Tentang 7 lelaki yang berusaha meraih mimpi menjadi seorang idola dalam sebuah boy band
Lolos gagal itu biasa
Naik turun itu tak mungkin tak ada
Berhasil atau tidak itu.... tergantung diri sendiri
Namun, ditengah perjuangan mereka ada sebuah rahasi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan lupa followw
Tandain typo~~
HAPPY READING
...
Ruang latihan, pukul 02.00
"Apa ini gue kasih footwork ya? Kayaknya bagus."
"Boleh gak sih diubah dikit koreonya."
"Gimana kalo yang ini gue ganti pake muter aja ya."
"Susah banget kalo pake kaki kiri, kaki kanan aja kali ya, tapi nanti susah bagian tangannya."
Haikal masih berada di ruang latihan sendirian, ia mempersiapkan penampilannya dengan sebaik mungkin, ia merasa untuk nyannyiannya sudah lumayan, tapi untuk bagian dance perlu lebih banyak perhatian.
"Niat hati pengen main aman, malah kena yang wajib aman pas di panggung nanti."
"Gue bisa gak ya?"
Haikal meragukan kemampuannya sendiri, padahal biasanya ia sangat percaya diri, tapi karena belakangan rankingnya selalu berada di tengah-tengah, itu membuatnya khawatir.
"Tapi lagunya emang cocok sih kalo sama gue, tapi dance-nya susah."
Pria yang dari tadi berdiri di samping pintu mendengarkan ocehan Haikal, berjalan mendekat.
"Kal."
"WHA!"
Begitu terkejutnya Haikal sampai-sampai ia berteriak begitu kencang, pak Angga yang tadi menepuk bahunya juga sampai tersungkur ke lantai.
Beliau mengelus-elus dadanya, mengatur napas, terkejut dengan reflek Haikal, padahal tadi ia hanya memanggil pelan, tidak berniat mengagetkan, tetapi malah dirinya yang dibuat kaget.
"Kamu ini ngagetin saya, kenapa sih?!"
"Ya bapak sendiri dateng-dateng ngagetin."
"Saya cuman manggil."
"Tapi ngagetin, siapa coba yang masuk gak permisi, mana manggilnya pelan, ya saya kira kan setan, makannya teriak."
"Udahlah, debat sama kamu gak ada ujungnya, yang ada saya malah darah tinggi nanti."
Pak Angga duduk, ia meluruskan kakinya dan mengkode Haikal untuk mengikutinya.
Haikal menurut, ia duduk tepat di samping pak Angga.