51

1.2K 101 21
                                        


"Jadi kalau tiba tiba dia... Ah rencana yang kurang" Ucap Vanca sambil merobek selembar kertas dari buku miliknya. 

"Atau gua harus deketin dulu? Itu mah gua nyari bahaya namanya" Memikirkan nya saja Vanca sudah merasa bahwa pilihan tersebut buruk. 

Saat sedang memikirkan jalan keluarnya tiba tiba sama Vanca mendapatkan ide yang bagus dan saat itu juga Vanca menulisnya di kertas. Sebenarnya apa yang Vanca tulis? 

Saat sedang dalam perjalanan kembali dari tukang bubur Vanca teringat bahwa ia harus membuat rencana untuk mengalahkan Yola dan tante Diana. Apa lagi ia baru baru ini mendengar bahwa lokasi tante Diana dan Yola tinggal sudah di ketahui. 

ia tidak tau apa yang terjadi sampai butuh waktu yang lama. kenapa gak ngikutin yola aja gitu pas dia pulang?? gak tau deh Vanca itu mah urusan orang dewasa...

Vanca tidak tau itu benar atau tidak tetapi dia mendengar asisten daddy yang sedang berbicara di kolam bersama Daddy nya. Karna hal itu Vanca ingin membuat rencana dan berharap semuanya dapat kembali normal secepatnya. 

"Ngapain?" Ucap Kaivan tepat di samping telinga Vanca. Terkejut dengan keberadaan Kaivan, Vanca pun reflek melempar penghapus yang ada di mejanya.

"Pengen liat" Ucap Kaivan sambil berusaha mengambil kertas yang tadi Vanca gunakan.

"Diem deh lu gua gigit nih!!" Ucap Vanca yang sudah mengambil ancang-ancang untuk menggigit Kaivan. 

Dan kini terjadi lah keributan dari Kaivan dan Vanca. Kaivan yang terus berusaha untuk mendapatkan kertas tersebut dan Vanca yang terus mempertahankan Kertas tersebut.

"Apaan sih nih ribut ribut, ntar kalau ketahuan bang Jeran lu berdua bisa dapet hukuman" ucap Raffan yang sedang memakan es krim nya sambil melihat pertengkaran kakak adik nya.

"Bantuin gua ngerebut kertas itu Raffan!!" Teriak Kaivan dengan wajahnya yang terkena sikut Vanca. Raffan yang mendengar hal yang menarik itu pun mulai melangkahkan kakinya, tetapi perkataan Vanca membuatnya ragu...

"Kalau maju siap siap burung lu gua potong gua kasih ke ke kelinci karnivora punya Noel!!" Ancam Vanca sambil menatap nyalang Raffan.

"Sorry Kaivan gua masih sayang hidup gua" ucap Raffan kemudian pergi dari kamar Vanca.

Melihat Kaivan yang teralihkan oleh Raffan dengan cepat Vanca menendang milik Kaivan. 

"ARGHHH VANCA!!!" Teriak Kaivan saat melihat Vanca berlari keluar dari kamar. Kaivan yang merasa kesakitan pun tidak sanggup mengejar Vanca.

"Gak main main lagi gua sama Vanca, aduh masa depan gua..." Ucap Kaivan sambil berjalan keluar menahan rasa sakit yang berada di bawah akibat tendangan Vanca. 

...

"Bang Darel, mau nanya boleh??" Tanya Vana kepada Darel yang sedang fokus kepada laptop yang ada di depannya.

"Boleh, mau nanya apa?" Ucap Darel yang kini menatap Vana yang berada di sampingnya.

"Kenapa keluarga kalian benci Vanca?" Tanya Vana, Darel yang mendengar pertanyaan itu terdiam. Ia bingung harus bagaimana.

...

Setelah membuat masalah dengan Kaivan kini Vanca duduk dengan wajah sedih menatap sepiring kue yang masih utuh di hadapannya. Di hadapannya juga terdapat Melvino yang terus menatap Vanca sejak tadi. 

Melvino menghela nafas nya dan mulai berbicara "Katanya lu tendang Kaivan?" Tanya Melvino sambil meminum jus yang ia pesan

"Gak sengaja" Ucap Vanca dengan wajah yang sedih, Melvino yang melihat itu pun tertawa gemas. Seakan tau apa yang di pikirkan oleh Vanca Melvino pun mulai tersenyum dan berkata "Kaivan gak marah kok, Raffan sama Anzel juga gak marah" Ia tau Vanca takut jika mereka marah kepadanya. 

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 10 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

vancaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang