Jangan lupa vote dan komennya yak 😉
Marlon membanting pintu mobil sedan hitamnya hingga bersuara dentuman keras yang membelah keheningan malam. Begitu kakinya memijak aspal, air hujan yang mengucur deras langsung menyergapnya, terasa bagaikan ratusan jarum es yang menusuk-nusuk kulit. Angin malam bertiup kencang, membawa aroma tanah basah dan ancaman yang samar. Namun, perhatian Marlon terfokus penuh pada kontrakan kecil di ujung gang sempit itu. Dari dalam bangunan kayu bersahaja tersebut, terdengar jeritan histeris seorang wanita—suara Halina—disertai gelak tawa bernada kejam dan sarat intimidasi.
Dengan langkah cepat tanpa menimbulkan suara, Marlon menerobos masuk. Kecepatan dan keheningan pergerakannya adalah hasil dari latihan bertahun-tahun di medan perang yang tak ampuni kesalahan sekecil apa pun. Saat pintu depan yang lapuk itu berhasil ditepisnya, pemandangan di ruang tamu membuat matanya menyempit.
Ruangan kecil itu sudah dalam keadaan berantakan. Kursi-kursi kayu terbalik, vas bunga murah pecah berkeping-keping di atas lantai, dan debu berterbangan di udara yang lembap. Tiga orang pria bertubuh kekar dengan tato menjalar hingga ke leher sedang menyudutkan Halina ke sudut ruangan. Salah satu dari mereka—pria berbadan paling besar dengan kepala botak dan bekas luka melintang di pipi kirinya—memegang pisau lipat yang mengkilap keperakan di bawah lampu pijar yang berkedip-kedip redup.
"Lepaskan dia!" suara Marlon menggema keras, memotong ketegangan ruangan.
Suara itu bukan sekadar bentakan biasa. Suara tersebut sarat dengan kejelasan, bobot, dan aura dominasi mutlak—sebuah intonasi komando yang biasa ia gunakan untuk memimpin ribuan prajurit di medan tempur. Ketiga pria itu terkejut dan berbalik seketika, terperanjat oleh kehadiran sosok tinggi tegap yang tiba-tiba muncul bagaikan bayangan malam.
"Oh, lihat siapa yang datang. Sang pahlawan sudah tiba," ejek pria berkepala botak itu sambil tersenyum miring, menampilkan deretan gigi bertambak hitam.
"Hajar dia sampai tak bisa berdiri!"
Dua pria bertato di sampingnya langsung melompat maju tanpa ragu, masing-masing memegang tongkat besi berkarat. Mereka mengira sedang berhadapan dengan seorang pengawal jalanan biasa yang mengandalkan otot belaka. Namun, mereka tidak menyadari bahwa pria yang berdiri tenang di hadapan mereka adalah Marlon—mantan Panglima Perang Tertinggi Kerajaan Siregal, seorang veteran yang telah menumpahkan darah dan memenangi ratusan pertempuran dahsyat sebelum terlempar ke dunia modern ini.
Pria pertama mengayunkan tongkat besi ke arah kepala Marlon dengan kekuatan penuh. Kecepatan ayunan itu cukup untuk memecahkan tengkorak manusia biasa. Namun, di mata Marlon, pergerakan itu terasa begitu lambat dan penuh celah. Dengan gerakan terukur yang sangat efisien, Marlon hanya memiringkan kepalanya selangkah ke kiri. Tongkat besi itu menebas udara kosong. Tanpa membuang momen, Marlon melangkah masuk ke dalam area pertahanan lawan dan mendaratkan pukulan telapak tangan terbuka tepat di ulu hati pria tersebut.
Brak! Pria itu menahan napas seketika, matanya mendelik lebar menahan rasa sakit luar biasa yang menghentikan fungsi organ dalamnya sejenak, sebelum akhirnya tubuh kekar itu ambruk tak berdaya ke lantai kayu.
Pria kedua mencoba mengambil serangan dari bawah dengan tusukan pisau secara cepat. Marlon memiringkan pinggulnya, menangkap pergelangan tangan lawan dengan cengkeraman bagaikan catut besi, lalu memutarnya 180 derajat ke arah luar.
Krak! Bunyi patahan tulang sendi terdengar jelas dan mengilukan. Pisau lipat itu terlepas dan jatuh ke lantai. Tanpa memberi ruang sedikit pun untuk bernapas, Marlon memutar tubuhnya dan memberikan tendangan memutar melayang tepat ke dada pria tersebut. Udara terdorong keluar dari paru-paru lawan saat tubuhnya terhempas keras menabrak dinding kayu hingga retak, lalu terkulai pingsan.
KAMU SEDANG MEMBACA
About Time and Destiny
FantasySebagai Jenderal Militer Kekaisaran Siregal, sosok Marlon begitu disegani dan dihormati. Namun, reputasi agung yang ia bangun dengan darah dan keringat hancur dalam sekejap mata. Ia dituduh melakukan makar-dituding meracuni Kaisar Iskandar, sang pem...
