Jangan lupa vote dan komennya yak 😉
Kehidupan setelah badai selalu membawa aroma keheningan yang menenangkan, bagaikan tanah kering yang baru saja disiram hujan lebat. Tiga bulan telah berlalu, Arsen kini sedang menjalani proses hukumannya dengan penuh kepasrahan, sementara Valerie dengan setia merawat Nathan sembari rutin mengunjunginya. Hubungan mereka yang dahulu hancur berkeping-keping kini perlahan ditata kembali di atas pondasi kejujuran dan penyesalan yang tulus.
Namun, Takdir belum selesai merajut kisahnya. Ketika bayang-bayang masa lalu telah sepenuhnya sirna dan kedamaian mulai menyelimuti kehidupan Halley dan Marlon, sebuah peristiwa tak terduga kembali terjadi—peristiwa yang tidak hanya membawa duka, melainkan mengubah alur hidup Marlon secara mutlak.
Pagi itu, suasana kediaman Tuan Bill yang sederhana namun tenang diselimuti duka yang mendalam, sekaligus kehangatan yang syahdu. Pria tua dermawan, pelindung, sekaligus sosok ayah bagi Marlon itu telah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta. Tuan Bill menghembuskan napas terakhirnya dengan sangat tenang di dalam tidur, tanpa rasa sakit sedikit pun, dengan senyuman tipis terpaut di wajah tuanya yang teduh.
Marlon berdiri bersandar pada ruang tengah kediaman Tuan Bill. Dadanya bergemuruh, menahan duka yang tertahan di balik matanya yang memerah. Bagi Marlon, Tuan Bill bukan sekadar majikan yang menyewakan jasanya sebagai pengawal pribadi selama beberapa bulan terakhir. Pria tua itu adalah sosok mentor, pelindung, dan manusia pertama di dunia modern yang memperlakukannya dengan harkat serta martabat penuh.
Prosesi pemakaman berlangsung dengan sangat khidmat, dihadiri oleh tokoh-tokoh terkemuka, kerabat dekat, serta keluarga Romarov. David Romarov berdiri tegak di samping Marlon, menepuk bahu pria muda itu dengan kehangatan seorang ayah yang memahami rasa kehilangan sang anak.
Seusai pemakaman, pembacaan surat wasiat digelar di ruang tengah kediaman Tuan Bill. Notaris senior keluarga Bill membacakan dokumen legasi tersebut di hadapan para saksi, Halley, dan Marlon.
"...Dan kepada Marlon," suara notaris bergema jernih di dalam ruangan yang hening. "Atas kesetiaan yang tak tergoyahkan, keberanian jiwa yang melampaui tugas seorang pengawal, serta rasa hormat murni yang telah kau tunjukkan selama mendampingi sisa-sisa hari hidupku—aku mewariskan 40 persen saham milikku dan seluruh Aset Real Estat di kawasan selatan.
Notaris itu menurunkan kacamata bacanya, menatap Marlon yang terpaku seraya melanjutkan membaca kutipan pesan pribadi Tuan Bill:
"'Marlon, anakku... ketulusan dan martabatmu adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Aku tidak memiliki seorang putra untuk meneruskan nilai-nilai hidupku. Anggaplah ini sebagai restu dan warisan seorang ayah kepada anaknya. Gunakanlah untuk melindungi wanita yang kau cintai dan membangun masa depan keluargamu.'"
Marlon terdiam, keheningan merayap di dadanya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes perlahan menelusuri pipinya. Ia menundukkan kepala, memanjatkan doa mendalam untuk jiwa Tuan Bill. Di sampingnya, Halley menggenggam erat jemari Marlon, menyalurkan kekuatan dan cinta yang tak terbatas.
Bahkan David Romarov mengangguk pelan penuh rasa hormat. Kini, tidak ada lagi satu orang pun di kota itu yang bisa memandang Marlon sebelah mata. Marlon bukan lagi sekadar mantan pengawal tanpa latar belakang; ia adalah seorang pria terhormat dengan kekuasaan, kebaikan, dan harta berlimpah yang berdiri sejajar di jajaran elit masyarakat.
*****
Satu bulan kemudian
Langit di atas katedral tua berkubah megah tampak begitu bersih, berwarna biru jernih tanpa setitik awan pun. Sinar matahari pagi jatuh menyirami pelataran gereja yang dipenuhi dekorasi bunga mawar putih, lily, dan rangkaian daun eukaliptus yang menyebarkan aroma harum menenangkan. Hari ini adalah hari di mana dua jiwa yang telah melintasi badai, prasangka, dan pengorbanan akan disatukan dalam ikatan suci pernikahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
About Time and Destiny
FantasiSebagai Jenderal Militer Kekaisaran Siregal, sosok Marlon begitu disegani dan dihormati. Namun, reputasi agung yang ia bangun dengan darah dan keringat hancur dalam sekejap mata. Ia dituduh melakukan makar-dituding meracuni Kaisar Iskandar, sang pem...
