50

4.9K 213 17
                                        

"Vana!!! Gua beneran minta maaf karna gak percaya sama lu" Ucap Melvino yang kini memeluk Vana sambil menangis.

Kaivan, Raffan, dan Anzel sedang terdiam di depan pintu melihat Melvino yang memeluk Vana. Saat ke empat titan sudah mengelilingi Vana, Vanca dan kedua abangnya hanya diam memperhatikan mereka.

"Drama tentang apa ini?" Tanya Raka sambil menyerahkan tusukan cimol kepada Vanca"Yang bener dong ngasihnya masa tusukan doang" Kesal Vanca tidak peduli dengan pertanyaan Raka, dia hanya peduli kepada cimolnya.

"Van, maafin gua yang selalu diem liat lu di jahatin" Ucap Kai

"Maaf harusnya gua belain lu bukannya ikut salahin lu" Kata Alvero

"Gua juga minta maaf atas semuanya" Kata Teo

"Kalian sadar aja gua udah bersyukur" Senyum Vana yang membuat mereka semakin merasa bersalah Kaivan berjalan perlahan mendekati Vana, Vana yang melihat itu pun tampak gugup. Sudah lama ia tidak melihat abangnya mendekat kepadanya, karena biasanya dia lah yang selalu menghampiri keluarganya.

"Vana... Maafin abang" Gumam Kaivan yang sudah tidak sanggup menahan air matanya yang mulai turun. Vana pun berinisiatif untuk memeluk abangnya.

Ia ingat dulu saat mereka masih dekat, di antara yang lain Kaivan adalah abang favorit nya karna ia selalu menjaganya dengan penuh kasih sayang. Dan apakah sekarang ia bisa menjadi abang favorit bagi Vana?

"Abang" Panggil Vana yang membuat Kaivan menangis semakin kencang.

"Bang Anzel, bang Raffan" Panggil Vana membawa kedua orang itu kepelukan nya.

"Maaf maafin gua udah jadi orang yang bodoh" Ucap Raffan, Vanca yang duduk pun ikut menganggukan kepalanya menyetujui ucapan Raffan.

Vanca pun tersenyum melihat Vana yang sudah berbaikan dengan abangnya, ia bahagia jika Vana juga bahagia.

"Bang gua keluar dulu ya" Ucap Vanca kepada Darel, Melvino yang diam diam melihat Vana keluar pun ikut berjalan keluar.

Taman yang tidak berubah dari dulu, bunga bunga yang sangat terawat mengingat kembali kehidupan Vanca dulu saat ia masih kecil. Bermain bersama saudaranya berlari dan tertawa, Vanca tersenyum mengingat semua kenangan bahagia bersama orang yang ia sayangi.

Vanca berjalan menuju sudut taman, ia terkejut saat melihat beberapa bunga dandelion yang tumbuh disana. Ia ingat bahwa dulu saat dirinya kecil, Vanca pernah membantu sang bunda menanam bunga dan Vanca saat itu baru di belikan biji bunga dandelion oleh sang ayah. Ia pikir bunga itu sudah di gantikan dengan yang lain ternyata tidak.

"Bagus ya bunganya??" Tanya Lila bunda Vanca yang tiba tiba saja sudah berada di sampingnya sambil mengenggam sepotong kue.

"Ah, iya bagus banget bunganya" Ucap Vanca yang sedikit terkejut akan kehadiran bundanya.

"Bunga itu dulu Vanca yang tanam, bunda inget banget tangannya yang kecil dulu bantu bunda buat tanam bunga itu" Senyum Lila sambil melihat tanaman Vanca yang ia bantu rawat.

"Tante sayang sama Vanca?" Tanya Vanca yang membuat Lila terdiam menatapnya, tidak lama setelah itu Lila tersenyum dan mengusap lembut rambut Vanca.

"Nak, ibu mana yang tidak menyayangi anak anaknya. Saya tau bahwa banyak kesedihan yang kami berikan kepadanya, tapi kami benar benar menyesal akan hal itu. Rasanya saya ingin kembali ke masa lalu dan merubah semuanya, saya akan selalu menjaga Vanca dan melindungi dirinya walaupun saya harus melawan mertua saya" Vanca terdiam berusaha untuk tidak menangis di depan bundanya.

Ia ingin sekali memeluk orang yang ada di depannya dan mengatakan bahwa dirinya adalah Vanca. Walaupun sifat mereka dulu pernah membuat nya sakit, tapi Vanca tidak bisa berbohong bahwa ia sangat menyayangi mereka.

"Kamu pasti udah denger cerita tentang Vanca kan? Bunda bisa minta tolong ke kamu??" Tanya Lila yang di angguki oleh Vanca

"Tolong jagain Vanca ya nak, jika Vanca merasa sedih tolong sampaikan bahwa bunda berterima kasih karna sudah bertahan sejauh ini dan tolong bertahan sedikit lagi ya kesayangannya bunda" Kalimat itu untuk Vanca... Tapi saat ini jiwanya berada di tubuh Vana menbuat Vanca semakin ingin memeluk bundanya.

"Terima kasih ya nak, oh ya ayo masuk soalnya dikit lagi hujan" Senyum Lila kemudia berjalan pergi dari sana meninggalkan Vanca yang masih terdiam. Air mata mulai menetes, Vanca tidak sanggup menahan tangisannya.

Dengan cepat tangannya menghapus air mata yang mulai turun, ia tidak ingin ada orang yang melihatnya.

"Jangan di hapus kayak gitu nanti perih" Ucap Melvino yang kini menahan tangan Vanca.

 Vanca menatap Melvino yang kini tersenyum dihadapannya. Tangan Melvino mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi Vanca.

"Hapus air matanya yang lembut kayak gini, biar gak perih oke" Ucap Melvino

"Bunda... Sayang gua Mel" Ucap Vanca sedikit terisak dengan senyuman di wajahnya. Akhirnya ia tau jika kedua orang tuanya sayang kepadanya.

"Iya... Nangis aja gapapa, asalkan itu air mata bahagia gua gak masalah" Ucap Melvino yang kini membawa Vanca kepelukan nya.

Dari kejauhan Darel dan Raka melihat Vanca yang sedang menangis di pelukan Melvino. Mereka menatap sedih adik kecil kesayangan mereka.

"Gua gak bakalan biarin dia sedih lagi" Ucap Raka tersenyum kepada Darel

"Gua setuju" Balas Darel

...

Kini Vanca duduk di sebuah sebuah cafe bersama Melvino yang terlihat asik dengan game yang ada di hpnya.

Setelah kejadian Vanca menangis di taman, ia pamit pulang bersama yang lain tentu nya ada drama antara anak anak keluarga graham yang tidak ingin berpisah dari si bungsu. Dan karna hal itu Vanca harus menyeret mereka pergi dari rumah keluarga Gibson.

Di sini lah Vanca berada berdua bersama Melvino, sementara yang lain harus segera pulang karna ada urusan mendadak.

"Berhenti main game atau nyawa lu yang gua buat berhenti?" Tanya Vanca dengan nada yang lembut tapi Melvino tau dia tidak bercanda

"Hehehe kenapa sih cimol?? Itu makanan yang gua pesenin kenapa gak di makan? Lu kenyang?" Tanya Melvino yang kini memperhatikan Vanca.

"Satu satu dong nanya nya" Kesal Vanca, Melvino yang melihat itu pun gemas. Gemas sampai ingin mencubit ginjal Vanca.

"Berasa ngadepin pacar" Gumam Melvino yang tidak terdengar oleh Vanca.

"Mel lu harus bantuin gua" Ucap Vanca secara tiba-tiba, Melvino yang sedang meminum kopi pun mengernyitkan alisnya bingung.

"Bantuin apa??"

"Ceritain semua yang lu tau tentang Yola dan ibunya" Ekspresi Melvino seketika menjadi serius setelah Vanca mengatakan hal itu. Sejujurnya Vanca sedikit takut dengan tatapan melvino tapi ini demi masa depannya dan Vana.

"Jangan bilang lu mau ikut campur sama hal ini?" Tanya Melvino yang diangguki oleh Vanca

"Karna sekarang gua ada di tubuh Vana, jadi masalah Vana bakalan jadi masalah gua juga. Dan saat kita udah balik ke tubuh masing-masing, gua pengen masalah dia udah selesai" Ucap Vanca yang terlihat bahagia saat mengatakan alasannya kepada Melvino.

"Mel plis bantuin gua, gak sepenuhnya ingatan Vana ada di gua dan sama hal nya dengan Vana. Ada beberapa hal yang kita gak tau tentang diri kita saat ini" Ucap Vanca berusaha membujuk Melvino yang tampak ragu dengan hal itu.

"Kalau lu ikut campur gua rasa ini bakalan makin besar, gua gak pengen lu atau pun Vana luka jadi biarin gua sama yang lain ngurus"

"Gua janji gak akan luka, gua janji bakalan jaga tubuh Vana" Ucap Vanca semangat namun berbeda dengan Melvino.

"Vanca... Kita udah bahas ini kan, bukan karna tubuh Vana tapi ini karna gua sama yang lain khawatir sama lu" Vanca menunduk saat sadar apa yang ia katakan sebelumnya.

"Maaf, tapi beneran deh gua gak bakalan luka" Ucap Vanca yang masih membujuk Melvino.

"Hah... Gua bakalan kasih yang gua tau" Vanca langsung tersenyum mendengar ucapan Melvino

"Tapi ada syaratnya" Vanca merasa sesuatu akan terjadi saat melihat Melvino yang tersenyum aneh kepada dirinya.

...

 Vanca melangkahkan kakinya menuju balkon yang ada di kamarnya, ia mengeluarkan sebatang rokok dan mulai membakarnya.

"Ribet banget masalah lu Vana" Ucap Vanca yang menikmati hembusan angin malam.

"Tapi yang di ucapin Mel beda sama yang di ucapin Yola" Bingung Vanca mengingat semua percakapan yang dia lakukan bersama Melvino.

"Kenapa belum tidur??" Vanca segera membalikkan badanya melihat siapa yang masuk ke kamarnya.

Kaivan berjalan mendekati Vanca sambil membawa jaket miliknya untuk di pasangkan ke tubuh Vanca.

"Pake jaketnya, dingin di luar nanti lu sakit makin petakilan gak sanggup gua seimbangin lu yang petakilan" Ucap Kaivan yang membantu Vanca memakai jaket miliknya

"Gua gak sepetakilan itu ya" Kesal Vanca sambil membuang rokok miliknya yang sudah setengah batang. Kaivan yang melihat rokok milik Vanca pun hanya diam dan fokus kepada Vanca.

"Jangan banyak ngerokok, gak baik buat tubuh lu" Nasihat Kaivan membuat Vanca memutar bola matanya malas.

"Gua baru sekali ngerokok, harusnya lu bicara ke diri lu sendiri yang sering banget ngerokok" Ucap Vanca malas

"Gapapa biar gua aja yang rusak dan lu jangan kayak gua" Ucap Kaivan sambil tersenyum dan mengusap gemas rambut Vanca.

"Dih gaya banget lu" Balas Vanca sementara Kaivan tersenyum menampilkan giginya.

"Lu lagi mikirin apa sih? kayak bisa mikir aja" Tanya Kaivan membuat Vanca yang tadinya terdiam langsung memukul Kaivan dengan kencang

"ngomong sekali lagi gua kasih lem mulut lu biar gak bisa ngomong!" Kesal Vanca

vancaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang