49. Earned Trust

868 120 2
                                        

Jangan lupa vote dan komennya yak!

Keesokan harinya, sinar matahari pagi belum sepenuhnya sanggup mengusir kabut dingin yang menyelimuti kota. Berita tentang insiden kekerasan di kontrakan sempit itu memang belum sempat tersebar ke publik, namun foto-foto dan potongan video hasil manipulasi Arsen telah mendarat tepat di meja kerja David Romarov—kepala keluarga besar Romarov yang amat disegani di panggung bisnis dan politik nasional.

Di dalam ruang kerja berpanel kayu tua yang megah dan beraroma cerutu mahal di kediaman utama Romarov, suasana terasa begitu mencekam. David Romarov duduk anggun di kursi kebesarannya. Wajah tuanya yang bergaris tegas tampak begitu dingin. Matanya menyipit, menatap tajam layar tablet yang menampilkan gambar Marlon berlutut di dekat Halina.

Di depan meja kerja, Halley Romarov duduk bersandar lemah di sofa kulit. Kondisi tubuhnya terlihat pucat akibat mual berat dari kehamilannya yang masih muda, ditambah tekanan emosional yang melanda pikirannya sejak semalam. Di samping Halley, Atala tampak memeluk Halley. Di samping sofa, berdiri Elio Romarov yang tampak cemas seraya mengamati gerak-gerik ayahnya.

"Apakah ini pria yang kau pertahankan mati-matian, Halley?" suara David terdengar begitu berat dan berwibawa, menghantam keheningan ruangan bagaikan petir. Ia menggeser tablet itu ke hadapan putrinya.

"Seorang pengawal yang terlibat dalam bentrokan premanisme, menyimpan wanita lain di kontrakan sempit, dan menyembunyikan kebohongan besar darimu?" lanjut David dingin.

Halley memandangi gambar-gambar di layar tablet tersebut. Air matanya mulai menetes mengaliri pipinya yang pucat. Namun kali ini, duka itu bukan sekadar rasa cemburu buta, melainkan perpaduan antara rasa sakit, kebingungan, dan keputusasaan. Ia mengenali wajah wanita dalam foto itu sebagai Halina—wanita dari masa lalu Marlon. Ia juga teringat akan janji manis Marlon kemarin malam yang bersumpah hanya mencintainya.

"Papa... ini pasti ada salah paham," sela Elio cepat, mencoba meredakan situasi. "Arsen berada di balik semua ini. Aku sudah memperingatkannya kemarin agar tidak bertindak gila—"

"Tutup mulutmu, Elio!" potong David dengan ketegasan mutlak yang tak membiarkan sanggahan.

"Aku tidak peduli apa peran Arsen dalam masalah ini! Yang kutahu pasti, pria bernama Marlon ini telah membawa kekacauan, skandal, dan ancaman bahaya fisik ke dalam kehidupan putriku! Dia tidak punya latar belakang keluarga yang jelas, tidak punya harta, dan sekarang reputasinya tercemar oleh tindak kekerasan!"

Tiba-tiba, pintu jati ruang kerja yang berat terdorong terbuka. Marlon melangkah masuk dengan tenang.
Meskipun ia baru saja menghabiskan sisa malamnya menjalani pemeriksaan ketat di kantor polisi—yang berhasil diselesaikannya setelah Tuan Bill mengerahkan tim pengacara terbaik untuk membuktikan tindakan pembelaan diri mutlak—wajah Marlon tampak lelah. Namun, langkah kakinya tetap mantap dan pandangan matanya tidak memancarkan sedikit pun keputusasaan atau rasa takut.

"Marlon!" seru Halley pelan, ada nada lega sekaligus cemas dalam suaranya.

Marlon menghentikan langkahnya beberapa meter di depan meja kerja David. Ia kemudian membungkukkan tubuhnya memberi penghormatan secara anggun—sebuah gestur kebangsawanan tinggi Kerajaan Siregal yang refleks muncul dari dalam dirinya.

"Tuan Romarov," sapa Marlon dengan suara rendah namun mantap.

David berdiri dari kursinya, menyilangkan kedua tangannya di belakang punggung, lalu menatap Marlon dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang sarat kemarahan.

"Berani sekali kau menginjakkan kaki di rumahku setelah kekacauan dan skandal yang kau buat semalam," tegur David tajam.

"Saya datang kemari bukan untuk membela diri atas kebohongan dan narasi palsu yang disebarkan oleh Arsen," sahut Marlon tegas. Matanya beralih sejenak menatap Halley, menyalurkan kehangatan dan ketenangan yang seketika menenangkan jiwa wanita itu. "Saya datang untuk memastikan Halley dalam keadaan aman, dan untuk menyampaikan kebenaran secara langsung kepada Anda."

About Time and DestinyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang