Part 51

118 10 2
                                        

Beberapa hari setelahnya, kondisi Hinata berangsur membaik. Ia juga sempat tak sadarkan diri kembali setelah berteriak histeris tanpa sebab. Sakusa yang sedang menjaga nya jelas panik dan menghubungi dokter, dengan terpaksa dokter pun menyuntikkan cairan agar Hinata tenang dan tertidur.

Sakusa tetap pada posisi nya selama beberapa jam, Rin yang melihat itu hanya bisa menghela nafas. Mendekati Sakusa dan menepuk pundaknya pelan.

"Makanlah, ini sudah siang. Mau sampai kapan kau tetap berada di posisi mu tanpa bergerak bahkan hanya untuk menggeser kakimu?" Sakusa menoleh dan mendongak. Netra teduh nya ikut tersenyum dikala ia tersenyum. Tanpa ada niat untuk menjawab pertanyaan itu, Sakusa kembali pada posisi nya.

"Makan atau kau tidak akan aku izinkan bertemu dengan shoyo lagi." Ucapan Rin berhasil membuat Sakusa membulatkan mata nya. Ia kemudian berdiri dan mengangguk ke arah Rin dan berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Rin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tak menyangka jika keberadaan adik nya sangat berpengaruh pada laki laki itu. Rin menatap wajah tenang Hinata, bayangan dimana Hinata berteriak histeris pada hari itu terekam jelas di memori otaknya. Ia hanya bisa tersenyum miris, dosa apa yang di lakukan adiknya hingga Tuhan menghukumnya hingga seperti ini.

"Sho..." Rin meraih tangan kecil milik Hinata dan menggenggamnya erat.

"Cepatlah membaik... apa kau tidak merasa kasihan dengan Sakusa yang seperti mumi? Ia hidup tapi tidak seperti hidup" Rin kemudian mengusap pelan surai adiknya dengan penuh kasih sayang.

2 hari setelahnya, Hinata telah dinyatakan sembuh sepenuhnya namun masih membutuhkan sedikit perawatan agar benar benar sembuh. Hinata sudah di perbolehkan pulang dan berakhir berada di mobil sakusa. Ia menundukkan kepalanya, menatap tautan jari kecil nya, sakusa yang sedang fokus menyetir menoleh ke arah Hinata yang terus saja menunduk. Ia tersenyum tipis kala melihat Hinata baik baik saja sekarang, meskipun harus tetap mendapatkan perawatan.

Sesampainya di rumah Hinata, sakusa mengeluarkan barang barang Hinata dan mengajak Hinata masuk ke dalam rumah nya. Hinata mengekori sakusa dan masuk ke dalam rumahnya. Rin yang menunggu adik nya pun tersenyum di kala melihat adik nya itu.

"Sho, apakah kau tidak merindukan nee-chan mu yang cantik ini?" ujar Rin. Hinata menatap nya sekilas kemudian tersenyum.

"Aku merindukanmu, nee-chan. Apakah bunda dan ayah di rumah?" Rin tersenyum. Ia mengangguk kemudian mengajak Hinata ke kamar nya untuk beristirahat. Sakusa pun meletakkan barang barang Hinata ke kamar Hinata dan beranjak keluar. Ia tidak ingin menganggu waktu istirahat Hinata.

Di sisi lain...

Kageyama sudah di perbolehkan pulang sejak 4 hari yang lalu, ia tidak memilih untuk berhubungan dengan siapapun. Ia pun kembali tinggal dengan orang tua nya. Sebenarnya Daisuke menolak untuk membawa kembali Tobio ke dalam rumah nya, dia masih sangat marah akan insiden yang di lakukan anak kandung nya itu. Namun atas paksaan Yukii, Daisuke pun menyetujui nya. Bagaimana pun juga Tobio adalah anak nya.

Sepulang dari rumah sakit, Tobio benar benar mengurung diri nya di dalam kamar. Ia juga jarang memakan makanan yang di sediakan ibu nya, bahkan Yukii hanya bisa menghela nafas kala melihat anak nya hanya memakan sedikit makanan nya.

"Tobio, ayo makan lah.. sedikit saja, agar perut mu tidak kosong" Yukii menatap sendu anak tunggal nya itu. Ia benar benar kehilangan semangat nya. Bahkan untuk berbicara sepatah kata pun dia enggan.

Daisuke menatap interaksi istri dan anak nya, ia pun menghela nafas berat. Ia merasa kasihan terhadap anak nya, namun di sisi lain ia juga masih sangat marah dengan sang anak. Ia pun segera beranjak dari tempat nya.

WITH(OUT) YOU  Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang