47. Puppeteer

801 105 3
                                        

Jangan lupa vote dan komennya yak 😉

Kaca-kaca tebal penyekat ruang eksekutif di lantai tertinggi Gedung RMV Corp memantulkan lanskap kota yang membisu di bawah guyuran abu-abu sore. Di dalam ruangan bernuansa minimalis-mewah itu, udara terasa begitu pekat, seolah-olah oksigen telah terkuras habis oleh aura dingin yang memancar dari balik meja.

Elio Romarov menyandarkan tubuh tingginya pada kursi eksekutif berlapis kulit hitam. Jemari tangannya yang saling bertaut berada di atas meja, ketat dan kaku. Matanya yang selalu sanggup mengintimidasi lawan bisnis paling tangguh sekalipun—menatap tajam ke arah pintu ganda berbahan kayu yang baru saja terdorong terbuka kasar. Tanpa ketukan. Tanpa permisi.

Arsen melangkah masuk. Kedua tangannya terbenam dalam saku celana kain berpotongan sempurna. Ia menghempaskan punggungnya ke kursi elegan tepat di hadapan meja kerja Elio.

"Kenapa kau memanggilku terburu-buru kemari, Elio?" tanya Arsen.

Elio tidak segera menjawab. Ia menyipitkan matanya, mengamati saudara tirinya itu dalam hening yang mencekam. Aura dingin yang melingkupi Elio seakan sanggup membekukan suhu ruangan hingga beberapa derajat di bawah nol.

"Kau yang mengirimkan foto-foto Marlon dan wanita itu pada Halley, bukan?" tanya Elio. Suaranya tidak keras, tetapi penuh dengan muatan intimider yang amat nyata.

Arsen mengangkat sebelah alisnya. Untuk sepersekian detik, ada riak terkejut yang melintas di bola matanya. Namun, bagaikan seorang pemain poker ulung, raut terkejut itu beremigrasi menjadi cengiran dingin yang sinis.

"Jangan bermain-main denganku, Arsen," lanjut Elio, suaranya kini menggelegar rendah, seperti guruh yang tertahan di balik awan hitam. "Aku tahu betul seberapa licik dan kotornya otakmu itu."

Arsen terkekeh pelan, meluruhkan topeng kesopanannya yang tipis. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menopangkan kedua siku di meja Elio. Matanya yang tadinya berpura-pura tenang kini menyala, memancarkan gabungan antara kemarahan, frustrasi, dan obsesi yang telah lama membara di dadanya.

"Ya, memang aku. Lalu kenapa?" tantang Arsen. Suaranya naik satu oktav, memecahkan keheningan aristokratis ruangan itu. "Aku tidak rela jika Halley bersama Marlon! Pria itu hanya seorang pengawal! Pengawal murahan yang entah datang dari mana! Dia sama sekali tidak pantas berdampingan dengan darah Romarov!"

Arsen mengepalkan tangannya, memukul meja kayu itu hingga menghasilkan bunyi berdentam. "Dan kau tahu pasti, Elio... Aku masih mencintai Halley! Aku sangat mencintainya sampai gila! Apa yang aku lakukan sekarang adalah demi memperjuangkan cintaku yang terenggut secara paksa!"

Brak!

Elio menggebrak meja kerjanya jauh lebih keras. Bunyi benturan itu menggelegar di seluruh penjuru ruangan. Ia berdiri tegak, menjulang dengan postur tubuhnya yang tegap, memancarkan kilat pandangan yang bisa menyamai tebasan pedang.

"Tutup mulutmu, Arsen!" gertak Elio, napasnya berburu. "Kau sudah memiliki keluarga! Kau punya istri dan seorang putra! Masa lalu apa pun yang pernah kau miliki bersama Halley dulu sudah mati dan harus kau lupakan!"

Elio menarik napas panjang. Jemari tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, berjuang keras menetralkan amarah yang hampir menyulut impuls fisiknya untuk melompati meja dan menghajar wajah saudara tirinya itu.

"Jauhi Halley. Dan jauhi Marlon," peringat Elio dengan nada rendah, tebal, dan penuh penekanan yang tak menyisakan ruang sedikit pun untuk bantahan. "Jika kau berani mencoba merusak kehidupan Halley dan bayi di perutnya demi obsesi gila masa lalumu yang menjijikkan itu... aku sendiri yang akan memastikan seluruh bisnis, aset, dan hidupmu hancur tanpa sisa. Keluar dari ruanganku!"

About Time and DestinyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang