Haiiii
Yukk follow akun medsos aku supaya kita bisa interaksi lebih luwess
Tiktok : milkicandy6
Ig : Azzah_sa06
Di follow ya gess, kalau mau mutualan boleh banget
Tandain typo~~
Lorong rumah sakit dipenuhi oleh suara langkah kaki, tidak hanya satu, melainkan banyak orang, mengiring seseorang yang tengah terbaring di atas ranjang.
Bibirnya pucat, wajahnya memutih, matanya sayu, dan bekas luka di perutnya, tubuh yang semakin kurus dan pipi yang seperti hanya tulang.
Mereka mengantarkan orang itu kedepan pintu kamar jenazah, tetapi mereka masih enggan berhenti menangis, kehilangan yang seharusnya tak pernah ada, malah datang tak di undang.
Mereka berusaha mengikhlaskan kepergian sahabat mereka yang selama ini selalu ceria, tersenyum, namun ternyata memendam masalah yang begitu besar sendirian.
Ceklek
Pintu terbuka, menampilkan sosok laki-laki berbaju putih yang baru saja memasuki kamar.
"Lo kenapa, bang, kok nangis?" Kenzi menutup pintu dengan hati-hati, kemudian ia menghampiri Juna yang sedang menangis di atas kasur.
"Gue nonton sinetron, sedih banget, dia mati." Juna memeluk bantalnya sendiri, "Kasian banget, padahal dia itu baik, cuman tengil aja tapi malah mati."
Kenzi menggelengkan kepalanya, ia sudah tidak heran dengan hobi Juna yaitu menonton sinetron.
"Cuman gara-gara sinetron?"
"Cuma? Gue itu menghayati alurnya, baper, karena gue itu bisa mendalami ceritanya." Ujar Juna tak terima.
"Iyain aja biar fast." Kenzi merebahkan tubuhnya di atas kasur, "Gue capek banget, mana sejam lagi harus latihan lagi."
"Gak minta istirahat?" Juna berpindah posisi duduk di pinggir ranjang.
"Udah, tapi dari awal bang Shaka gak ngebolehin, akhirnya setelah dipaksa yang lain baru diizinin, tapi awalnya cuman dikasih 20 menit, kita protes lagi dan akhirnya jadi sejam deh." Ujar Kenzi panjang lebar.
"Gue sebenernya suka sih, bang Shaka orangnya baik, selalu bantu kita, tapi perfeksionis, salah dikit ulang, padahal cuman kurang geser beberapa centi aja." Lanjutnya.
"Namanya juga usaha, pasti ada susah ada senengnya, lo tidur aja dulu, nanti gue bangunin, gue latihannya masih nanti jam delapan."
Merasa tak ada sahutan, Juna menoleh ke samping, ia tersenyum melihat Kenzi yang ternyata sudah tertidur pulas di kasurnya.
"Capek banget ya, Zi?"
Juna kembali fokus ke layar ponselnya, "Oke sekarang lanjut maraton lagi."
*SEVEND*
"KAMU INI BISA NGGAK SIH GAK BIKIN MALU KELUARGA?! NGAPAIN IKUT JADI TRAINEE SEGALA?! MENDING BELAJAR BIAR PINTER BIAR BISA DIBANGGAIN, LIAT SEPUPU-SEPUPU KAMU, MEREKA SEMUA PINTER KARENA RAJIN BELAJAR, KETERIMA DI KAMPUS LUAR NEGERI, GAK KAYAK KAMU, MALU-MALUIN AJA."
Lagi dan lagi, sebuah sabuk mengenai punggung seorang laki-laki yang berusaha menahan tangisannya.
"Apa prestasi Azen selama ini gak cukup buat papa?"
"GAK SAMA SEKALI, KURANG AZEN KURANG! KAMU SAYA HIDUPIN SELAMA INI GAK MURAH, TINGGAL BALAS BUDI JADI ANAK YANG MEMBANGGAKAN APA SUSAHNYA SIH?!"
"Azen udah berusaha kuasain semua bidang, akademik nonakademik juga Azen punya prestasi, Azen cuman mau ikutin kemauan Azen, pa, Azen suka sama musik, lagipula selama nilai Azen stabil gak masalah kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Seven Dreamers
Teen FictionTentang 7 lelaki yang berusaha meraih mimpi menjadi seorang idola dalam sebuah boy band Lolos gagal itu biasa Naik turun itu tak mungkin tak ada Berhasil atau tidak itu.... tergantung diri sendiri Namun, ditengah perjuangan mereka ada sebuah rahasi...
