46. Bitter Seeds

1K 134 15
                                        

Halo semuanya!

Maaf banget ya, baru bisa bawa kelanjutan cerita ini setelah sekian lama menghilang. Saking lamanya hiatus, aku sempat amnesia sendiri sama alur dan nama karakter ciptaanku! Akhirnya terpaksa marathon baca dari awal lagi deh 😆

Jujur, ada sedikit rasa gugup. Kalau nanti kelanjutannya kurang memenuhi ekspektasi, aku mohon maaf ya... Tapi yang jelas, bab ini kutulis dengan seluruh usaha terbaikku. Selamat membaca kembali

Jangan lupa vote dan komen!


Aroma antiseptik yang tajam menyengat hidung, memadukan bau pembersih lantai dengan hawa dingin AC rumah sakit yang menusuk tulang. Di balik pilar pualam yang dingin di ruang tunggu utama, Arsen berdiri tak bergeming. Siluet tubuhnya yang tinggi dan terbalut jas gelap menyatu sempurna dengan bayangan. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyum miring yang dipenuhi kepuasan berbisa.

Tatapannya terkunci rapat pada dua figur yang baru saja melangkah melewati pintu kaca otomatis. Marlon dan seorang perempuan.

Secara tak sengaja, seorang pejalan kaki yang terburu-buru menyenggol bahu perempuan itu dari arah depan. Dengan refleks kilat—sebuah insting bertahan hidup dan proteksi yang telah terpatri bertahun-tahun dalam darahnya—tangan kanan Marlon melingkar kokoh di pinggang perempuan itu, menariknya rapat ke dada.

Bagi orang awam yang melintas, gestur itu sama sekali tidak terlihat seperti tindakan refleks seorang pengawal pribadi. Itu adalah pemandangan dua insan yang terikat intim, sebuah kehangatan alami yang menyuarakan perlindungan tanpa batas.

Arsen merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel pintar berspesifikasi tinggi dengan kamera berlensa tajam. Tanpa suara, jemarinya bergerak cepat. Ia mengambil beberapa foto dari sudut yang sangat presisi—sudut yang secara manipulatif menyamarkan ketegangan dan memperlihatkan kedekatan mereka dari samping. Di layar ponsel, foto itu merekam momen di mana wajah Marlon berada begitu dekat dengan pelipis perempuan itu, seolah-olah ia sedang berbisik mesra sembari memeluk pinggangnya rapat-rapat.

"Pengawal sialan... kau pikir kau sudah menang?" gumam Arsen, dadanya naik turun menahan gelombang kemarahan yang kini berganti menjadi dengusan puas. "Kau telah menggagalkan seluruh rencanaku untuk mendekati Halley kembali. Tapi lihat dirimu sekarang... kau sendiri yang menggali lubang kuburmu."

Ia memandangi hasil jepretannya sekali lagi sebelum memasukkan kembali ponsel itu ke dalam saku. matanya menyempit menatap punggung Marlon yang perlahan menghilang di seberang area parkir.

"Kau pikir pria seperti dirimu bisa naik kelas dan diterima di lingkaran dalam keluarga Romarov? Jangan harap, Marlon. Aku akan memastikan kau merangkak kembali ke selokan tempatmu berasal," desis Arsen, emosi membakar matanya sebelum ia berbalik dan menghilang di antara kerumunan pengunjung rumah sakit.

*****

Mobil sedan hitam itu membelah kemacetan kota dengan ketenangan yang dingin. Di dalam kabin, hanya terdengar suara dengung halus mesin dan desis AC. Marlon mencengkeram kemudi dengan satu tangan, sementara matanya sesekali melirik spion tengah, memantau jalanan di belakang mereka.

Di kursi penumpang sampingnya, Halina duduk merapat ke pintu. Tangannya yang terbalut perban diletakkan dengan hati-hati di atas pangkuan. Kebingungan, ketakutan, dan keasingan atas gedung-gedung menjulang serta kendaraan besi di dunia abad ke-21 ini seolah memudar, tergeser oleh pergolakan emosi yang jauh lebih menyiksa di dalam dadanya.
Ia menatap profil samping wajah Marlon—garis rahang tegas yang kaku, mata cokelat tua yang kini memancarkan kewaspadaan modern, dan tubuh tegap yang dulu selalu mengenakan baju zirah besi di Kerajaan Siregal.

About Time and DestinyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang