Amarah Haikal meledak-ledak, ia berdiri dengan mata memerah, tatapannya tajam dan penuh emosi.

"Kal, tenang, Kal." Mahen berusaha menenangkan Haikal yang sudah tersulut emosi.

"Gimana gue bisa tenang, Hen?! Masalah kayak gini dia sembunyiin dari kita semua." Haikal menoleh ke samping, telunjuknya tergerak dan berhenti tepat di depan wajah Azen.

"DIA NYEMBUNYIIN MASALAH INI! DIA GAK NGOMONG SAMA KITA!"

Kenzi berdiri lalu memegang pundak Haikal, "Bang, kita dengerin dulu penjelasan bang Azen sampai selesai."

"Iya, bang, mungkin mereka punya alasan kenapa gak ngasih tau kita." Lanjut Jeven.

Haikal menepis tangan Kenzi yang ada di pundaknya, "Kalian gak usah belain dia, dia itu cuman pengen dianggap kalo dia yang paling bisa diandelin."

"Kal, lo jangan ngomong gitu, tenangin diri lo dulu." Ujar Mahen.

"LO KENAPA SIH DARITADI NYURUH GUE TENANG? HAH?!" Haikal menatap Mahen dengan tatapan penuh amarah, "Oh, atau jangan-jangan lo juga udah tau kalo Juna sakit?"

Mahen tidak menjawab, bibirnya seolah terkunci rapat.

Haikal terkekeh, "Oh jadi lo juga udah tau?" Haikal maju perlahan mendekati pintu, "Gue gak heran sih, mereka berdua kan punya prestasi, pantes lah Juna lebih milih kalian daripada kita, lagian emang kita apaan? Cuman murid biasa, sering kena masalah, yang dianggep temen cuman mereka doang."

"Lo jangan mikir gitu, kita semua temen, sahabat, gak mungkin Juna bedain kita." Mahen mencoba menggapai lengan Haikal, namun Haikal langsung menghindar, ia tidak mau disentuh.

Azen berbalik ingin mencoba menjelaskan lagi, "Kal, gue juga gak tau dari awal, gue cuman gak sengaja liat dia-"

"Bla-bla-bla, basi alesan lo." Haikal dengan cepat memotong omongan Azen, dirinya telah dikuasai oleh emosi dan amarah yang membara.

Seven DreamersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang